SUARA PEMBARUAN DAILY

Belajar dari Program Nuklir Iran

Ketua Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur menceritakan seorang pejabat Ristek pernah mengkritik dirinya karena menentang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria, Jepara, Jawa Tengah.

"Dia bilang, rencana program nuklir di Muria ditahan-tahan oleh Gus Dur. Saya bilang iya, sebab nasib rakyat Muria yang dapat terkena dampak pembangkit nuklir juga harus diperhatikan. Dampak bagi rakyat di sana tampaknya tidak diperhitungkan," ungkap mantan Presiden RI keempat tersebut dalam diskusi "Iran's Nuclear Program: What Is It For, Can Indonesia Take A Lesson," di Jakarta, Kamis (31/1).

Memang rencana pengembangan program nuklir untuk tujuan damai patut disambut hangat. Tetapi perlu dicermati pula, nuklir damai yang akan dimanfaatkan untuk kepentingan suplai listrik juga penuh dengan risiko.

Gus Dur menjelaskan, wilayah Jawa sudah diketahui sangat rawan gempa bumi. Maka, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Muria harus dipertimbangkan masak-masak.

Ada pelajaran yang bisa dipetik Indonesia dari rencana Iran untuk mengembangkan program nuklir damai. Penolakan internasional hingga kini menghadang rencana Iran mengembangkan program nuklirnya, meskipun program dinyatakan untuk tujuan damai.

Gus Dur menyebutkan, Indonesia juga harus belajar banyak dari Iran. "Sikap kita sebagai gerakan Muslim di Indonesia lebih bersandar pada ajaran-ajaran religius. Sementara Iran lebih bersandar pada filosofi," ungkap Gus Dur.

Selain itu, Iran membedakan persoalan hukum dan politik di dalam mencermati sebuah persoalan. Dua hal tersebut sedikit banyak bisa ditiru oleh masyarakat Indonesia agar dapat mencermati persoalan dari hakikat atau substansinya.

Relatif aman

Hudi Hastowo dari Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) berharap PLTN Muria bisa direalisasikan pada 2017. Persiapan terus dilaksanakan oleh BATAN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kerja sama antarinstansi diperlukan guna menentukan lokasi yang aman. Keputusan harus dilandasi data yang lengkap, misalnya data geoteknik, atmosfer mikrometeo, arah angin, curah hujan, sinar matahari, hingga mikroseismik.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga mengkaji rencana pembangunan PLTN. IAEA menyatakan PLTN Muria relatif aman dari faktor seismik dan vulkanologi.

Sementara peneliti CSIS Begi Hersutanto berpendapat perubahan atmosfer politik suatu negara bisa berpengaruh pada kelangsungan program nuklirnya. "Program nuklir Iran sebetulnya sudah digagas sejak zaman Shah Iran dan sudah didukung Barat," tutur Begi.

Duta Besar Iran Behrooz Kamalvandi kembali menegaskan, program nuklir Iran benar-benar untuk tujuan damai. "Program ini dikembangkan untuk menyuplai kebutuhan energi di Iran yang semakin meningkat," kata Dubes Kamalvandi.

Iran, menurut dia, sudah mematuhi ketentuan internasional dan bekerja sama erat dengan IAEA. Laporan terakhir IAEA bahkan menyebutkan, tidak ada bukti bahwa program nuklir Iran diarahkan untuk kepentingan militer.

Ia berpendapat, salah satu cara paling tepat dan terbaik untuk menyelesaikan isu nuklir Iran adalah dengan negosiasi yang dilandasi kerja sama dan saling pemahaman, bukan dengan konfrontasi, intimidasi, dan penggunaan cara-cara kekerasan.

Dalam hal ini, pakar hukum internasional UI Hikmahanto Juwana menilai Iran perlu membangun kepercayaan terhadap program nuklirnya. "Polemik nuklir Iran dipicu oleh ketidakpercayaan internasional," kata Hikmahanto. [E-9]


Last modified: 3/2/08