erempuan berusia 18 tahun itu hanya menginginkan perubahan. Namun harapan itu sirna seketika. Niat mengubah nasib keluarga, malah berbuah malapetaka. Shandra, bukan nama sebenarnya, menjadi korban dari sindikat perdagangan perempuan.
Setiap hari, sedikitnya dia terpaksa melayani nafsu 8 sampai 13 pria. Musibah itu menimpa dirinya saat berada di Malaysia, kurang lebih sekitar tiga bulan.
Musibah sudah terjadi dan sulit terobati. Anita, juga bukan nama sebenarnya, rekan Shandra di kampung, juga mendapat perlakuan tidak manusiawi.
"Saya tidak tahu secara persis, tempat kami ditampung. Berada di sana seperti dalam neraka. Selalu saja ada ancaman. Terkadang selalu terjadi pemukulan," ujar Shandra kepada SP saat ditemui di tempat tinggalnya di Pasar V Tembung, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Perempuan malang ini pun menangis. Imbalan dari pria yang dilayani diambil germo.
"Selama berada di sana tidak pernah dikasih uang. Perempuan dan pria yang menjual kami tidak mau mengerti, bagaimana sakitnya kami selama dipaksa melayani. Mulai dari pagi sampai malam hari, penyiksaan itu datang bertubi-tubi," katanya.
Bekerja di Malaysia
Shandra bercerita, musibah itu berawal dari perkenalannya dengan perempuan separuh baya, berpenampilan seperti orang berada di Jalan Aksara, Medan, pertengahan Agustus 2007.
Perempuan bernama Dewi yang berusia sekitar 30 tahun itu langsung akrab dengan mereka. Shandra dan Anita pun terbuai, apalagi setelah diajak makan dan jalan-jalan. Tak hanya itu, keduanya juga dibelikan pakaian. Singkat cerita, Dewi mengaku sedang mencari perempuan untuk dipekerjakan sebagai karyawan di rumah makan di Malaysia. Gaji yang ditawarkan sekitar 800 ringgit Malaysia.
Seusai pertemuan itu, ketiganya berjanji bertemu sepekan kemudian. Dewi berjanji memberi kabar, apakah keduanya diterima bekerja. Sebelum berpisah, perempuan itu berpesan agar pertemuan di antara mereka jangan diberitahukan kepada orang lain, termasuk itu keluarga. "Ia mengingatkan itu, karena kami belum pasti diterima," imbuh Anita.
Kedua korban menuruti permintaan perempuan tersebut. Mereka akhirnya bertemu kembali. Ketika itu, Dewi mengaku sedang tergesa-gesa, mempersiapkan diri untuk berangkat ke Malaysia. Dia mengaku menyempatkan diri menemui Shandra dan Anita karena sudah berjanji. "Maaf ya, saya datang agar kalian berdua tidak kecewa. Tidak bilang saya ingkar janji ataupun pembohong," ujar Anita mengulangi ucapan Dewi.
Tidak lama kemudian, Dewi kembali berpura-pura menyatakan tidak tega meninggalkan kedua gadis itu. "Kalau tidak, begini saja, biar saya ongkosi deh berangkat ke Malaysia. Apa kalian mau berangkat? Jalan-jalan saja dulu, sambil melihat pekerjaan untuk kalian, apakah cocok atau tidak. Kalau merasa tidak cocok, kalian boleh pulang nantinya," ucap Dewi, seperti ditirukan Anita.
Anita dan Shandra pun akhirnya berangkat ke Malaysia, sepekan kemudian. Rupanya Dewi sudah menyiapkan berbagai keperluan, termasuk paspor. Sesampainya di negara tetangga itu, mereka langsung dibawa ke sebuah tempat. Malapetaka menimpa Anita dan Shandra di tempat itu.
"Kami akhirnya dapat pulang setelah Shandra berpura-pura sudah hamil. Saat itu dia memang sakit, tubuhnya lemah," ujar Anita. Karena perempuan hamil kurang diminati pria hidung belang di Malaysia, Anita diperkenankan membawa Shandra pulang. Mereka hanya diberi tiket dan uang untuk ongkos pulang.
Setibanya di kampung halaman, mereka menceritakan kejadian tersebut. Kasus itu dilaporkan ke Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Mapolda Sumut). Setelah diselidiki, perempuan penjual gadis belia itu ternyata warga yang tinggal kawasan Deli Serdang. Polisi berhasil menangkapnya dan diajukan ke pengadilan. Dewi kini meringkuk di penjara. [SP/Arnold H Sianturi]