[DEPOK] Banyak perguruan tinggi (PT) yang tidak memedulikan kerja sama dan keberlangsungan nota kesepahaman (MoU) yang telah dilakukan dengan PT di luar negeri. Akibatnya, banyak MoU yang mati suri. Padahal, MoU itu merupakan pintu gerbang untuk mewujudkan PT di Indonesia men- jadi universitas berkelas dunia (world class univer- sity).
"PT harus memperhatikan hal ini. Jika tidak, kapan PT di Indone- sia mampu mewujudkan world class university," kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Depdiknas) Fasli Jalal, di sela-sela pertemuan dengan sejumlah atase pendidikan dan kebudayaan (Atdikbud) dan para rektor perguruan tinggi negeri (PTN), di Sawangan, Depok, Jawa Barat, Minggu (3/2).
Fasli mengemukakan, jumlah MoU tersebut mencapai ribuan namun hanya sedikit nota kesepahaman yang bisa berjalan sesuai dengan kesepakatan. "Sayang sekali kalau MoU itu mati suri begitu saja, tanpa ada tindak lanjutnya," ujarnya.
Padahal, Fasli menerangkan, melalui kerja sama internasional tersebut bisa menjadi peluang bagi PT untuk menaikkan peringkatnya di jajaran kampus bergengsi di dunia.
Dikatakan, saat ini baru tiga PT yang masuk dalam kategori 400 kampus top dunia dan 7 kampus yang masuk dalam 500 kampus top dunia.
Dia mengemukakan, salah satu syarat untuk menaikkan peringkat tersebut, antara lain kerja sama internasional antaruniversitas, baik dalam bidang akademis maupun jumlah mahasiswa dan dosen yang bertukar belajar dan mengajar di kampusnya masing-masing.
Kriteria lainnya, banyaknya karya mahasiswa maupun dosen PT di Indonesia yang dimuat dalam jurnal ilmiah internasional.
"Bukan hanya itu saja, karya ilmiah tersebut banyak menjadi rujukan kalangan akademis maupun para pakarnya," ujar Fasli.
Peringkat itu juga, katanya, tergantung kecanggihan informasi, komunikasi, dan teknologi yang dimiliki kampusnya.
"Ada juga yang memberikan peringkat dengan kriteria berapa banyak alumni dan dosen suatu PT yang meraih hadiah Nobel. Dari ukuran ini Indonesia masih sangat jauh," tuturnya.
Tidak Siap
Sementara itu, mantan Atdikbud di Prancis, Sudradjat, mengatakan, pada umumnya PT di Prancis sangat berminat dalam bekerja sama dengan PT di Indonesia. Hanya saja kerja sama tersebut membutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan dana.
"Biasanya, MoU terbentur di soal SDM dan dana karena kita tidak memiliki dana untuk itu. Lebih baik buat kegiatan bersama meskipun dalam porsi kegiatan kecil, tapi bisa jalan," ujarnya.
Dikatakan, PT di Prancis kerap menginginkan kerja sama dengan PT di Indonesia. Sayangnya, PT di Indonesia yang kerap tidak siap.
Rektor ITB Djoko Santoso mengatakan, kerja sama itu harus berbentuk saling memberi. Kalau bisa mahasiswa dan dosen PT di luar negeri itu untuk berkuliah dan mengajar di Indonesia. Dia mengusulkan, pemerintah mengeluarkan visa pelajar dan mahasiswa untuk memudahkan akses masuk ke Indonesia.
Selain itu, katanya, setiap PT harus memiliki keunggulan yang memang akan menjadi andalan. Untuk mencapai unggulan itu membutuhkan kucuran dana dari pemerintah. "Saya optimistis kita siap 'go internasional'," katanya. [W-12]