![]()
SP/Laurens Dami
Sebanyak 1.200 ton pupuk urea bersubsidi yang didatangkan PT Pupuk Sriwijaya dari Palembang, Sumatera Selatan, tiba di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, Banten, Sabtu (2/2). Proses bongkar muat ini perlu waktu tiga hari, karena kondisi cuaca belum bersahabat.
[CILEGON] Pupuk urea bersubsidi yang didatangkan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) sebanyak 1.200 ton untuk mengatasi kelangkaan pupuk di wilayah Provinsi Banten, tiba di Pelabuhan Ciwandan, milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, Sabtu (2/2). Pupuk selanjutnya diangkut ke gudang yang tersebar di Kabupaten Tangerang, Serang, dan Lebak.
Untuk kawasan Tangerang jatah pupuk yang akan disistribusikan 3.000 ton yang akan disimpan pada gudang penyimpanan di Mauk, Tangerang. Serang mendapat jatah 6.000 ton, akan disimpan di gudang pupuk di kawasan Kemang. Untuk kawasan Kabupaten Lebak, jatah pupuk diberikan 3.000 ton.
Operator bongkar muat KMP Anugrah Buana II, Farhan, Minggu (3/2) mengatakan, proses bongkar muat pupuk itu sudah dilakukan sejak Sabtu (2/2), dan sempat beberapa kali mengalami kendala akibat hujan yang turun selama dua hari, sehingga palka harus ditutup, untuk menghindari masuknya air pada lambung kapal yang berisi ribuan karung pupuk.
Perusahaan yang mengangkut pupuk itu ke sejumlah gudang di wilayah Banten adalah PT Putra Galuh Perkasa (PGP). Perusahaan ini yang dikontrak oleh PT Pusri untuk menyediakan angkutan guna mendistribusikan pupuk itu ke beberapa gudang.
Amir Hermansyah, Staf Marketing PT Pupuk Kujang yang melakukan pengawasan proses bongkar muat pupuk urea di Dermaga II Pelabuhan Ciwandan, mengatakan, pengiriman pupuk bagi petani di Banten tersebut dilakukan Pusri, karena salah satu unit produski PT Pupuk Kujang mengalami kerusakan.
"Pengirmiman pupuk urea ini berdasarkan intruksi dari pemerintah pusat guna memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi bagi petani di Provinsi Banten, karena PT Pupuk Kujang saat ini masih belum dapat memperbaiki salah satu unit mesin produkisnya. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk yang diperlukan petani pada masa mendatang, juga masih akan dilakukan Pusri sampai mesin produksi milik PT Kujang dapat beroperasi kembali seperti biasanya," katanya.
Sementara itu, para petani di Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Pesisir Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) mengeluhkan pupuk urea sejak sebulan terakhir mulai langka sehingga harga jual di tingkat petani melonjak menjadi Rp 80.000 per karung (isi 50 kg). Padahal, sebelumnya Rp 50.000 per karung untuk pupuk bersubsidi.
"Sebulan terakhir, kami kesulitan memperoleh urea, karena hampir semua toko selalu menyatakan kehabisan stok," kata petani Kuranji, Padang, Ahmad Junis.
Sejumlah toko kini hanya menjual eceran dengan harga Rp 1.800 per kg dan tidak ada lagi yang menjual per karung dengan alasan stok habis. Kondisi itu, membuat petani kesulitan, karena urea sangat dibutuhkan waktu memasuki musim tanam padi usia dua hingga tiga minggu serta akan memasuki masa panen. "Kami hanya membeli empat hingga lima kg saja karena harganya sangat mahal," katanya.
Kalangan pedagang penyebutkan stok urea dan pupuk jenis lain dibatasi sejak dari tingkat distributor tingkat kabupaten/kota. Pedagang pengecer tersebut hanya memperoleh pupuk terbatas pada pagi hari dan disinyalir adanya permainan pada agen tingkat kabupaten/kota, sehingga penyalurannya hingga tingkat petani terbatas. "Meski harga bertahan pada posisi tinggi, namun pasokan pupuk TSP, NPK, SP-36 dan SP minim," katanya. [BO/149]