[BEOGRAD] Tokoh reformis Serbia yang pro Barat Boris Tadic (50) mengklaim kemenangan atas Tomislav Nikolic, kandidat dari kubu ultranasionalis, dalam pemilihan presiden (pilpres) putaran kedua, Minggu (3/2).
"Kita memenangi pemilihan ini," tandas Tadic kepada pendukung Partai Demokratik yang dipimpinnya. Kemenangan ini, menurut Tadic yang masih menjabat presiden, memperlihatkan kepada banyak negara Uni Eropa (UE) bagaimana potensi Serbia untuk berdemokrasi.
Nikolic, penantang terkuat yang pro Rusia, mengucapkan selamat atas kemenangan Tadic. "Saya akan terus menjadi oposisi yang kuat bagi pemerintahannya," ucap Nikolic, sekutu kuat mendiang diktator Slobodan Milosevic.
Penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Serbia memperlihatkan Tadic unggul tipis 51,16 persen suara. Sedangkan Nikolic dari Partai Radikal Serbia 47,18 persen suara.
Kemenangan Tadic disambut hangat oleh Uni Eropa. Tadic berkeinginan kuat menjadi anggota UE. Bagi UE, terpilihnya kembali Presiden Tadic akan memacu perjalanan Serbia untuk bergabung dengan UE. Di sisi lain, UE juga mendesak Tadic agar meningkatkan upaya-upaya untuk menyerahkan para tersangka penjahat perang ke Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda.
Pemimpin Partai Radikal Serbia, Vojislav Seselj, kini tengah diadili karena kejahatan perang. Keinginan Beograd untuk berintegrasi dengan Eropa salah satunya diganjal oleh kegagalan negara itu untuk menyerahkan para tersangka penjahat perang, misalnya Ratko Mladic yang merupakan tersangka pelaku genosida terhadap warga Bosnia. [AP/AFP/E-9]