SUARA PEMBARUAN DAILY

Menguji Pamor Mak Erot

Foto-foto: Starvision Plus

Film: Extra Large; Antara Aku, Kau dan Mak Erot

Sutradara: Monty Tiwa

Pemain: Jamie Aditya, Francine Roosenda, Alex Abbad, Dewi

Sandra, Eron Lebang, Elmayana Sabrenia, dan Sarah Sechan

Skenario: Monty Tiwa

Genre: Komedi Romantis

Produksi : Starvision Plus

Sutradara Monty Tiwa mengangkat legenda Mak Erot ke layar lebar lewat film Extra Large; Antara Kau, Aku, dan Mak Erot. Film ini blak-blakan menyampaikan lelaki dengan persoalan kelamin.

Barangkali, Monty Tiwa memang ingin membuktikan kegemarannya mengolah cerita-cerita drama komedi lokal yang sangat dekat dengan masyarakat. Berawal dari Maaf, Saya Menghamili Isteri Anda, Monty kini menghadirkan drama komedi dewasa yang lain Extra Large; Antara Kau, Aku dan Mak Erot.

"Drama komedi lokal selalu menjadi hal yang menarik. Sejak dulu, saya memang lebih tertantang untuk menggarap genre ini dibanding genre lainnya. Ada keasyikan tersendiri buat saya," ujarnya.

Di film ini, Monty sengaja mengambil ikon Mak Erot karena nama itu sudah menjadi legenda untuk urusan ranjang. Nama itu cukup menjelaskan untuk urusan "besar-membesarkan", namun tetap saja Monty menggunakan judul yang panjang.

Extra Large; Antara Aku, Kau, dan Mak Erot, berkisah tentang pemuda yang tidak percaya diri ketika akan menghadapi pernikahan. Selain ukuran alat kelamin, sang pemuda tidak berpengalaman urusan ranjang. Dia takut mengecewakan istrinya.

Adalah Deni (Jamie Aditya) yang menjadi tokoh utama. Sebagai pria dewasa, Deni merasa belum siap menikah selama masih mengalami kendala psikologis. Dia terpaksa menikah demi menolong keluarganya. Pasalnya, sang ayah seorang aparat birokrat yang gajinya pas-pasan, sementara ibu Deni mengidap kanker yang membutuhkan biaya besar.

Menikah dengan Vicky (Dewi Sandra) adalah salah satu jalan keluar. Vicky adalah anak atasan ayah Deni yang terlanjur hamil tanpa diketahui ayahnya. Tidak mau menanggung malu, ayah Vicky meminta ayah Deni agar mau membujuk Deni menikahi Vicky. Tentu saja dengan iming-iming balasan materi yang setimpal.

Bangunan cerita ini mungkin terasa klise, namun Monty mencoba untuk membuat cerita lebih seru dengan upaya tokoh Deni mempersiapkan penampilannya di malam pertama. Stefan (Erron Lebang) dan Juno (Alex Abbad), dua sahabat Deni yang membantunya menangani masalah itu. Bahkan mereka menjadikan Deni sebagai taruhan, apakah Deni akan berhasil menikah atau tidak.

Jamie Aditya memerankan Deni dengan baik, meskipun film ini adalah debut pertamanya di layar lebar. Karakter Deni yang lugu dan polos justru berhasil berhasil memancing humor ketika dimainkan oleh mantan VJ MTV itu. Seperti ketika Deni harus berobat ke Mak Erot di Sukabumi. Deni merasa canggung jika "Si Teguh" harus diurut oleh sang dukun itu. "Saya Mak Siat. Cucu ke delapan Mak Erot. Jadi siapa yang punya masalah di sini," ujar Mak Siat yang diperankan oleh Sarah Sechan.

Kehadiran Sarah Sechan dalam film ini menjadikan ada dua mantan VJ MTV dalam satu scene di film ini. Keduanya pun saling menjadi lawan main yang baik dengan gaya humor khas mereka.

Selain jadi lawan main yang baik untuk Sarah Sechan, Jamie pun harus beradu akting dengan Francine Roosenda yang berperan sebagai Intan. Intan adalah seorang pekerja seks komersial yang disewa Juno untuk membuktikan hasil pengobatan Deni.

Intan disewa selama satu bulan untuk "menemani" Deni. Namun dengan keluguannya, Deni tidak pernah berhasil membuktikan hasil pengobatan itu. Ternyata ada masalah mendasar bagi Deni berkaitan urusan ranjang, yakni masalah hati.

Bagi Francine, film ini adalah film yang keduanya setelah Pocong 3 yang juga disutradarai oleh Monty Tiwa. Di samping itu, ada sejumlah nama besar yang ikut mendukung film ini seperti Barry Prima, Tarzan, dan Inggrid Widjanarko. Namun mereka hanya mendapat porsi pemeran pendukung saja.

Realita sosial yang disajikan Monty dalam film ini sepertinya tidak ada yang baru. Kesulitan keluarga Deni hingga dia harus rela dinikahkan, dan stigma yang melekat pada Intan adalah hal yang secara umum sudah diketahui bersama.

Selain itu, Monty juga kurang memaksimalkan sentakan komedi. Beberapa adegan yang seharusnya dapat memancing tawa kurang dimaksimalkan, sehingga berlangsung biasa saja. Namun apa yang ingin disampaikan Monty dalam film cukup menghibur. [SP/Kurniadi]


Last modified: 7/2/08