![]()
SP/Fuska Sani Evani
Perayaan Imlek di Kota Yogya dihiasi dengan Pekan Budaya Tionghoa yang digelar selama lima hari sejak Kamis (7/2). Dalam acara itu, seluruh masyarakat bisa memiliki pernak-pernik berbau budaya Tiongkok yang disajikan di Jalan Ketandan Yogyakarta yang dikenal sebagai Pecinan.
i mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung. Barangkali itulah muara dari kata pembaruan. Berangkat dari istilah itu, kini muncullah berbagai akulturasi. Meski tradisi liang-liong dan shamsi berasal dari negeri Tiongkok, saat ini pemainnya, bukan lagi orang dari peranakan Tionghoa.
Seperti Grub Barongsai Panbres yang pada Kamis (7/2) malam membuka Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2008, di Jl Ketandan Yogyakarta, pemainnya, bahkan penabuh musiknya, murni 'wong' pribumi.
Atraksi liang-shamsi, tidak lagi menjadi pertununjukan khusus bagi mereka yang keturunan Thionghoa, bahwa pernik-pernik serba merah dengan wujud dewa-dewi kaum Thaoisme pun digemari oleh masyarakat umum.
Sebagian besar membeli pernak-pernik yang melekat saat perayaan Imlek itu, karena memang menarik, cantik sekaligus nyentrik. Mendapatkannya pun sekarang sangat mudah. Apalagi saat Imlek. Ribuan toko mendadak menyulap dagangannya dan mendahulukan kepentingan hiasan ala negeri Tiongkok.
Seperti Kamis (7/2) malam itu, meski hujan sempat mengguyur beberapa saat, jalan Ketandan yang menjadi perwujudan Pecinan di Kota Yogya, menjadi padat oleh pengunjung.
Aneka makanan versi masyarakat Tionghoa dari yang halal sampai yang 'tidak halal' pun berjejer, hampir tak ada tempat bagi pengunjung yang terlambat.
Usai barongsai meliak-liuk dan mendapatkan ang pao dari para pejabat yang hadir seperti Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam IX, Walikota Yogya Herry Zudianto dan beberapa anggota DPRD, Tahun Tikus pun dimulai.
Bagai berada di Beijing, kelap-kelip lampion merah menghiasi sepanjang jalan. Peramal nasib pun diserbu pengunjung. Seperti kata Sri Paku Alam, Ketandan ini bisa dijadikan Kampung Pecinan Yogya. Supaya masyarakat mengetahui tentang budaya Cina. Sebab, pekan budaya Tionghoa inipun ada, berkat akulturasi antara etnis Tionghoa dengan pribumi. Bahkan, pertukaran musik dan tari sudah berlangsung lama sejak jaman dinasti Tang.
Agenda Menarik
Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) dalam rangka perayaan Imlek ini sudah memasuki tahun ketiga dan berlangsung selama lima hari ke depan. Sejumlah agenda menarik telah disiapkan untuk memeriahkan acara ini, seperti bazar makanan minuman, aneka simbol keberuntungan seperti patung kucing, kodok, pat kwa, nanas dan pohon keberuntungan. Setiap malam pengunjung disuguhi hiburan wayang khas Cina Poo Tay Hee termasuk tari Beskalan Putri yang akan dibawakan Didik Nini Thowok pada Minggu (10/2) malam mendatang.
Seperti ritual keagamaan lainnya, meski Imlek dipercaya bukan berasal dari salah satu agama, namun seperti sudah menjadi tradisi bagi warga keturunan Tionghoa untuk melakukan sujud syukur berbagai pusat peribadatan.
Di Wihara Buddha Prabha Gondomanan, Rabu (6/2) malam, pergantian Tahun Imlek 2559 dihayati dengan wujud doa dan persembahan pada Buddha, Bodhisattva dan Mahasattva. Bikkhu Sasana Boddhi, memimpin ritual dan pembacaan sutra-sutra suci Mahayana yang berisi ajaran sang Buddha.
Dalam kata sambutan, Bikkhu menyatakan bahwa lilin tahun baru, lampion dan pelita adalah lambang pengharapan yang lebih baik. Laksana lilin yang mengorbankan diri untuk menerangi, harapan mencapai hidup yang lebih cerah harus disertai perjuangan dan pengorbanan serta pola hidup yang bertanggung jawab.
Salah satu sesepuh masyarakat Tionghoa Yogyakarta, Fantoni Gutama menjelaskan, Imlek tidak berkaitan dengan ajaran Buddha, tetapi dipahami sebagai budaya yang berkembang di antara penganut ajaran Konghucu. [SP/Fuska Sani Evani]