
Film: Rahasia Bintang
Sutradara: Yulianto Krisbiantoro
Pemain: Dimas Seto, Desi Florita, Tio Pasukodewo, Ryan Delon, Restu Sinaga, Mona Ratuliu, Cut Keke, dan Sandy Nayoan
Genre: Drama Thriller
Produksi: Frame Ritz Production
eritanya berangkat dari dongeng tentang bintang dari seorang ibu kepada anaknya. Namun arwah dan peristiwa pembunuhan menjadi inti cerita. Bak tayangan di layar kaca, film ini ingin menawarkan kesegaran dengan balutan thriller lokal.
Rahasia Bintang sebuah film produksi Frame Ritz Production, rumah produksi yang biasa menghasilkan tayangan-tayangan layar kaca baik film televisi maupun sinetron. Sutradara film ini, Yulianto Krisbiantoro, pun biasa menangani film televisi, sehingga Rahasia Bintang adalah besutan pertamanya di layar lebar.
Film bergenre suspens thriler ini dibintangi oleh Dimas Seto, Desi Florita, Restu Sinaga, Mona Ratuliu, Cut Keke, Sandy Nayoan, Ryan Delon dan Tio Pakusadewo. Film ini mengisahkan tentang arwah seorang anak kecil yang meminta bantuan untuk mewujudkan keinginannya sebelum meninggal.
Dikisahkan, sebuah keluarga harmonis tiba-tiba mendapat petaka. Anak mereka, Sheila menyaksikan sebuah pembunuhan secara tidak sengaja melalui jendela kamarnya. Pelaku pembunuhan itu pun tidak mau ambil risiko, Sheila dan kedua orangtuanya dibunuh sekaligus.
Peristiwa pembunuhan ini tentu saja tidak luput dari penyidikan polisi dan perhatian media massa. Adalah Laras (Desi Florita) wartawati yang menaruh perhatian terhadap kasus ini. Meskipun bertugas untuk bidang hiburan, ia mendesak sang atasan agar tetap mengizinkan membuat laporan peristiwa kriminal itu.
Bagi Laras, kasus pembunuhan itu ada kemiripan dengan dirinya. Sheila anak kecil yang dibunuh itu baru berumur sepuluh tahun. Pada usia yang sama, ia kehilangan sang ibu karena dibunuh oleh ayahnya .
Dalam mengejar informasi, Laras ditemani oleh mantan pacarnya yang juga wartawan, Arya (Dimas Seto). Penyelidikan laras pun menemukan sejumlah hal baru, seperti Sheila ternyata adalah seorang anak yang lumpuh. Tidak hanya itu, arwah Sheila pun kerap mendatangi Laras.
Hal terakhir itu tidak bisa diterima oleh Arya, apalagi Laras sebelumnya pernah mengalami gangguan jiwa karena peristiwa pembunuhan ibunya. Alhasil pemunculan arwah Sheila bagi Arya hanya sekadar ilusi Laras saja.
Alur cerita investigasi dengan bumbu ketegangan ini menjadi menarik ketika pemunculan arwah itu ikut menguatkan mood cerita. Namun ada beberapa ade- gan yang kemudian terasa mengganjal. Seperti misalnya Arya yang ditabrak sepeda motor di lorong rumah sakit dan penembakan yang dilakukan oleh dokter Ging (Tio Pasukodewo).
Arya pun menjadi korban tabrak lari itu. Uniknya tabrakan itu terjadi di lorong rumah sakit yang biasa jadi lalu-lalang tempat tidur dorong. Tidak jelas bagaimana sebuah motor bisa masuk ke dalam areal itu.
Korban Depresi
Penyelidikan Laras menyimpulkan bahwa Rima (Mona Ratuliu), ibu Sheilla yang sebelumnya disebut-sebut ikut terbunuh sebenarnya belum meninggal. Ia mengalami depresi dan harus mendapat perawatan di sebuah rumah sakit. Di sisi lain, penyelidikan Laras pun diketahui oleh dalang pembunuhan itu, sehingga ketika mereka mendatangi rumah sakit tempat Rima dirawat, pembunuh itu juga mengikuti mereka.
Ketegangan dari film ini dibangun dengan pemunculan arwah, teror pembunuhan, dan konflik romantis di antara dua pekerja media itu. Adegan pemunculan arwah Sheilla menjadikan film ini memiliki nuansa horor, meskipun arwah Sheilla tidak digambarkan secara buruk rupa seperti film horor lainnya.
Griselda Agatha mengaku karakter Sheila yang diperankan tidak jauh berbeda dengan dirinya. Alhasil ia tidak mengalami kesulitan untuk mengikuti keinginan sutradara. Tapi kondisi itu berbeda dengan Desi Florita. Desi yang memerankan laras mengaku kesulitan untuk memerankan karakter seorang wartawan. Untung saja, kata Desi, ia banyak mendapat masukan dari sutradara dan pemain lain, terutama Tio Pasukodewo.
"Banyak adegan berbahaya yang harus saya lalui di film ini. Seperti tidur di bawah mobil yang sedang melaju. Manjat di sebuah rumah dan menyelinap melaui jendela. mengendarai motor dan berkelit-kelit melalui pilar pilar gedung," ujarnya.
Bagi sutradara, genre yang berbeda dengan kebanyakan film yang beredar ini adalah sebuah tantangan tersendiri, sehingga ia mengerahkan kemampuan maksimal untuk film ini.
"Kalau saya salah buat, nanti diketawain," ujar Yulianto.
Pengambilan gambar dilakukan di sekitar kawasan Bandung, Jawa Barat. Jatah syuting yang seharusnya 20 hari ternyata mundur hingga 23 hari. Hal ini tidak lain karena faktor cuaca yang sering hujan. Namun, Yulianto menyebutkan puas dengan produksi yang dihasilkan.
Tio Pasukodewo salah aktor senior yang bermain di film itu menyebutkan meskipun rumah produksi itu baru pertama menghasilkan film layar lebar, ia berharap film ini menjadi pilihan dari berbagai genre yang beredar saat ini. [SP/Kurniadi]