[JAKARTA] Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I Cipinang, Jakarta Timur mengadakan perayaan menyambut Tahun Baru Imlek 2559 yang jatuh pada Kamis (7/2) dengan atraksi barongsai. Kegiatan itu pertama kalinya digelar di LP Cipinang.
"Perayaan Imlek ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang. Karena tiap tahun kami selalu mengadakan perayaan Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, maka kami juga merasa perlu untuk menyelenggarakan perayaan Imlek, agar tidak terjadi pembedaan di antara para warga binaan," kata Kepala LP Cipinang, Haviluddin di sela-sela acara, Rabu (6/2).
Selain itu, acara ini juga bertujuan sebagai ajang berkumpul para warga binaan dan sekaligus untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa LP Cipinang dalam keadaan aman dan tertib.
"Nantinya, kami akan mengadakan perayaan Imlek ini secara rutin tiap tahunnya. Dan untuk tahun ini, kami mengundang atraksi Barongsai, lalu acara resepsi dan hiburan berupa band musik dari warga binaan," lanjut Haviluddin.
Grup Barongsai yang diundang berasal dari Persatuan Seni Liong dan Barongsai Macan Putih, Jatinegara Jakarta Timur. Dengan membawa sekitar 40 pemain, mereka berhasil menghibur para warga binaan dengan atraksi tarian yang berkeliling mengitari lapangan LP tersebut. Jumlah warga binaan di LP Cipinang sekitar 300 orang dan 30 persen diantaranya merayakan Tahun Baru Imlek.
Vihara
Di tempat berbeda, Vihara Amurva Bhumi, Jakarta Selatan, terlihat beberapa pengunjung masih berdatangan untuk memanjatkan doa di awal Tahun Baru Imlek ini. Saat ditemui SP pada Kamis (7/1), mantan pengurus Vihara, Lie Eng Hoa menjelaskan, puncak acara perayaan Imlek terjadi pada malam pergantian tahun dan pada hari Cap Go Meh.
"Kalau sudah siang begini, tidak banyak pengunjung yang datang lagi. Biasanya yang mereka sekarang sedang berkeliling mendatangi rumah kerabat dan teman-teman untuk bersilahturahmi. Namun akan ramai lagi menjelang perayaan Cap Go Meh, yaitu 15 hari setelah hari ini," kata Lie.
Acara perayaan Imlek di Vihara yang telah berumur hampir 90 tahun ini diisi oleh atraksi Barongsai dan Liong dan diikuti oleh sekitar 500 orang dari berbagai daerah. "Yang datang bukan dari warga sekitar saja. Ada yang datang dari Tanggerang, Bogor, dan yang pasti Jakarta. Mereka datang bersama keluarga besarnya meski tadi malam (6/1) sempat turun hujan. Acaranya dimulai pukul 20.00 dan selesai sekitar pukul 3.30 dini hari," lanjut Lie.
Setelah puncak acara, di pagi harinya, mereka akan datang kembali untuk memanjatkan doa awal tahun sebelum bersilahturahmi dengan keluarga dan kerabat. "Saya berdoa semoga di tahun baru ini semuanya menjadi lebih baik," ujar pengunjung Vihara, Kristin (24) yang tahun ini tidak berkumpul bersama keluarga di Palembang. "Tahun ini pekerjaan saya di kantor tidak bisa ditinggalkan. Biasanya saya pulang ke Palembang untuk merayakan Imlek disana. Ternyata tahun ini tidak bisa, ya tidak apa-apa," kata pegawai swasta ini tidak datang ke puncak acara Imlek semalam karena hujan.
Ancol
Sementara itu, perayaan Imlek juga digelar di Gelanggang Samudera Ancol yakni dengan atraksi barongsai dan pembagian anpao (amplop berisi uang) kepada pengunjung. Atraksi itu terutama digelar di pentas lumba-lumba dan paus putih. "Ini sebagai apresiasi kami kepada pengunjung khususnya yang berasal dari kalangan Tionghoa," kata Restuning DW dalam keterangan tertulisnya.
Selain di Ancol, perayaan Imlek juga terjadi di Bekasi. Ribuan warga etnis Tionghoa di Kota Bekasi, sejak Rabu malam (6/2) hingga Kamis (7/2), memadati Kelenteng Hok Lay Kiong, Bekasi Timur, Kota Bekasi Jawa Barat untuk memanjatkan doa syukur dalam rangka Tahun Baru Imlek 2559. Warga yang kebanyakan umat Kong Fu Chu sangat antusias melakukan doa pada leluhur agar selalu diberikan kesehatan dan rezeki pada tahun baru Cina itu.
Pantauan SP di Klenteng itu, umat yang datang dari berbagai wilayah di Kota Bekasi tampak menyalakan lilin dan dupa yang sudah disiapkan di tempat peribadatan. Mereka memanjatkan doa dan berharap tahun baru itu akan selalu membawa kedamaian, membawa berkah lahir batin serta terhindar dari ancaman bencana alam. Suasana khusyuk serta hikmat pun sangat terasa karena tempat ibadah itu sudah disterilkan hanya untuk berdoa.
Selain menyalakan lilin, ada juga hiasan lampu lampion berwarna merah yang malam itu dipasang untuk memperindah Klenteng. Persembahan hidangan buah-buahan dan berbagai macam kue, seperti kue jenis keranjang yang menjadi ciri khas perayaan Imlek juga banyak dijumpai di tempat peribadatan itu.
Puncak perayaan tahun baru Imlek dilaksanakan Rabu (7/2) tepat pukul 24.00 WIB. Ratusan kembang api yang diyakini mampu mengusir roh jahat dinyalakan di tempat itu. Warga juga dihibur dengan kesenian Gambang Kromong.
Menurut salah satu pengurus Klenteng Hok Lay Kiong Cecep, perayaan Imlek tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. "Umat memanjatkan doa agar yang jelek di tahun lama tidak terbawa di tahun baru ini," kata dia. Namun, ia mengakui perayaan tahun ini lebih meriah dibandingkan sebelum pemerintah menetapkan Imlek menjadi hari libur nasional.
Hal senada juga disampaikan warga yang datang ke tempat itu. "Saya hadir bersama keluarga untuk menyampaikan doa pada leluhur agar pada tahun baru Cina ini, bisa memberikan harapan baru dalam kehidupan," kata Helena (43), warga Bekasi Timur dan berprofesi sebagai pengusaha itu.
Ia menambahkan, bencana banjir dan longsor di sejumlah tempat di Indonesia disebabkan oleh keserakahan manusia itu sendiri, dengan merusak lingkungan tanpa memperhatikan aspek lainnya. "Mudah-mudahan bencana seperti itu ti- dak terulang lagi di tahun ini," harap dia.
Hari pertama perayaan Imlek di Kota Bekasi secara umum berlangsung aman, lancar dan semarak. Hal itu ditandai acara kunjungan warga Tionghoa ke rumah orang tuanya pada Kamis (7/2) pagi hingga malam hari.
"Kami seharian di rumah orang tua ngumpul bersama keluarga untuk meningkatkan tali kasih dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Hari kedua baru keluar rumah untuk mengunjungi teman-teman maupun kerabat lainnya," ujar Mei Lin (36), warga Bekasi Selatan. [HTS/132/MRS/Y-4]