
Striker Barcelona Samuel Eto'o yang mewakili negaranya Kamerun tengah beradu dengan Michael Essien (Ghana) pada laga Piala Afrika 2008. foto-foto: ap
uka tim Nigeria atas kekalahan 1-2 dari tuan rumah Ghana di babak perempat final Piala Afrika 2008, Minggu (3/2) lalu, justru disambut suka cita sebagian klub di Eropa. Suka cita itu cukup beralasan, karena tersingkirnya Nigeria berarti membuat sebagian pemain dapat segera kembali membela klub masing-masing, yang notabene adalah klub-klub Eropa. Tak hanya 'Elang Super' Nigeria, sejumlah klub juga sangat menantikan peluru mereka segera kembali dari Piala Afrika.
Ajang terbesar sepakbola di benua hitam tahun 2008 ini memang luar biasa. Berbeda dengan dua tahun silam, ketika Piala Afrika digelar di Mesir. Saat itu, diboikot para pemain yang merumput di Eropa. Tahun ini justru banyak pemain yang rela pulang kampung membela negaranya.
Beberapa negara terpaksa harus berseteru dengan klub-klub Eropa untuk memperebutkan pemain. Kasus yang paling santer adalah ketika tim 'Bafana-Bafana' Afrika Selatan mengajukan protes ke FIFA atas tindakan klub liga utama Inggris Everton yang mencoba menahan gelandang Stephen Pienaar agar tidak membela negaranya.
Cerita mengenai rebutan pemain antara klub dan negara Afrika, merupakan kisah klasik yang selalu terulang setiap menjelang Piala Afrika. Pelaksanaan turnamen yang telah dimulai sejak 1957 itu selalu berbenturan dengan kompetisi liga-liga Eropa yang sedang memanas, yakni bulan Januari hingga awal Februari.
Manajer Everton, David Moyes pernah berkomentar kepada Asosiasi Sepakbola Inggris agar meliburkan Liga Utama selama Piala Afrika berlangsung. Usulan itu terlontar karena Moyes, harus melepas tiga pemain kuncinya, Joseph Yobo, Ayegbeni Yakubu (Nigeria), dan Stephen Pienaar (Afrika Selatan).
"Anda tidak mungkin menang dalam setiap pertandingan, jika Anda tidak menurunkan pemain-pemain terbaik, sebaiknya liburkan saja," kata Moyes.
Tak hanya Everton, klub-klub Eropa lain seperti klub liga Prancis Nice harus kehilangan lima pemainnya, mereka adalah Onyekachi Apam (Nigeria), Bakari Kone (Pantai Gading), Cedric Kante dan Drissa Diakite (Mali), serta Joseph-Desire Job (Kamerun).
Terlepas dari masalah perebutan pemain itu, dominasi pemain yang berlaga di Eropa memang menjadi catatan tersendiri di Ghana 2008. Sebanyak 62 persen pemain-pemain yang berlaga di Ghana adalah para pemain yang merumput di Liga Eropa.
Sebanyak 348 pemain yang didaftarkan 16 negara peserta putaran final, 216 pemain datang dari klub-klub Eropa. Nigeria merupakan negara yang tercatat 100 persen menggunakan pemain yang merumput di Eropa. Sebanyak 23 pemain merumput di klub-klub Eropa.
Pantai Gading dan Senegal berada di urutan kedua dengan 22 pemain. Ghana dan Kamerun membawa 20 pemain Eropanya. Sebaliknya hanya ada satu negara yang "Murni" menggunakan pemain lokal, yakni Sudan.
Sementara itu, daftar penyumbang pemain paling banyak di piala Afrika 2008 adalah dari Liga Prancis dengan 58 pemain. Kontribusi Liga Prancis yang cukup besar disebabkan karena negara tersebut memiliki kedekatan hubungan sejarah dan bahasa. Sebagian besar negara Afrika pernah menjadi koloni Prancis. Bahasa Prancis pun kini dipakai oleh banyak negara, khususnya di Afrika Utara, Barat, dan Tengah, seperti Senegal, Guinea, Mali, Pantai Gading dan Benin.
Kontribusi kedua berasal dari Liga Inggris dengan 39 pemain dan Jerman (25). Negara-negara lain yang jadi kiblat sepakbola, seperti Italia, Spanyol, dan Belanda, malah tidak terlalu banyak.

Junior Agogo (Ghana) saat berusaha melewati hadangan kiper Kamerun Carlos Kameni pada babak semifinal Piala Afrika.
Pelatih Eropa Juga
Seri-A hanya mengirim 10 pemain atau sama dengan Turki. Spanyol menampilkan sembilan pemain, sedangkan Liga Belanda bahkan hanya satu pemain.
Aroma Eropa jelas sangat menyengat pada ajang sepakbola dua tahunan itu karena pelatih tim-tim yang berlaga juga banyak di dominasi oleh pelatih dari benua biru itu. Dari 16 negara peserta, 12 pelatih berasal dari Eropa.
Hingga menjelang partai final Piala Afrika, Minggu (10/2), peserta yang lolos dari penyisihan grup adalah tim-tim yang diperkuat oleh sejumlah pemain yang merumput di Liga Eropa. Sementara prestasi tim yang tidak didominasi oleh pemain yang merumput di Liga Eropa hanya mandek di peringkat paling buncit klasemen penyisihan grup. Benin, dan Sudan bahkan tidak mendapatkan angka sama sekali dan menjadi juru kunci di Grup B dan C.
Tak pelak jika empat tim yang masuk ke semifinal, Pantai Gading, Mesir, Kamerun dan tuan rumah Ghana merupakan tim-tim yang bertabur bintang Eropa. Sebut saja, trio bintang klub papan atas Chelsea, Didier Drogba dan Salomon Kalou (Pantai Gading), serta Michael Essien (Ghana). Dari Kamerun ada penyerang Barcelona Samuel Eto'o, dan striker Hamburg SV Jerman yang membela Mesir, Mohamed Zidan.
Kualitas para pemain itu memang tidak diragukan lagi, karena mereka sudah terbiasa dengan pola latihan dan permainan Eropa. Tipikal pemain Afrika yang dikenal cepat dan memiliki kekuatan dipadukan dengan kolektivitas tim ala Eropa, hasilnya sejak turnamen dimulai 20 Januari lalu, dominasi bintang-bintang tersebut tidak dapat dielakkan. Hal itu, dapat dilihat dari daftar pencetak gol terbanyak yang diraih oleh Samuel Eto'o dengan lima gol.
Namun mantan pemain Nigeria, Daniel Amokachi melihat kehadiran bintang-bintang dari Eropa itu justru menurunkan kualitas Piala Afrika. Para pemain itu tak ubahnya seperti tentara bayaran yang disewa oleh negaranya sendiri untuk meraih juara.
Penyerang andalan 'Elang Super' saat menjuarai Piala Afrika 1994 itu mencontohkan, kualitas pemain negaranya yang tidak memiliki komitmen dan totalitas dalam bermain. Menurutnya, para bintang Super Eagles tak tampil sepenuh hati karena takut cedera yang bisa membuat karier mereka di klub berantakan. Selain itu, tenaga mereka terkuras habis sebelum tampil di Piala Afrika 2008.
"Seandainya saja para pemain memberikan 65-70 persen kemampuan mereka, saya yakin kami lolos ke final. Apalagi kami memiliki lini tengah dan depan yang begitu bagus," ujar Amokachi seperti dikutip Sportinglife.
Masalah minimnya komitmen dan totalitas itu, lanjut Amokachi, sebenarnya bukan hanya menerpa Nigeria. Tapi, juga hampir semua kontestan Piala Afrika 2008 yang bergantung kepada para 'tentara bayaran' yang mencari nafkah di Eropa.
Masalah tersebut, terang Amokachi, adalah dampak dari kian berubahnya sepakbola menjadi ladang industri dan bisnis.
"Klub yang membayar pemain dan mereka dibayar sangat tinggi. Jadi, tak heran jika benak mereka tertinggal di Eropa, meski badan mereka sudah ada di Afrika," ungkap Amokachi. [SYH/N-5]