SUARA PEMBARUAN DAILY

Pencalonan Hillary-Obama, Buah Perubahan Masyarakat Amerika

AFP/Gabriel BouysBarrack Obama dan Hillary Clinton

Bagi warga Amerika Serikat (AS), pemilu 2008 menandai datangnya era baru karena untuk pertama kalinya sepanjang sejarah AS, ada perempuan dan keturunan Afro-Amerika yang bakal jadi presiden. Kandidat perempuan Hillary Rodham Clinton dan kandidat yang tidak berkulit putih Barack Obama, bertarung di kubu Demokrat untuk memperebutkan kursi Gedung Putih.

Kehadiran Hillary dan Obama, bukanlah fenomena biasa saja. Jika memenangi pertarungan, sejarah baru perpolitikan AS bakal ditorehkan. Hillary akan menjadi presiden perempuan AS pertama. Sedangkan Obama menjadi presiden AS pertama yang berkulit hitam. "Ini hal baru dalam budaya politik Amerika," ungkap Kepala Biro ABC Margaret Conley di Jakarta, Rabu (6/2).

Tak heran kalau pemilu kali ini disambut antusiasme yang tinggi. Conley bukan satu-satunya warga AS yang antusias terhadap pemilu 2008. Rakyat AS termasuk mereka yang bermukim di Jakarta, umumnya ingin ada hari esok yang lebih baik daripada hari kemarin. Rakyat terutama menghendaki perbaikan ekonomi. Khususnya realisasi perluasan lapangan pekerjaan.

Mantan anggota Kongres 1991-1995 dari Partai Demokrat, Mike Kopetski, juga berpendapat serupa. Bagi Kopetski, anggota Kongres yang mewakili Distrik Oregon, pemilu 2008 memang luar biasa. "Rakyat terlibat aktif dalam kampanye-kampanye untuk mendorong perubahan," ungkap Kopetski.

Pencalonan Obama, seorang kandidat yang pernah bermukim di Jakarta, menyebabkan perhatian warga Indonesia terhadap hajatan demokrasi di AS semakin besar. Sebaliknya, perhatian masyarakat dunia terhadap Indonesia juga semakin besar.

Evolusi Sistem

Pencalonan Hillary-Obama menjadi salah satu gambaran tentang sistem yang berevolusi. Sistem yang ada senantiasa berubah sedikit-sedikit.

Sistem partai politik, pada awalnya tidak disukai oleh para bapak bangsa. Tetapi, kira-kira 20 tahun sesudah merdeka tahun 1776, AS punya sistem politik.

Di zaman Perang Sipil, ada sebuah kasus yang kemudian lazim disebut Dred Scott Decision. Pada 1846, Dred Scott dan istrinya, Harriet, melayangkan gugatan untuk meraih kebebasan mereka di St.Louis Circuit Court. Gugatan tersebut mengawali pertarungan hukum yang berakhir di Mahkamah Agung AS.MA menyatakan Scott tetap seorang budak. "Mereka menyatakan budak atau orang kulit hitam adalah barang atau hak milik," ungkap Direktur Perpustakaan Kongres untuk Asia Tenggara dan Timor Timur William P.Tuchrello.

Keputusan MA tersebut menyulut ketegangan antara negara bagian yang bebas perbudakan dengan mereka yang masih memberlakukan perbudakan. Di zaman Perang Sipil, orang kulit hitam tidak punya hak sendiri.

Sekitar tiga atau lima tahun setelah itu, Presiden Abraham Lincoln menetapkan Amendemen ke-13 yang menyebutkan tentang kesetaraan. Meskipun konstitusi diamendemen, secara kultural tidak ada perubahan drastis. Baru 100 tahun sesudah Presiden Lincoln melakukan amendemen, sistem mulai berubah.

Tuchrello menyebutkan, abad 20 paling penting karena terjadi sejumlah amendemen konstitusi tentang beberapa hal yang diperjuangkan oleh Lincoln 100 tahun sebelumnya.

Tiga amandemen konstitusi pada abad 20, yakni Amendemen ke-13 tentang kebebasan bagi warga kulit hitam, Amandemen ke-15 tentang warna kulit, Amandemen ke-19 tentang hak-hak perempuan.

Sesudah Perang Dunia II, sejumlah amendemen konstitusi kembali dilakukan. Dalam Amendemen ke-22, diberlakukan batas waktu bagi presiden maksimal delapan tahun. Sistem pemilihan pendahuluan (primary) diberlakukan setelah Amendemen ke-24. Amendemen ke-66 menetapkan warga berusia 18 tahun ke atas diperbolehkan ikut pemilu.

Mengacu perubahan-perubahan tersebut, tidak berlebihan apabila pemilu 2008 adalah era baru karena ada calon presiden perempuan dan calon berkulit hitam yang pertama.

Perubahan Amerika?

Harapan perubahan terus disuarakan. Janji-janji diobral para kandidat. Namun, benarkah perubahan bakal terwujud? Untuk kebijakan makro, kalangan pengamat yakin tidak akan ada perubahan di dalam strategi nasional AS. "Hanya masalah-masalah yang dekat dengan hati calon presiden sajalah tampaknya yang akan termanifestasikan saat ia menjabat nanti," perkiraan Ketua Pusat Studi Kajian Wilayah Amerika (KWA) FISIP Universitas Indonesia Suzie Sudarman.

Hillary, misalnya, sangat memfokuskan perhatian pada masalah perlindungan anak-anak, kesehatan, pemberdayaan perempuan, serta pendidikan. Bisa dipastikan, penyaluran bantuan US Agency for International Development untuk Indonesia akan diwarnai isu-isu tersebut apabila Hillary berhasil memenangi pemilu 4 November. Tetapi menyangkut strategi makro, para kandidat sepakat mereka tidak harus kelihatan berbeda.

Jika dicermati, sebenarnya wajar apabila isu perubahan disosialisasikan oleh para kandidat, khususnya Obama yang mengusung ikon "Change!" Mengingat karakteristik orientasi negara itu yang sangat individualistis maka "perubahan" memang bisa digelorakan oleh seseorang. "Tetapi, bila menyangkut lembaga-lembaga yang sudah mapan, Obama tetap harus tawar-menawar dengan kebiasaan masa lalu yang mencirikan sebuah negara yang bernama AS. Ia akan terkendala di situ," Suzie menandaskan. Ada sejumlah hal yang hingga kini tidak bisa disentuh oleh presiden siapa pun yang disebut dengan Sacred Cause. Misalnya, keamanan sosial (social security) dan Medicax.

"Untuk perubahan secara keseluruhan, kandidat yang bertarung membutuhkan segmen masyarakat yang menjadi landasan stabilitas AS," kata Suzie. Ini terlihat pada Obama yang memobilisasi kaum muda dan pemilih perempuan, atau pun mobilisasi Hillary terhadap kelompok Hispanik dan kelas pekerja.

Obama dengan jeli mencium adanya Generasi Milenium. "Maka, suara para pemilih berusia 18-45 tahun jatuh ke tangan Obama," ia menyebutkan. "Ini strategi yang jitu. Tidak disangka-sangka, strategi ini bisa mendongkrak kandidat yang baru sama sekali yakni Obama," kata Suzie.

Walapun menjadi kandidat presiden perempuan AS yang pertama, Hillary harus diakui menyimpan sejarah kurang menguntungkan, ketika suaminya, Bill Clinton, hampir di-impeach akibat skandalnya. Penguasaan segmen masyarakat yang menjadi landasan stabilitas AS terbukti sangat penting dalam pertarungan menuju Gedung Putih. Indonesia sepatutnya memetik pelajaran ini. [SP/Elly Burhaini Faizal]


Last modified: 8/2/08