SUARA PEMBARUAN DAILY

Olga Lidya

Dilempar Tinggi

sp/Stevy widia

Hari Raya Imlek sebentar lagi tiba. Barongsai, ang pao, lampion-lampion, serta ornamen-ornamen merah lainnya menjadi ciri khas datangnya Tahun Baru Tiongkok. Orang Tionghoa dari Indonesia maupun berbagai belahan dunia sibuk menyambut perayaan malam yang dipercaya akan mendatangkan berkah berlimpah itu.

Di Indonesia, perayaan Imlek yang dikenal dengan ucapan Gong Xi Fa Coi itu baru secara terbuka dan besar-besaran dirayakan sejak tahun 2000. Tepatnya ketika pemerintahan mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Sejak saat itu, geliat Imlek semakin ramai. Bahkan, pusat-pusat perbelanjaan tidak ketinggalan menghiasi venue-nya dengan tradisi ala Tiongkok.

Aktris, model dan pembawa acara keturunan Tionghoa, Olga Lydia mengaku tradisi makan malam menjadi acara rutin tahunan yang dilakukan keluarga besarnya ketika menyambut Imlek.

Tidak ada perayaan besar-besaran Imlek, lanjut Olga, setiap tahunnya selalu dirayakan dengan cara yang sangat sederhana, makan malam di restoran. Bagi wanita kelahiran Jakarta, 4 Desember 1976 ini, perayaan Imlek juga hanya dirasakan malam hari menjelang hari H. Jadi, tidak ada ornamen-ornamen merah di kediamannya, kunjungan ke rumah-rumah keluarga apalagi sungkeman orang Tionghoa yang disebut Tee Pai.

"Kami, orang Tionghoa, secara tradisi sangat menghargai makanan. Makanya, walaupun Imlek tidak dirayakan meriah di keluarga, kami selalu mengadakan acara makan malam di restoran bersama keluarga dan ke- rabat yang ada di Jakarta," tu- tur aktris yang mengawali debut kariernya sebagai model catwalk.

Tetapi, meski perayaannya sederhana, Olga masih percaya dengan mitos-mitos seputar perayaan Imlek. Misalnya, ketika makan malam bersama, 10 bahan makanan antara lain, salad, dan ikan salmon mentah yang diaduk dalam satu kuali harus dilempar membumbung tinggi. Bila perlu melebihi batas kuali.

Menurut Olga, semakin tinggi adukannya, semakin besar pula kemungkinan terkabulnya doa dan harapan yang dipanjatkan. Nah, karena mitos itu pula, Olga dan anggota keluarga lainnya kerap berebut centong untuk mengaduk makanan bersama-sama di meja makan.

"Wah kalau sudah di meja makan, saya berebut centong untuk ikutan ngaduk. Mitosnya, semakin tinggi adukan, semakin cepat terwujud doa kita," ujarnya bercerita dengan wajah antusias.

Namun, kesenangan makan malam dan berkumpul bersama keluarga

hanya dirasakan Olga menjelang malam pergantian tahun baru Imlek. Sementara, keesokan harinya, sambung Olga, suasana akan kembali normal.

Tradisi bagi-bagi ang pao juga tidak berlaku bagi Olga. Sejak kecil, dia mengaku, baru satu kali mendapatkan ang pao. Olga juga tidak diperbolehkan memberikan ang pao lantaran masih berstatus single. [CNV/N-5]


Last modified: 1/2/08