SUARA PEMBARUAN DAILY

GARIS GAYA

Kain Tenun dari 200 Tahun Lalu

istimewa

Di penghujung tahun 2007, Yayasan Karema (Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara) menggelar peragaan busana kain tenun Bentenan, kain asal Minahasa, kreasi perancang muda Defrico Audy (Audy Kalalo). Tidak kurang dari 30 pakaian siap pakai termasuk di dalamnya kebaya-kebaya yang dipadu-padankan dengan kain tenun Bentenan digelar pada pameran di Jakarta Convention Center.

Ketua Umum Karema, On Markadi Tambuwun menjelaskan, " Kini kain tersebut telah berhasil ditenun di desa Kolongan Atas, Sonder, Sulawesi Utara oleh para pemuda-pemudi desa tersebut. Bahkan kain Bentenan sudah dapat diterima kembali oleh masyarakat Sulawesi Utara dengan memakainya sebagai pakaian wajib bagi pegawai negeri sipil.

"Setelah sekitar dua tahun kami bergelut, akhirnya kain tenun Bentenan yang sudah hampir punah, bak harta karun yang terpendam dapat kembali ke bumi Pertiwi," ungkap Joan Henuhili-Raturandang, salah seorang pendiri yayasan tersebut. Dijelaskan, kain tenun Bentenan yang tersisa di dunia hanya 28 lembar. Sebagian besar berada di Jerman dan Belanda. Sedangkan di Indonesia hanya tersisa dua lembar yang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Oleh Yayasan Karema, kain tenun Bentenan dibuat kembali dan dikembangkan dengan warna-warni masa kini. Yayasan juga membuat motif bentenen dalam bentuk cetak agar harganya terjangkau oleh masyarakat luas. Bukan saja motif dari Minahasa, namun yayasan juga sudah berhasil membuat motif-motif dari Sangir Talaud dan motif Pinatikan Bantik, semuanya dari Sulawesi Utara.

Kain tenun Bentenan merupakan kain karya Suku Minahasa yang sekitar abad ke-7 membuat busana dengan menggunakan bahan-bahan dari serat kulit kayu yang disebut fuya, diambil dari pohon lahendong dan pohon sawukouw, serta nenas serta pisang, disebut koffo dan serat bambu disebut wa'u.

Sekitar abad ke-15, orang Minahasa mulai menenun dengan benang katun dan hasil tenunan inilah yang dinamakan Kain Tenun Bentenan. Dari Desa Bentenan yang terletak di Pantai Timur Minahasa Selatan (distrik Pasan, Ratahan, Ponosakan dan Tonsawang) inilah, kain tenun Bentenan pertama. Ditemukan dan terakhir ditenun di daerah Ratahan pada tahun 1900.

Pada massanya, kain tenun Bentenan adalah salah satu kain yang sangat tinggi mutunya di dunia. Bukan saja karena teknik pembuatannya (bentuk kain lingkaran tanpa guntingan, sambungan kain dan menggunakan bel, lonceng kecil di sekeliling kain, sehingga disebut Pasolongan Rinegetan, namun juga karena di saat sebelum menenun dilaksanakan, ritual pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa dilantunkan.

Kain Bentenan memiliki tujuh motif yaitu tonilama (tenun dari benang putih, tidak berwarna dan merupakan kain putih), sinoi (tenun dengan benang warna warni dan berbentuk garis-garis), pinatikan (tenun dengan garis-garis motif jala dan bentuk segi enam, merupakan yang pertama ditenun di Minahasa. Juga tinompak kuda (tenun dengan aneka motif berulang), tononton mata (tenun dengan gambar manusia), kalwu patola (tenun dengan motif tenun Patola India) dan kokera (tenun dengan motif bunga warna-warni bersulam manik-manik). Kain Bentenan ini bisa dilihat di di Museum Nasional, Jakarta, Museum Tropenmuseum, Amsterdam, Museum voor Land-en Volkenkunde, Rotterdam, Museum fur Volkenkunde, Frankfurt-am-Main, Jerman, Ethnographical Museum, Dresden, dan Indonesisch Ethografisch Museum, Delft. [VI/N-5]


Last modified: 8/2/08