
ertemuan budaya Timur dan Barat menjadi tema besar dalam film dokumenter Teak Leaves at the Temples. Film dokumenter disutradara Garin Nugroho ini memadukan kultur musisi Timur dan Barat. Teak Leaves at the Temples mengusung irama musik free jazz, dengan menampilkan pertunjukan musik apik antara tiga musisi penganut free jazz internasional, yakni Guerino Mazolla (piano), Heinz Geisser (dram) dan Sirone (bas). Sementara, unsur musik Timur ditampilkan lewat kesenian tradisional dari komunitas seniman Merapi-Merbabu diantaranya Komunitas Lima Gunung dan Komunitas Cipto Budoyo.
Sebelumnya, Teak Leaves At The Temple diputar pertama kali di Rotterdam Film Festival ke-37 yang berlangsung 23 Januari hingga 3 Februari 2008. Pembuatan film ini didukung oleh Eastern Pearl Flour Mills. Film yang diproduksi sejak 2006 itu mengangkat pikiran atau ide tentang penciptaan, waktu, gerak tubuh dan pandangan spiritual.
Teak Leaves at the Temples terbagi dalam tiga bagian yang menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat di Borobudur, bencana alam dan perjalanan ke Nirwana. Pertunjukan musik ditampilkan dengan tiga konser paralel dengan tiga tema yang mengambil setting di dua tempat berbeda yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Pada bagian pertama, film menyoroti gambar kehidupan sehari-hari masyarakat lokal dengan adat istiadatnya yang unik. Penonton disuguhi keunikan lokasi syuting dan keindahan musikalitas Mazzola, Geisser dan Sirone. Ketiga musisi Barat tersebut berkolaborasi mempertunjukkan musik free jazz. Melalui musik ciptaan, Mazzola, Geisser dan Sirone seolah naik ke Arupadathu, tingkat tertinggi di Surga, di mana manusia meninggalkan semua hasratnya.
Di bagian kedua, Garin menampilkan ide tentang tragedi kemanusiaan yang menimbulkan kesengsaraan. Dia seolah ingin memberi pesan bahwa peradaban manusia terkadang membawa pada kehancuran . Begitu juga dengan bencana alam seperti gempa bumi yang mampu menimbulkan kematian. Melalui tragedi dan bencana itu, manusia mengembangkan diri dan membangun kembali peradaban.
Sebagai benang merah ketiga bagian tersebut, ditampilkan seorang pemahat bernama Ismanto yang mengaku sebagai Superman. Superman memparodikan seorang pahlawan lokal yang berbagi pemikiran dan pandangan dengan tamunya, musisi Mazzola.
"Superman akan menjelaskan seluruh ide cerita. Superman sebagai seorang pemahat yang kami pilih sebagai perantara cerita, karena sebagai seorang pemahat dia memiliki pengalaman yang banyak dengan batu. Batu adalah hidupnya dan medium dari ciptaannya. Ia juga tinggal di gunung Merapi yang merepresentasikan ide tentang waktu, penciptaan, batu dan Borobudur," kata Garin. [DLS/N-4]