[KOUSSERI] Puluhan ribu pengungsi dari Ibukota Chad, N'Djamena, akibat pertempuran yang terjadi antara kelompok pemberontak dan pasukan Pemerintah Chad, masih bertahan di lokasi pengungsian mereka, di Kamerun, yang hanya dipisahkan Sungai Chari, dari negara asal mereka.
Para pengungsi itu dalam kondisi kekurangan makanan, air, dan tempat berteduh, karena hingga Jumat (8/2), belum ada bantuan internasional yang diberikan untuk mereka. PBB sendiri memperkirakan, sedikitnya 30.000 rakyat Chad yang mengungsi ke negara-negara yang bertetangga, seperti Kamerun.
Para pemberontak yang menuding Presiden Chad, Idriss Deby, melakukan korupsi dan menggelapkan pendapatan negara dari penjualan minyak, yang menyerang Ibukota Chad, Sabtu (2/2), dari basis mereka di Timur, dekat perbatasan dengan Sudan, sempat menguasai Ibukota selama beberapa hari.
Rabu (6/2), pasukan Pemerintah Chad telah kembali mengambil alih Ibukota, setelah keluarnya kecaman Dewan Keamanan (DK) PBB terhadap pemberontak, ditambah dukungan pasukan dari Prancis. Meski begitu, para pengungsi Chad sendiri mengaku belum berani kembali ke Ibukota.
Sementara sebagian besar pengungsi lainnya, tidur di lapangan terbuka, atau di bawah tenda-tenda yang mereka buat dari ranting pohon, dan rok panjang para perempuan yang kembali mereka kenakan saat siang hari. Ada satu keran air di sekolah itu, yang digunakan oleh semua orang, tapi tidak ada toilet.
Makanan, hanya tersedia bagi mereka yang mampu membelinya. Sementara harga di pasar setempat telah melonjak, seiring dengan besarnya kebutuhan pengungsi. Sebagai contoh, sepotong roti yang biasanya berharga 20 franc, telah menjadi 100 franc. [AP/B-14]