Pengantar
Turnamen tenis bergengsi di dunia, Grand Slam Australia Terbuka telah berakhir, Januari lalu. Turnamen ini tak hanya menampilkan juara baru, namun juga sejumlah kejutan dengan munculnya kekuatan tenis dari Eropa Timur. Bagaimana dengan petenis Asia? Di mana posisi mereka dalam peta kekuatan tenis dunia? Wartawan SP, Agus Baharudin menyorotinya dalam tulisan berikut.

urnamen tenis Grand Slam Australia Terbuka yang berlangsung di kompleks stadion tenis Melbourne Park, Melbourne, Australia, 14-27 Januari lalu telah melahirkan juara baru tunggal putra-putri dengan tampilnya Novak Djokovic (Serbia) dan Maria Sharapova (Rusia). Djokovic di final menang atas petenis Prancis bukan unggulan Jo-Winfried Tsonga 4-6, 6-4, 6-3, 7-6 (2). Sementara Sharapova menang atas Ana Ivanovic (Serbia) 7-5, 6-3.
Yang menarik dalam turnamen kali ini adalah lolosnya tiga petenis Serbia, yakni Djokovic, Ivanovic, dan Jelena Jankovic di semifinal tunggal putra-putri. Padahal menurut Djokovic, negaranya tidak memiliki tradisi prestasi di cabang olahraga tenis. Serbia yang berpenduduk hanya sepuluh juta jiwa selama ini lebih dikenal dengan sepakbola, bola voli, dan bola basketnya.
Australia Terbuka dan turnamen grand slam lainnya, menjadi magnet bagi petenis dari seluruh penjuru dunia. Di arena inilah dapat diukur hasil pembinaan petenis di masing-masing negara, meskipun sesungguhnya tenis kini lebih merupakan olahraga individual.
Khusus bagi negara-negara di kawasan Asia, termasuk Indonesia, hasil yang dicapai mereka di Australia dapat menjadi ukuran kekuatan masing-masing. Melalui arena ini terlihat peta kekuatan tenis mutakhir di Asia.
Pada tunggal putra misalnya ada sembilan petenis Asia yang mengikuti babak kualifikasi. Babak ini diikuti 128 pemain. Kesembilan pemain tersebut ialah Go Soeda (Jepang), Gouichi Motomura (Jepang), Takao Suzuki (Jepang), Ti Chen (Taiwan), Yeu-Tzuoo Wang (Taiwan), Rohan Bopanna (India), Prakash Amritraj (India), Danai Udomchoke (Thailand), Aisam-Ul-Haq Qureshi (Pakistan).
Dari sembilan petenis tersebut tidak satu pun yang lolos ke babak utama. Soeda, Motomura, Wang, Suzuki, dan Qureshi langsung kandas di babak pertama. Bopanna menapak hingga babak kedua. Sedangkan Chen, Amritraj, dan Udomchoke hingga ke babak ketiga atau selangkah lagi lolos kualifikasi.
Pada babak utama tunggal putra yang diikuti 128 petenis, hanya ada dua wakil Asia, yaitu Lee Hyung Taik (Korea Selatan) dan Yen-Hsun Lu (Taiwan). Lee yang berperingkat 50 dunia kandas di babak kedua dikalahkan unggulan ketujuh asal Chile, Fernando Gonzalez, 6-4, 7-6 (2), 6-1. Sedangkan Lu yang berada di urutan 112 dunia langsung kandas di babak pertama dikalahkan Marc Gicquel (Prancis) 6-3, 4-6, 6-7 (6), 6-4, 6-2.
Bagaimana dengan tunggal putri? prestasi petenis putri Asia masih jauh lebih baik ketimbang kelompok putra. Pada kualifikasi yang diikuti 96 peserta, terdapat 15 wakil Asia, yakni sembilan dari Jepang (Seiko Okamoto, Akiko Yonemura, Shiho Hisamatsu, Natsumi Hamamura, Kumiko Iijima, Ayumi Morita, Rika Fujiwara, Junri Namigata, Yurika Sema ), tiga dari Taiwan (I-Hsuan Hwang, Chin-Wei Chan, Su-Wei Hsieh ) dua dari Tiongkok (Shuai Zhang, Meng Yuan, ), satu dari Thailand (Tamarine Tanasugarn), satu dari Indonesia (Sandy Gumulya), satu dari Korea Selatan (Lee Ye-Ra).
Dari 15 wakil Asia itu, delapan langsung rontok di babak awal, yakni Yonemura, Hisamatsu, Chan, Hanamura, Iijima, Fujiwara, Sema, dan Sandy Gumulya. Empat kandas di babak kedua, yakni Okamoto, Hwang, Namigata, dan Lee. Dua terhenti di babak ketiga, yakni Zhang dan Morita. Tiga lagi, yakni Tanasugarn, Hsieh, dan Yuan, lolos ke babak utama.
Di babak utama yang diikuti 128 petenis, selain tiga pemain tersebut masih ada delapan pemain Asia yang langsung masuk. Mereka ialah Aiko Nakamura (Jepang), Yung-Jan Chan (Taiwan), Ai Sugiyama (Jepang), Akiko Morigami (Jepang), Zi Yan (Tiongkok), Li Na (Tiongkok/unggulan ke-24), Shuai Peng (Tiongkok), Sania Mirza (India/unggulan ke-31).
Nakamura, Tanasugarn, Chan, Yan, dan Peng langsung kandas di babak pertama. Nakamura dikalahkan unggulan pertama dari Belgia, Justine Henin, 6-2, 6-2. Tanasugarn menyerah 6-7 (6), 6-4, 6-2 di tangan unggulan ke-19, Sybille Bammer (Austria). Chan gagal menghadang pemain AS, Jill Craybas, 6-4, 6-2. Yan masih harus mengakui keperkasaan Venus Williams (AS) yang merupakan unggulan kedelapan 6-2, 7-5. Peng dihentikan petenis Rusia, Alisa Kleybanova, 7-5, 4-6, 7-6 (7). Meskipun langsung kandas, skor yang dibukukan lima pemain ini tidaklah buruk.
Prestasi yang bagus dibukukan Hsieh yang menjegal unggulan ke-19, Bammer, di babak kedua 6-2, 6-0. Sayangnya langkahnya terhenti di babak keempat karena harus berhadapan dengan unggulan pertama, Justine Henin (Belgia). Hsieh kalah 6-2, 6-2.
Sementara itu, Yuan dan Morigami terhenti di babak kedua. Sugiyama, Mirza, dan Li menapak sampai babak ketiga. Ai Sugiyama dikalahkan unggulan ke-12 Nicole Vaidisova (Cheska) 6-3, 6-4. Mirza dikalahkan Venus Williams 7-6 (0), 6-4. Sedangkan Li menyerah 2-6, 6-2, 6-4 di tangan Marta Domachowska (Polandia).
Pada nomor ganda putra, pu tri, maupun campuran, prestasi pemain-pemain Asia juga masih lumayan bagus. Di ganda putra, Mahesh Bupathi dari India yang berpasangan dengan Mark Knowles (Bahama) menapak hingga semifinal. Hasil yang sama dibukukan pasangan Tiongkok unggulan ketujuh, ZiYan/Jie Zheng, di ganda putri. Di ganda campuran, petenis Taiwan, Tiantian Sun, yang berpasangan dengan Nenad Zimonjic (Serbia) malahan menjadi juara. Di final mereka mengalahkan pasangan Asia lainnya, Sania Mirza/Mahesh Bupathi (India) 7-6 (4), 6-4.
Berdasarkan fakta-fakta di atas dapat disimpulkan prestasi petenis-petenis Asia dapat dikatakan lumayan bagus. Jepang, Tiongkok, Taiwan, dan India masih dapat menunjukkan kekuatan masing-masing. Khusus Indonesia, hanya dengan satu pemain di kelompok pemain senior di babak kualifikasi dan nihil di babak utama, jelas sangat memprihatinkan. Hal ini pantas mendapat perhatian para pelaku olahraga tenis di Tanah Air, baik itu pemain, pemilik klub, pelatih, maupun pengurus induk organisasi dan cabang-cabangnya untuk meningkatkan kualitas para pemain agar dapat menembus babak utama.
Junior
Berbeda dengan kelas senior, prestasi para petenis junior Asia pantas diacungi jempol ketika mampu merebut gelar juara turnamen grand slam Australia Terbuka khususnya di ganda putra melalui Cheng Peng Hsieh/Tsung-Hua Yang. Ganda Taiwan bukan unggulan ini di final menaklukkan unggulan kedua, Vaswek Pospisil/Cesar Ramirez (Kanada/Meksiko), 3-6, 7-5 (10-5). Di ganda putri junior, sukses juga dibukukan petenis Jepang, Misaki Doi, yang berpasangan dengan Elena Bogdan (Rumania). Pasangan gado-gado tampil sebagai runner-up setelah di final dikalahkan unggulan pertama asal Rusia, Ksenia Lykina/Anastasia Pavlyuchenkova, 6-0, 6-4.
Pada ganda putri ini, ganda Indonesia, Sandy Gumulya/Jessy Rompies, ikut ambil bagian. Sayangnya mereka langsung kandas di babak pertama dikalahkan pasangan Belanda, Lesley Kerkhove/Arantxa Rus, 6-4, 6-0.
Sementara pada nomor tunggal putri yang diikuti 64 petenis, terdapat 15 pemain Asia, masing-masing dari Indonesia (Beatrice Gumulya dan Jessy Rompies), Thailand (Khunpak Isaara, Noppawan Lertcheewakarn, Kanyapat Narattana, Sophia Mulsap), Jepang (Aki Yamasoto, Misaki Doi, Shiho Otake, Miyabi Inoue), India (Poojashree Venkatesha, Janaki Gunuganti), Taiwan (Kai-Chen Chang, ), Hong Kong (Zi-Jun Yang), Tiongkok (Yi-Miao Zhou).
Dua petenis Indonesia tersebut langsung rontok di babak pertama. Beatrice dikalahkan Victoria Larriere (Prancis) 6-3, 7-5. Sedangkan Jessy gagal membendung unggulan ke-15 asal Australia, Tyra Calderwood, 1-6, 7-5, 6-3. Prestasi terbaik dibuat Yi-Mao Zhou yang ditempatkan sebagai unggulan kesebelas. Dia mampu menapak hingga babak semifinal sebelum akhirnya dihentikan 6-4, 6-0 oleh unggulan ke-14, Arantxa Rus (Belanda).
Pada nomor tunggal putra junior, Indonesia menyertakan Christopher Rungkat. Sayang Christopher hanya sampai di babak awal dikalahkan Erik Crepaldi (Italia) 7-6 (1), 2-6, 8-6.
Petenis Asia lainnya yang ambil bagian ialah Hiroyasu Ehara (Jepang), Tadayuki Longhi (Jepang), Hiroki Moriya (Jepang), Chen-Yu Wu (Tiongkok), Di Wu (Tiongkok), Cheng Peng Hsieh (Taiwan), Tsung-Hua Yang (Taiwan/unggulan ke-10), Peerakit Siributwong (Thailand), Kittipong Wachiramanowong (Tahiland/unggulan ke-13),Yuki Bhambri (India), Soong-Jae Cho (Korsel), Karunuday Singh (India). Prestasi terbaik dibukukan Tshung-Hua Yang yang tampil sebagai runner-up. Di pertandingan final, Yang dikalahkan unggulan kelima asal Australia, Bernard Tomic, 4-6, 7-6 (5), 6-0.
Dari segi materi dan kemampuan, petenis Asia tidak kalah baik dari petenis Australia, AS, maupun Eropa. Hanya saja ketika menapak ke tingkat senior, kebanyakan pemain Asia kesulitan finansial untuk mengikuti tur tenis dunia.
Padahal tur ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan akan kekuatan masing-masing pemain dari negara lain. Akibatnya hanya sebagian kecil yang mampu bertahan dalam persaingan di tingkat senior. *