![]()
Didit Majalolo
Sejumlah warga Tioghoa sedang santai di Kampung Pulo, Citereup, Bogor, Jawa Barat, Minggu (3/2). Dalam satu wilayah itu mereka bermarga "Tan" menyambut Imlek mereka mengaku tidak ada persiapan khusus namun akan ada pertunjukan gambang Kromong hari Rabu (6/2).
ua hari lagi, tanggal 1 bulan 1 tahun 2559 Imlek akan segera tiba. Tahun baru (xîn nián) Imlek adalah hari istimewa bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Sejumlah warga keturunan Tionghoa di Indonesia sudah mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu dalam menyambut datangnya tahun baru tersebut.
Persiapan yang menonjol tampak di salah satu perkampungan keturunan etnis Tionghoa di Kampung Pulo Puspanegara RT 01 RW 01, Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Selain sibuk menghias rumah dan tempat ibadah, warga juga mempersiapkan berbagai menu makanan khas Imlek.
Di perkampungan seluas 1,25 hektare (ha) itu dihuni sekitar 50 kepala keluarga (KK) mayoritas keturunan Tionghoa. Boleh dikatakan 99 persen penduduknya adalah warga keturunan Tionghoa dan menganut agama Khonghucu. Di rumah mereka yang sederhana sudah mulai terlihat aksesoris, yang menjadi ciri khas perayaan tahun baru Imlek. Aksesoris itu seperti kartu tahun baru, lampion, dan mercon.
Puncak perayaan Imlek akan berlangsung Rabu (7/2). Dimulai dengan acara membersihkan rumah. Mereka percaya, dewa kekayaan Chai Shen hanya mau mendatangi rumah yang bersih. Menurut salah satu warga Kampung Pulo, Tan Im Yang (58), leluhur mereka telah menempati lokasi itu sejak tahun 1500. Bahkan, leluhur mereka bermarga Tan dimakamkan di tempat itu. Warga yang tinggal di sana masih memiliki garis keturunan yang sama.
Sekitar 50 persen warga bekerja sebagai karyawan dan lainnya berwiraswasta. Uniknya, tanah yang di atasnya dibangun puluhan rumah memiliki satu girik (sertifikat) dan tidak boleh dijual ke pihak lain karena merupakan tanah leluhur.
Tan im Yang menuturkan, saat tahun baru tiba, rumah sudah harus dalam keadaan bersih agar rejeki mengalir lancar. "Selama tiga hari, terhitung dari tahun baru dan dua hari sesudahnya, ada larangan memegang sapu, alias menyapu. Dipercaya, dewa kekayaan bersembunyi di balik debu. Jadi, kalau menyapu dikhawatirkan sang dewa akan ikut terbuang," tutur dia.
Selain membersihkan rumah, menyiapkan berbagai hidangan bercita rasa manis menjadi ritual yang tak bisa diabaikan. Menurut kepercayaan, dewa dapur, sangat suka hidangan bercita rasa manis. Beberapa hari sebelum tahun baru, dewa dapur akan pergi ke langit untuk melaporkan catatan kehidupan orang-orang di bumi, apakah mereka berbuat baik atau tidak.
Hidangan Tionghoa peranakan yang disajikan saat perayaan Imlek bermacam-macam. Masing-masing hidangan keluarga di tiap-tiap daerah di Indonesia punya ciri khas, sesuai tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun.
Hidangan yang umum disajikan oleh komunitas Tionghoa di Kampung Pulo adalah pindang bandeng. Makin besar ikan bandeng yang dimasak, maka makin besar pula rejeki yang akan mengalir.
Menurut kepercayaan mereka, ikan adalah simbol kemakmuran. Dengan menyantap ikan, diharapkan tahun depan berkelimpahan rejeki. Sedangkan jeruk yang berwarna kuning seperti emas juga melambangkan rejeki. Makin besar ukuran jeruk, makin besar pula rejeki yang didapat.
Selain untuk berkumpul dengan seluruh anggota keluarga dan bersembahyang bersama, perayaan Imlek juga digunakan sebagai kesempatan untuk menghormati leluhur yang sudah tiada. Makanan yang disajikan harus berupa makanan kesukaannya selama masih hidup. Makan bersama keluarga dilakukan sekitar pukul 7.00 WIB malam, sebelum tahun baru tiba. Biasanya seluruh anggota keluarga akan berkumpul di meja bulat, menyantap hidangan bersama-sama.
Ada pula beberapa keluarga yang mempunyai tradisi membakar hio satu per satu sesuai dengan urutan keluarga sebelum bersantap. Usai bersantap malam bersama, seluruh anggota keluarga dilarang tidur, menunggu tiba malam tahun baru, saat dewa kekayaan turun ke bumi.
Perubahan
Ketua Umum Generasi Muda Khonghucu, Kristan (25) mengatakan, perubahan penyambutan dan perayaan Imlek beberapa tahun terakhir ini memang wajar karena pada masa Orde Baru, warga keturunan Tionghoa yang merayakan Imlek harus sembunyi-sembunyi. "Sekarang ini kondisi telah berubah. Warga Tionghoa telah bebas merayakan Imlek. Peraturan Pemerintah yang ingin menghilangkan sekat pribumi-nonpribumi berdampak positif pada akselerasi budaya masyarakat Tionghoa dengan budaya lain di masyarakat," kata Kristan yang juga tinggal di Kampung Pulo.
Peraturan baru tersebut di antaranya Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1999 dan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tiongkok.
Dengan Inpres tersebut, penyelenggaraan berbagai bentuk kegiatan budaya Tionghoa tidak perlu izin khusus dari pemerintah karena secara kultural, etnis Tionghoa tetap menjadi salah satu aset budaya bangsa yang secara yuridis dijamin dan dilindungi keberadaannya.
Imlek sebagai salah satu budaya masyarakat Tionghoa juga diakui keberadaannya sebagai salah satu budaya bangsa. Imlek, saat ini telah dipersiapkan dan dirayakan terang-terangan. Perayaan Imlek telah ditetapkan sebagai hari libur nasional.
"Dengan gambaran rangkaian perjalanan sejarah tersebut, wajar saja jika kini di mana-mana terlihat geliat masyarakat untuk menyambut dan merayakan Imlek," tutur Kristan.
Masyarakat Tionghoa di Kampung Pulo juga menyambut kedatangan Imlek dengan suka cita. Vihara yang sering dipanggil Toa Pekong pada saat Imlek menjadi pusat perayaan masyarakat. Lampion dan lampu hias dipasang, perlengkapan untuk sembahyang juga dipersiapkan pengurus vihara. Hio Imlek juga telah dipersiapkan di tempat-tempat ibadah agar dapat digunakan warga Tionghoa saat Imlek.
Nian Show
Perayaan Imlek identik dengan mercon (semacam kembang api). Mercon diyakini mampu mengusir roh-roh jahat pada saat pergantian tahun. Zaman dahulu setiap akhir tahun, menjelang pergantian tahun tahun baru, akan muncul sejenis binatang buas yang namanya "Nian Show" yang siap memangsa apa saja yang dijumpainya. Bintang ini muncul setahun sekali, persis di akhir tahun, menjelang awal tahun baru Imlek
Nian Show bermakna (nian) tahun (show) binatang. Dan dalam penanggalan Imlek dilambangkan dengan dua belas jenis binatang, yakni dikenal dengan shio sperti shio Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi, Tikus, Kerbau, Macan dan Kelinci.
Namun, kedatangan Nian Show ternyata terhenti, setelah beberapa tahun tidak pernah datang lagi. Hal ini membuat rasa takut dan cemas di masyarakat menjadi hilang Masyarakat menjadi leluasa dan bebas merayakan pergantian tahun Imlek dengan bergembira, anak-anak pesta kembang api, dan berbagai ungkapan rasa kegembiraan itu diwujudkan. [Hotman Siregar]