
Sugito (kiri), pedagang tanaman hias di Jalan Raya Bukit Berbunga, Kelurahan Sidomuyo, Kecamatan Kota, Kota Batu, Jawa Timur, masih menyediakan stok tanaman hias bambu hoki. Tampak bambu hoki berbentuk sumur yang sedang "nge-trend", dipertontokan salah seorang calon pembeli. SP/ARIES SUDIONO
elain lampu hias lampion dan lilin, tanaman hias yang men-jadi pelengkap di tengah- tengah perayaan Imlek 2559 adalah tanaman bambu air atau bambu mini. Bambu mini yang dirangkai dan kemudian dipasang pada pot atau vas bunga itu diyakini masyarakat Tionghoa dapat mendatangkan rezeki bagi pemiliknya. Sebagian warga Tionghoa yang percaya, menamakan bambu mini itu dengan bambu rezeki atau bambu hoki.
Bambu hoki banyak dicari masyarakat Tionghoa untuk menambah kemeriahan merayakan Imlek. Bagi sebagian besar masyarakat Tionghoa, malam menjelang perayaan Imlek selalu didahului dengan makan malam keluarga dengan menu sajian aneka ikan dan kue, khusus seperti kue keranjang, kue mangkok, dan buah kelengkeng.
Selain menggunakan aneka lampion berwarna merah dan kuning emas itu, di tengah-tengah tatanan hidangan itu bagi orang-orang tertentu ditampilkan hiasan tanaman bambu hoki.
"Seperti dikatakan para pembeli itu sendiri, mereka meyakini bahwa memiliki dan merawat dengan benar bambu mini selama merayakan Imlek dapat membawa hoki," kata Sugito (40), pedagang bunga dan tanaman hias di Jalan Raya Bukit Berbunga, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Kota, Kota Batu, Kamis (7/2).
Tan Soewita (55) pembeli bambu mini asal Denpasar, Bali yang membeli beberapa pot berisi tanaman bambu mini seharga antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per pot mengaku sudah memiliki bambu mini di rumahnya di Denpasar.
Ia yang baru kembali dari upacara ritual Imlek di Kelenteng Eng An Kiong, di Jalan Martadinata, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, sengaja membeli beberapa buah rangkain (tanpa pot) tanaman bambu hoki untuk diberikan kepada sanak famili. Tahun ini dia beserta enam anggota keluarganya merayakan Imlek di Malang sekaligus untuk bernostalgia. Maklum, ia memang kelahiran Malang.
"Bambu hoki ini juga banyak dikirim orang kepada handai taulan, rekanan atau patner dagang yang jauh di kota lain untuk souvenir," kata Chandra Loe (47), warga Kota Batu yang ikut menggerombol hendak membeli bambu hoki.
Dia beserta keluarganya bersembahyang di Kelenteng Eng An Kiong, Kota Malang karena Kelenteng di Kota Batu tidak menyelenggarakan perayaan Imlek dan Cap Go Meh, tetapi dipusatkan di Eng An Kiong, Kota Malang. Warga Tionghoa yang merayakan Imlek dan Cap Go Meh dari Kabupaten Malang dan sekitarnya juga menyatu di Kota Malang.
Membawa Rezeki
Sugito, warga Kota Batu hanyalah salah satu dari puluhan pedagang tanaman hias, termasuk tanaman bambu hoki di Jalan Raya Sidomulyo, Kota Batu yang mengarah ke puncak Cangar. Jika Sugito selama satu bulan terakhir hanya menyediakan 2.500 buah pot, Umiarti (51) tetangga kiosnya berani menyediakan 5.000 buah pot bambu hias.
Syukur, bambu hoki itu juga membawa rezeki karena sampai, Kamis (7/2) petang, masing-masing tinggal puluhan pot saja. Mereka belum berani menambah stok karena bambu mini itu hanya terjual sampai puncak perayaan Cap Go Meh, 15 hari mendatang.
Bentuk dari tanaman hias bambu mini harganya bervariasi disesuaikan dengan keinginan para pembeli. Jika pada perayaan Imlek tahun lalu banyak pembeli bambu mini memilih bentuk anyam-anyaman piramid, spiral, dan hati, maka pada Imlek kali ini yang sedang nge-trend berbentuk silindris dan sumur.
"Kata nenek moyang, sumur berarti lambang sumber kehidupan dan dapat dimaknai sebagai lambang sumber rezeki. Ada juga yang menilai, sumur itu diartikan sebagai lambang upaya menambah sediaan menampung limpahan rezeki Imlek dari Thian (Tuhan) yang tak pernah akan habis," ujar Lione Wijaya (52), isteri Tan Soewita beserta tiga orang kerabatnya ikut memilih tanaman bambu mini di kios Sugito.
Khusus tanaman hias bunga, selama menjelang Imlek yang ramai terjual adalah jenis bunga sedap malam yang memilik tangkai panjang. Bunga sedap malam di Kota Batu selama sepekan terakhir banyak diburu pembeli karena untuk kelengkapan prosesi ritual bagi keluarga Tionghoa yang sudah meninggal.
"Bunga sedap malam yang ditanam di dalam vas biasanya dipasang di sisi kanan kiri foto mendiang anggota keluarga yang sudah meninggal," kata Sun- djaya Putra (50), warga Kota Malang. [SP/Aries Sudiono]