SUARA PEMBARUAN DAILY

Kecelakaan Panser Amfibi

TNI AL dan Marinir Bentuk Tim Penyelidik

[JAKARTA] Markas Besar TNI Angkatan Laut dan Korps Marinir telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki penyebab kecelakaan panser amfibi dalam Latihan Armada Jaya ke-27 di Pantai Banongan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kecelakaan itu menewaskan enam anggota Korps Marinir.

"Penyebab pasti kecelakaan itu belum bisa diketahui. Mabes TNI AL dan Korps Marinir telah membuat tim untuk mencari tahun di mana kesalahannya, apakah ada kelalaian, atau ada faktor lain," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Iskandar Sitompul kepada SP di Jakarta, Senin (4/1).

Dikatakan, tim penyelidik akan bekerja semaksimal mungkin dan paling cepat hasilnya bisa diketahui dalam waktu satu minggu. Jika dalam satu minggu belum juga diketahui penyebab kecelakaan, masa kerja tim akan diperpanjang lagi.

Menurut Iskandar, keterkaitan antara kendaraan amfibi yang sudah lama (buatan tahun 1962) dengan kecelakaan termasuk faktor yang akan diselidiki. Tapi, kata dia, sebelum Latihan Armada Jaya digelar, sudah ada tahapan-tahapan, termasuk kesiapan peralatan.

"Jadi, ada tahapan- tahapan persiapan sebelum latihan dimulai. Kalau semua sudah siap, baru latihan bisa dilakukan," katanya.

Dari Situbondo dilaporkan, selain enam orang tewas, satu prajurit masih hilang dalam kecelakaan yang terjadi Sabtu (2/2). Mereka terjebak di dalam Panser Amfibi BTR-50 buatan Rusia tahun 1962 yang tenggelam 25 meter di bawah permukaan laut akibat diterjang gelombang.

Enam korban terperangkap dan meninggal dunia di ruang kabin panser karena kesulitan bernafas. Mereka adalah Serda Hadi Sutrisno, Kopda Hariyadi, Kopda Rusli Heri, Kopda Nugroho Pamungkas, Praka Dwi Niar Priyanto, dan Pratu Agus Priyanto. Semua korban diterbangkan dengan pesawat TNI AL untuk disemayamkan di Markas Divisi 2 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, dan dimakamkan di Ciledug, Banyumas, Cirebon serta Pangkalan Jati, Jakarta.

Menurut keterangan seorang korban selamat yang minta identitasnya tidak disebutkan, panser keluar dari perut KRI Teluk Kau/504 dalam keadaan lancar. Namun, sekitar 1.300 meter lepas dari perut KRI atau tidak kurang dari 400 meter menjelang pantai, mendadak mesin mati, diduga karena terjangan ombak yang kuat.

Satu per satu prajurit yang ada di dalam ruang penumpang menyelamatkan diri dan berenang menuju pantai. Upaya tersebut diduga tidak berlangsung mulus karena masing-masing personel yang membawa perlengkapan perang (ransel) di pundak, menghalangi kelancaran mereka meloloskan diri keluar dari lobang keluar/masuk penumpang. Dari 15 personel Marinir, delapan di antaranya berhasil lolos dari jebakan maut. [070/O-1]


Last modified: 3/2/08