
emakin banyak variasi batik yang muncul di Indonesia, baik dari segi corak, bentuk dan warna. Tren berbusana batik memang sudah muncul sejak beberapa waktu lalu. Tapi, penggunaannya lebih banyak ditemukan dalam bentuk baju-baju rumah saja, seperti kaus oblong dan daster.
Saat ini fungsi kain batik tidak hanya sebagai pelengkap kebaya atau bawahan saja. Sudah banyak beredar model-model busana yang dibuat dengan menggunakan kain batik. Hal itu terjadi sesuai perkembangan dan kemajuan zaman.
Suasana keberagaman model batik itu terlihat dalam pergelaran final Lomba Rancang Busana Batik (LRBB) 2008 yang diadakan oleh majalah Prodo, beberapa waktu lalu. Berbagai model pakaian yang dibuat menggunakan kain batik terlihat hampir di setiap sudut ballroom Hotel Mulia, Senayan, Jakarta.
Pemimpin Redaksi Majalah Prodo sekaligus ketua dewan juri LRBB, Alberthiene Endah merasa prihatin karena masyarakat kini lebih gencar merespon kemajuan fashion barat. Sementara batik, yang merupakan warisan budaya bangsa, semakin sedikit diapresiasikan terutama oleh generasi muda.
LRBB diadakan karena didorong oleh kesadaran dan keinginan untuk menumbuhkan serta menjaga rasa cinta yang tinggi terhadap batik. Dia menuturkan, batik dengan segala nilai artistik dan makna di dalamnya merupakan cerminan budaya bangsa yang patut dibanggakan.
"Jika para perancang mode tidak membuat busana batik yang trendy, stylish, dan fashionable maka kaum muda tidak akan terinspirasi untuk mengenakannya," ujar Alberthiene.
Hal itu terbukti dengan adanya respons positif dari berbagai pelosok di tanah air. Sekitar 250 rancangan busana batik diterima oleh panitia lomba. Hasil karya yang masuk kemudian diseleksi hingga menemukan sepuluh finalis.
Kriteria penilaian ditekankan pada konsep rancangan, kreativitas, kerapian menjahit dan daya pakai. Karena itulah didapatkan sepuluh finalis dengan tema beragam, yang merupakan salah satu wujud adanya hal baru dalam dunia batik.
Dari sepuluh besar yang terpilih, kemudian ditentukan beberapa pemenang. Masing-masing adalah Tjong Hian Nen mengambil tema Synthesise sebagai pemenang ketiga, Ilham Mulyadi mengambil tema Batik Touch by Pleat sebagai pemenang kedua, serta Abdulrahman yang mengambil tema Ecology sebagai pemenang pertama.
Abdulrahman menerapkan batik dalam bentuk jaket yang dipadankan dengan gaun. Ia menggunakan batik bercorak tradisional berwarna hijau, yang dipadukan dengan gaun berwarna sama.
Sementara, salah satu peserta, Pamela Bethia, mengangkat tema Patchworks Land. Ia merancang gaun panjang menggunakan kain batik yang dibuat dengan teknik patchwork, yaitu menyambung atau menambal potongan-potongan kain perca yang dirangkai menjadi selembar kain berukuran lebih besar. Hasil rancangannya dinobatkan sebagai karya terunik.

Empat Musim
Peragaan busana batik biasanya diiringi dengan lantunan langgam Jawa, yang bisa dikaitkan sebagai penyesuaian terhadap daerah asalnya. Begitu juga dengan model-model busana batik yang masuk dalam kategori pakaian tradisional. Seiring perkembangan dan perubahan zaman, peragaan batik pun mengalami kemajuan.
Dalam rangkaian acara LRBB, pihak penyelenggara mengemas dalam bentuk pertunjukan musik bertema Batik Empat Musim. Ada alasan tersendiri sehingga sebuah peragaan busana busana batik, yang berasal dari negara dua musim, Indonesia, ditampilkan dalam format empat musim.
"Panitia melihat bahwa rancangan-rancangan yang masuk sangat beragam dan dapat dipakai di berbagai musim. Kita ingin agar batik dapat dikenakan dalam tataran fashion internasional. Dari hal tersebut, timbul suatu keyakinan dan diputuskan tema empat musim," tutur Alberthiene.
Dia menambahkan, acara tersebut akan dijadikan agenda tahunan. Untuk tahun depan, direncanakan akan mengambil objek kain tenun. "Mudah-mudahan, acara seperti ini bisa melahirkan perancang-perancang baru berpotensi dan mengangkat citra kain-kain dari Indonesia," ujarnya.
Sementara Guruh Soekarno Putra, selaku anggota juri kehormatan mengakui bahwa kreativitas yang dihadirkan peserta membanggakan hati. Ia berharap agar kegiatan tersebut dapat memicu dan memacu semangat generasi muda Indonesia, khususnya di bidang yang mengangkat budaya nenek moyang. "Dalam tataran kebudayaan, ibaratnya di satu posisi kita harus melestarikan, tapi di sisi lain kita harus mengembangkan tanpa meninggalkan akar," ujar Guruh.
Sementara Martha Tilaar, yang juga berperan sebagai anggota juri kehormatan mengutarakan, masih banyak generasi muda yang menganggap batik kuno dan tradisional. Tapi, LRBB menjadi suatu gebrakan yang dapat memotivasi karena masih banyak budaya Indonesia yang dapat digali satu per satu.
Dalam acara tersebut, Martha Tilaar memperkenalkan produk kosmetik terbaru Sariayu. Yang menghadirkan tren warna 2008, dengan tema Kilau Martapura. [DMP/N-5]