uah-buahan, manisan, berbagai jenis sayuran, dan makanan vegetarian dijadikan kewajiban bila menginginkan perubahan untuk kesejahteraan. Amplop berwarna merah, bagian dari kaligrafi yang diselingi aksara kanji berwarna kuning keemasan, juga tidak akan terlupakan disediakan. Amplop itu dipastikan menghiasai ruangan, bergelantungan di setiap ruang tamu rumah warga yang merayakan Tahun Baru Imlek.
Segala sesuatunya dipersiapkan karena mempunyai arti dalam menjalani kehidupan, sebagai bentuk persembahan kepada dewa dan dewi di khayangan. Tradisi itu ada yang mengandung arti untuk mendapatkan berkah, rezeki yang berlipat. Persembahan lain untuk menolak bala, agar keluarga terhindar dari musibah.
"Perubahan setelah memberikan persembahan itu dipastikan terjadi. Namun, semuanya itu bergantung pada kemauan diri sendiri. Tak ubahnya seperti agama lain, tak ada umat yang tidak mendambakan perbaikan, baik di tengah keluarga maupun masyarakat. Selama tidak ada kemauan keras, keinginan untuk merubah nasib sulit untuk terwujud," ujar Chu Chu (40), warga Tionghoa saat berbicara dengan SP, seusai melakukan sembahyang di Wihara Buddha Jl Irian Barat, Kecamatan Medan Timur, Sumatera Utara (Sumut), baru-baru ini.
Tradisi etnis Tionghoa, banyak kegiatan dan beragam persembahan yang mereka lakukan sepekan sebelum perayaan Imlek berlangsung. Wihara lebih ramai dikunjungi. Etnis Tionghoa melakukan itu untuk sembahyang memuja sang dewa.
Menurut Chu Chu, persembahan itu dilakukan sebagai bentuk terima kasih kepada para dewa, memberikan kebajikan, perlindungan, berkah dan keselamatan kepada manusia di hari-hari sebelumnya. Mereka juga datang untuk memanjatkan doa.
"Dewa itu maha penyayang dan pengampun. Dewa juga tidak memilah-milah umatnya. Tidak ada perbedaan, antara si kaya maupun miskin. Sembahyang harus dilakukan sepenuh hati, dan atas penuh kesadaran. Semua ini dilakukan demi kebaikanm," katanya.
Persembahan yang dilakukan juga mengandung banyak arti. Menurut A Boi, tokoh agama Buddha saat ditemui di wihara kawasan Polonia Medan, legenda yang dipercaya, persediaan buah-buahan menumpuk dalam sebuah keranjang, didekorasi dengan bunga segar, misalnya, untuk memastikan mendapatkan kemakmuran di tahun yang akan datang.
Sekeranjang buah-buahan itu biasanya diletakkan di tengah rumah.
Begitu juga dengan menyediakan kue khas Imlek di dalam sebuah keranjang, sengaja diletakkan di dapur yang harus bersih untuk persembahan kepada Dewa Dapur. Kue-kue yang ada harus manis-manis, banyak gulanya. Dewa Dapur akan melahap semuanya sesaat sebelum berangkat berangkat menuju langit. Dewa Dapur selama ini hidup di bumi bersama manusia. Dia akan berangkat ke langit sepekan sebelum perayaan Imlek. Saat berangkat, mulut penuh dengan makanan.persembahan.
Konon katanya, Dewa Dapur berangkat ke langit untuk melaporkan apa yang dilihat, adalah kebiasaan buruk manusia. Namun, karena banyaknya makanan di dalam mulut, Dewa Dapur tidak bisa bicara, dan tak mampu menyampaikan keburukan manusia. Oleh karena itu pula, mitos yang muncul bahwa kue keranjang yang disediakan di dapur rumah, merupakan sebagai bentuk 'penyuapan' manusia. Selain itu, kue dalam keranjang juga untuk menolak bala dari segala malapetaka.
Legenda
Menurut legenda, dulunya ada sebuah naga bernama Nian, yang selalu memangsa manusia. Sudah banyak orang yang dimakannya. Pada suatu ketika, ada seorang yang sedang berjongkok di depan sebuah tungku sedang membuat kue keranjang. Nian sedang menguntit orang yang akan dijadikan mangsa. Namun, niatnya dibatalkan, naga raksasa itu kabur karena merasa ketakutan. Nian kabur karena saat mendekat hendak memangsa korbannya, kobaran api tiba-tiba membesar, seakan ingin melahap tubuhnya.
Api itu dianggap sebagai mata. Kebiasaan buruk naga itu juga selalu menghabisi hasil panen milik masyarakat petani. Orang yang nyaris dimangsa itu, akhirnya terkejut dan membunyikan sesuatu yang terdengar nyaring. Masyarakat pun seketika ramai. Sejak itu, beredar mitos kalau naga pemangsa manusia takut mendengar suara nyaring, dan tidak berani bila melihat sesuatu berwarna merah, juga tidak berani muncul setiap melihat keramaian. Oleh karena itu, muncul tarian barongsai sebagai lambang keramaian.
Hal ini yang membuat etnis Tionghoa selalu memukul gong dan menyalakan kembang api setiap perayaan hari besar agamanya.
Lalu mengapa etnis tersebut selalu menggantungkan amplop merah di dalam rumahnya dalam perayaan Imlek? Amplop itu mereka sebut sebagai Angpau, berisikan uang untuk dibagikan kepada keluarga dan sanak famili yang datang. Untuk orang tua maupun dewasa, jumlah uang, atau isinya amplop lebih besar dari pada untuk anak-anak.
Makna dari pemberian uang dalam amplop tersebut memberikan arti hidup panjang, memperoleh kehidupan layak, ataupun kemakmuran. Dan, kertas merah dalam amplop memiliki arti mengusir naga, atau setan yang mungkin masuk ke dalam diri seseorang, maupun di rumah. Angpau tersebut diartikan sebagai uang keberuntungan. Ini sudah menjadi aturan. Aturan lain, saat Imlek tidak diperbolehkan menyapu rumah, tidak boleh mencuci rambut, dan menggunakan pisau.
Di hari besar ini, juga ada semacam pantangan. Sehari sebelum perayaan Imlek, segala pekerjaan harus sudah dituntaskan. Tidak boleh ada pekerjaan tertinggal yang harus dilanjutkan setelah perayaan Imlek. Bila hal ini dilakukan maka dapat berakibat fatal, tidak akan mendapatkan berkah.
"Nanti bisa membawa sial. Apapun ceritanya, sebelum Imlek segala sesuatunya harus dituntaskan. Termasuk dalam hal membersihkan rumah. Itu memang pesan dari leluhur," kata A Boi.
Banyak lagi sajian yang dihidangkan saat Imlek. Ada sajian udang sebagai sebagai tanda untuk mendapatkan kebaikan, hidangan ikan agar mendapatkan keuntungan berlimpah ruah, juga ada menghidangkan sayuran selada sebagai simbol kekayaan alam, dan menambah harta.
Begitu juga dengan adanya hidangan jeruk, memberikan simbol harapan keberuntungan. Menyediakan kue onde-onde ketawa memberikan arti agar hidup keluarga tetap bahagia.
Kendati demikian, semuanya itu hanya mitos. Meski mitos, bukan berarti tradisi ini harus ditinggalkan begitu saja, katanya.
Saat ini, masyarakat etnis Tionghoa masih mempercayai tradisi tersebut. Tahun Baru Imlek membawa makna, sejuta arti kehidupan. Yang harus dilakukan, untuk mendapatkan kehidupan layak, hindari keserakahan. Sering melakukan amal sosial, mengikuti aturan merupakan jalan menuju kesuksesan, kemakmuran yang diinginkan. [SP/Arnold H Sianturi]