uara alat musik dengan sangat meriah terdengar di balik kelenteng di Jalan Dukuh di kawasan "Kota Surabaya Lama" yang dikenal sebagai Kampoeng China. Kelenteng-kelenteng di kawasan Surabaya Utara, seperti Jalan Dukuh, Jalan Kapasan, Jalan Karet, yang pada masa Belanda menjadi kawasan permukiman etnis Tionghoa.
Ada yang memainkan siauw ku (kecer besar), membunyikan al hu (musik gesek mirip rebab), memukul dong kauw (semacam ketipung), dan meniup terompet. Musisi ini mengiringi wayang potehi. Mengalunkan lagu khas Tionghoa, seperti lagu syahdu Pak Syen Ko Hai untuk mengiringi adegan para dewa serta lagu Se Cie Ke atau empat musim.
Potehi berasal dari Poo (kain), tay (kantung), dan hay (wayang). Kantung kain dengan warna-warni menjadi baju si tokoh. Ada kepala boneka terbuat dari kayu di atas kantung, kepala wayang ini dicat dengan berbagai mimik muka sesuai karakter. Ada yang tampak baik hati, ada yang sangat kejam sekali.
Boneka mini dengan wajah ekspresionis ini dimainkan oleh seorang dalang. Kedua tangan dalang memainkan gerak tangan, kepala wayang potehi dari dalam boneka. Uniknya, dalang dan musisinya, warga bukan dari etnis Tionghoa.
Wayang potehi kurang populer dibandingkan dengan wayang kulit, wayang golek, dan wayang orang. Tempat untuk memainkan wayang boneka asal China ini, terbatas di tempat peribadatan, kelenteng. Wayang potehi bukan sekedar hiburan, tetapi erat kaitannya dengan acara ritual, juga sosial dan pendidikan.
Umat tridharma dalam mengekspresikan ritual memanfaatkan wayang potehi sebagai penyampai segala hal kepada sang Pencipta, mulai pengaduan gagal usaha, penderitaan, dan kegembiraan hidup. Pementasan ritual ini tidak membutuhkan penonton karena ditujukan kepada yang Maha Kuasa.
Muncul di Dinasti Jin pada abad ke 3-5 dan berkembang pada Dinasti Song di abad 10-13. Wayang potehi masuk ke Indonesia melalui orang-orang Tionghoa sekitar abad 16 sampai 19. Mula-mula dimainkan dalam bahasa Hokkian. Seiring perkembangan zaman, dimainkan dalam bahasa Indonesia. Penduduk pribumi bisa menikmati cerita yang ditampilkan, sekaligus bisa memainkannya seperti yang dilakukan dalang Mulyono di Kelenteng Jalan Dukuh, Surabaya.
Cerita Pop
Cerita-cerita klasik dinasti China tetap dimainkan di dalam kelenteng. Sementara cerita pop seperti legenda kera sakti, Sun Go Kwong dimainkan di luar kelenteng. Cerita klasik diadaptasi menjadi tokoh-tokoh di dalam ketoprak. Seperti misalnya tokoh Sie Jin Kwie yang diadopsi menjadi tokoh Joko Sudiro. Tokoh lisan puro diambil dari tokoh Lie Sie Bien.
Wayang potehi sempat terkekang lebih dari seperempad abad akibat tindakan represif terhadap kebudayaan Tionghoa lainnya seperti barongsai. Wayang potehi akhirnya muncul kembali melalui kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid. Ibarat burung lepas sangkar, wayang potehi bisa tampil di pusat berbelanjaan, kampus, sampai berbagai jenis resepsi, mulai ulang tahun sampai pernikahan.
"Sekarang saya bisa main di mana saja, tidak terbatas di kelenteng, sesuai yang nanggap. Kami juga keluar masuk kampus untuk memperkenalkannya kepada generasi muda etnis Tionghoa," kata Mulyono di Kelenteng Jalan Dukuh, Surabaya, di Surabaya, baru-baru ini.
Dalang mempunyai peran penting menghidupkan boneka dalam berbagai adegan, mulai drama rumah tangga, suasana di dalam kerajaan, sampai pertandingan silat. Sekarang, dalang memadatkan cerita untuk mempersingkat waktu, tidak perlu berhari-hari. Pemadatan cerita tidak mengurangi esensi cerita.
"Intinya yang durhaka selalu kalah oleh yang bijaksana, tokoh jahat kalah oleh tokoh yang baik. Inti ceritanya memandu manusia mengendalikan diri, berbuat baik kepada sesamanya," katanya.
Mulyono sudah mendalang sejak tahun 1990, dengan penghasilan antara Rp 7 juta sampai Rp 10 juta untuk menampilkan satu cerita dalam beberapa hari.
Konon lahirnya wayang potehi bermula dari lima orang terpidana mati. Mereka memainkan panci dan piring ibarat alat musik mengiringi permainan wayang. Kaisar memberi pengampunan, setelah mendengar bebunyian menarik.
Pertunjukan di kelenteng, didahului ritual menggambarkan dewa bersembahyang di kelenteng. Pertunjukan diakhiri dengan adegan penutup berupa dua boneka laki-laki dan perempuan dengan busana merah, lambang kegembiraan, memberikan penghormatan kepada penonton atau sang dewa. [Edi Soetedjo]