SUARA PEMBARUAN DAILY

Musik Jazz Indonesia Mengadaptasi Zaman

SP/Ferry Kodrat = Denny Sakrie (kiri) dan Indra Lesmana.

[JAKARTA] Perkembangan musik Indonesia memang masih didominasi "booming"-nya musik pop. Meskipun demikian, masyarakat musik jazz Indonesia tidak pesimistis dengan perkembangan musik yang dikatakan sebagai musik yang universal tersebut. Jazz Indonesia akan selalu eksis karena mengadaptasi perkembangan zaman.

Musik jazz sebagai musik yang menganut "faham keterbukaan", selalu berdiri dengan jati dirinya sebagai musik jazz. Musik jazz tidak akan pernah kehilangan identitasnya walaupun musik ini kerap dikolaborasikan dengan instrumen alat musik lain, termasuk alat musik etnik.

Dengan pandangan itulah, masyarakat musik jazz Indonesia tetap yakin mengenai kelangsungan musik jazz di negeri ini. Lagipula, musik jazz adalah musik yang abadi atau tidak bisa diukur dalam waktu yang pendek. Musik jazz adalah musik yang tidak akan lekang dimakan waktu.

Hal itulah yang tertuang dalam diskusi atau Work Shop Musik Jazz Indonesia yang diselenggarakan oleh Dji Sam Soe di JLounge, Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa (5/2). Acara ini sendiri digelar sebagai rangkaian dari persiapan Java Jazz Festival 2008.

Selain musisi jazz kondang Indonesia, Indra Lesmana, hadir juga dalam acara tersebut, Giedon Momongan mewakili perusahaan rekaman Indiejazz, Sandy Tok, direktur perusahaan rekaman Sangaji Music, dan pengamat musik jazz Indonesia, Denny Sakrie.

Indra Lesmana menjelaskan, musik jazz tidak akan "mati" karena musik jazz adalah musik yang eksak. Jazz is jazz.

"Kalau kita sering mendengarkan ada musik jazz yang di dalamnya ada pula instrumen musik etnik, itu karena jazz adalah musik yang penuh keterbukaan," katanya.

Meskipun sebenarnya, musik jazz, sebagai musik yang ilmiah tidak bisa disejajarkan dengan musik skala instrumen etnik. Mungkin, hanya ada beberapa alat musik etnik yang bisa menyatu dengan jazz seperti kenthung dan perkusi. Sementara untuk gamelan, jelas tidak bisa," ujar Indra.

Bukan hanya alat musik etnik, Denny Sakrie juga menjelaskan kalau musik jazz juga bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Musik jazz juga bisa mengikuti kemajuan teknologi. Seperti yang berkembang di kalangan anak muda metropolitan saat ini, di mana musik-musik jazz lama diperbaharui dengan instrumen modern sebagaimana yang dilakukan para disc jockey (DJ).

"Namanya juga industri musik, tentu saja orang mencari sesuatu yang baru yang bisa diterima oleh pasar," kata dia.

Penjelasan Indra maupun Denny tersebut merupakan jawaban atas semakin berkembangnya jenis musik etnis atau yang kerap dikenal dengan sebutan world music sebagai bagian dari musik jazz di era milenium ini.

Di Indonesia, para musisi yang kerap memainkan instrumentasi etnis di antaranya Krakatau, Gilang Ramadhan bersama proyek eksplorasi musik asal Flores bernama Nera, hingga Geliga yang melabelkan dirinya sebagai pengusung jazz Melayu.

Bahkan, pada Java Jazz Festival maupun JakJazz Festival, para pengusung musik etnis yang mengkolaborasikan diri dengan musik jazz ternyata mendapat banyak perhatian para penikmat musik jazz awam di Indonesia, meskipun itu sebenarnya bukan musik jazz murni.

Jazz Indonesia

Pada awal diskusi, Gideon Momongan dan Sandy Tok sama-sama mengurai mengenai arti dari musik jazz Indonesia. Mengenai hal ini, mereka memiliki pemahaman yang sangat sederhana.

Gideon menjelaskan, musik jazz Indonesia adalah musik yang dimainkan oleh orang-orang Indonesia. Sebaliknya Sandy menilai, definisi musik jazz Indonesia, lebih berhubungan pada cita rasa dan warnanya.

"Jazz Indonesia adalah jazz yang dimainkan oleh orang Indonesia tetapi menghasilkan warna dan cita rasa yang khas dan itu berbeda dengan jazz asli yang bukan berasal dari Indonesia," kata dia.

Sementara menurut Indra Lesmana dan Denny Sakrie, musik jazz Indonesia sebenarnya hanyalah bagian terkecil saja dari Asian Jazz. Pada level Asian Jazz, improvisasi akan lebih banyak pada corak rhythm. Sementara European Jazz lebih banyak diwarnai dengan musik klasik yang terkesan kaku. [F-4]


Last modified: 7/2/08