SUARA PEMBARUAN DAILY

JAKARTA JELANG PAGI

Maman, si Topeng Monyet

Hujan masih menyisakan hawa dinginnya. Peron paling utara Stasiun Jatinegara, mulai dipenuhi tunawisma, pedagang asongan, dan sejumlah calon penumpang. Lantai peron yang masih becek, tak membuat ''penghuninya'' mengurungkan niat beristirahat. Dengan kertas, kardus, atau kain bekas, kaum kurang beruntung ini menyiapkan pembaringan.

Santoso (14) juga tak mau ketinggalan. Bocah asal Tegal, Jawa Tengah ini mengelap lantai semen itu dengan sobekan beberapa koran bekas. Kemudian, layaknya menyiapkan tempat tidur, ia menggelar dua lembar kardus minuman mineral. Ia kemudian menggelar rompi jeansnya untuk bantal.

Di bagian paling timur peron, tempat Santoso akan berisitirahat ini memang agak jauh dari kerumunan orang. Juga tak ada yang menghampirinya. Santoso memang seperti Englishman in New York di tempat ini. Sudut ini gelap, karena lampu terdekat berada sekitar 10 meter dari dia. Selain jauh, lampu penerangan itu juga tidak terlalu terang, sekitar 20 watt.

Santoso tak langsung tidur. Usai menata tempat tidurnya, ia melepas ikatan rantai monyetnya dari pikulan. Ia kemudian mengikatkan satu ujung yang lain di pergelangan kakinya. Si monyet, Maman, kemudian beringsut duduk di sebelah Santoso, sementara majikannya merapikan perkakas pertunjukannya.

Maman duduk tenang sambil memainkan sebuah bola karet seukuran bola tenis. Sesekali ia menggaruk lehernya yang terikat besi. Sesekali juga ia menatap majikannya itu sambil mengeluarkan suara menguik pelan. Maman memanggil majikannya untuk segera menghentikan pekerjaannya dan memperhatikannya.

Tak lama, Santoso selesai merapikan peti perkakasnya. Dari satu peti, ia mengeluarkan sebuah apel malang, lantas memberikannya pada Maman. Monyet bertubuh kecil itu tidak langsung menyambutnya. Ia berlagak menolak pemberian Santoso dengan membuang muka. Santoso tersenyum sambil tetap mengulurkan tangannya. Tak lama, monyet itu menyambar apel di tangan tuannya dengan tangan kirinya.

Sambil merapikan rambut gondrongnya sendiri, Santoso bicara pada Maman. "Besok kita pulang Man. Main di Jakarta sepi penonton. Sudah tiga hari di sini, kita cuma dapat uang Rp 60.000. Itu saja sudah dipotong makan kita.''

Maman tak perduli. Apel yang sudah tinggal bagian tengahnya itu dikunyahnya dengan semangat. Sambil tetap menggigit apelnya, Maman menarik-narik rantai di kaki Santoso. Monyet berusia 10 tahun ini belum mengantuk dan mau mengajak tuannya bermain. "Maman...jangan nakal!" bentak Santoso. "Saya lagi menghitung uang untuk ongkos pulang besok," katanya sambil menarik rantai Maman, supaya monyet ini mendekat. Sambil mengelus kepala Maman, Santoso menghitung uang penghasilannya.

"...empat puluh ribu tiga ratus. Lumayan. Tinggal cari uang setoran,'' kata Santoso kepada dirinya sendiri. Ia kemudian merapikan uang ribuan kertas kumal dan beberapa keping uang logam itu ke dalam sebuah kantung kain kecil, lalu memasukannya ke kantung celana SMP-nya.

Ia kemudian merebahkan badan di atas kardus. Rembesan air di kardus "pembaringannya" tak dirasakan. Kardus kecil itu juga tak muat untuk tubuh mungil Santoso. Bagian pinggang sampai kakinya pun bersentuhan dengan air kotor, yang pastinya juga dingin.

Topi Lakers-nya digunakan sebagai penutup wajah. Tangan kirinya masih mengelu-elus Maman. Si monyet juga tidak rewel. Ia duduk tenang di samping majikannya sambil mengamati sekeliling stasiun.

Santoso dan Maman baru sekali ini ke Jakarta. Biasanya mereka manggung di kampung halamannya atau kota-kota kecil di Jawa sana. Tujuan Santoso tak lain mencari uang. Dia berharap, keahlian dirinya dan Maman bisa cukup bersaing di Jakarta. Namun, impian itu harus pupus. Topeng monyet bukan lagi hiburan masyarakat kota sebesar Jakarta.

Santoso risau. Selama empat hari di Jakarta ia belum mendapatkan uang seperti diharapkan majikannya. Ia cemas, ketika kembali nanti, ia akan berpisah dengan Maman. ''Setoran saya Rp 35.000 per hari. Kalau empat hari, jadinya Rp 140.000. Padahal sekarang saja baru dapat Rp 50.000, belum lagi dipotong ongkos keretanya. Kalau bos saya marah, saya bisa dipecat. Kalau demikian, saya harus pisah dengan Maman, '' jelasnya sesaat sebelum tidur. Maman mencari uang bersama Santoso selama tiga tahun terakhir ini. Bagi Santoso, Maman sudah seperti temannya sendiri. Berpisah dengan Maman, jelas akan menyedihkan Santoso.

Kereta Tegal Arum yang akan membawa mereka baru berangkat pukul 15.00 WIB siang. Masih ada waktu bagi Santoso dan Maman mencoba peruntungan di hari terakhir di Jakarta. Udara malam itu semakin dingin. Santoso begitu pulas seakan tidur di ruangan hangat dengan kasur empuk. Dan Maman, masih saja setia berjaga di samping tuannya.

[Albertus Tjatur Wiharyo]


Last modified: 8/2/08