
Novak Djokovic (kiri) dan Jo-Wilfried Tsonga
otensi untuk menjadi petenis hebat dunia sebetulnya telah terlihat pada diri Jo-Wilfried Tsonga, sejak masih junior. Pada usianya yang ke-17 di tahun 2003, petenis blasteran Kongo-Prancis ini mencapai semifinal kelompok junior turnamen grand slam Australia Terbuka, Prancis Terbuka dan Wimbledon serta menjuarai grand slam AS Terbuka pada kelompok usia yang sama.
Perjalanan kariernya tersendat saat memasuki jenjang senior, gara-gara serentetan penyakit dan cedera yang menderanya. Bulan September 2004 dia pertama kali terjun di turnamen profesional di Beijing, Tiongkok, dan sempat menaklukkan petenis besar Spanyol, Carlos Moya. November 2004, dia tampil pertama kali pada turnamen Master Serie di Paris dan menapak hingga babak kedua.
Dia sempat membukukan servis tercepat ketiga di arena Sirkuit Association Tennis Pofessional (ATP) dengan kecepatan 232 kilometer per jam di Paris. Hasil yang dia torehkan tahun itu lumayan bagus, yakni mencapai semifinal Prancis Futures, juara turnamen Futures di Spanyol dan Inggris, juara turnamen Challenger di Togliatti dan semifinal di Austin.
Tahun 2005, Tsonga hanya tampil pada delapan turnamen. Dia terkena gangguan hernia yang memaksanya absen dari berbagai turnamen dari November 2004 hingga Maret 2005. Dia juga terkena cedera bahu dua kali dan punggung pada Oktober, sehingga harus beristirahat hingga Februari 2006.
Suksesnya di tahun 2005 antara lain ditandai dengan menjuarai turnamen Leon Challenger di Prancis, April, dan turnamen Prancis Futures, Oktober. Pada Mei tahun itu ia mendapat wild card atau semacam hak istimewa mengikuti grand slam Prancis Terbuka. Sayangnya pada debutnya di arena grand slam tersebut Tsonga langsung kandas di babak pertama di tangan Andy Roddick (AS).
Tahun 2006, Tsonga lagi-lagi dililit cedera punggung dan perut sehingga hanya dapat mengikuti delapan turnamen. Sementara tahun 2007 dia sempat kembali tampil di arena grand slam, tetapi langsung kandas di babak awal Australia Terbuka, babak keempat Wimbledon, dan babak ketiga AS Terbuka.
Tsonga yang memiliki wajah dan postur tubuh mirip petinju legendaris Muhammad Ali sewaktu muda belum masuk hitungan meskipun telah menjuarai ganda putra turnamen Heineken Open di Aukland, Selandia Baru awal Januari 2008 bersama pasangan yang juga rekan senegaranya, Richard Gasquet.
Ketika namanya tercantum pada babak utama Australia Terbuka, tidak banyak yang mengacuhkannya. Hal ini dapat dimaklumi karena dia tidak termasuk pada daftar pemain unggulan. Lagi pula pada penampilannya di arena tersebut pertama kali tahun 2007, dia langsung terjungkal di babak pertama.
Publik tenis di kompleks tenis Melbourne Park, Melbourne, Australia baru terperangah ketika dia menaklukkan Gasquet yang unggulan kedelapan di babak keempat, unggulan ke-14 Mikhail Youzhny (Rusia) di babak perempat final, dan unggulan kedua Rafael Nadal (Spanyol) di semifinal.
Publik kemudian mulai mendukung dia dan bahkan mengharapkan dia membuat kejutan besar saat menghadapi unggulan ketiga asal Serbia, Novak Djokovic, di pertandingan final. Sayangnya Tsonga gagal memenuhi harapan publik meskipun sempat memimpin di set pertama 6-4 sebelum akhirnya menyerah 4-6, 6-4, 6-3, 7-6 (7-2) pada Djokovic.
Djokovic pun di awal-awal turnamen juga tidak terlalu dihiraukan publik tenis setempat. Namun, Djokovic tampil sangat konsisten sejak babak awal. Dia baru diperhitungkan setelah menaklukkan juara bertahan, Roger Federer (Swiss), di semifinal. Itu sebabnya dia terkesan agak kecewa sewaktu publik lebih mendukung Tsonga di pertandingan final.
Bahkan publik tenis Melbourne awalnya sangat berharap turnamen tahun ini dijuarai Roger Federer yang merupakan pemain nomor satu dunia. Namun, konsistensi yang ditunjukkan Djokovic sejak babak pertama membuat petenis serbia peringkat ketiga dunia ini tidak terbendung oleh siapa pun.
Final grand slam Australia Terbuka memang tidak mudah ditebak, hal ini disebabkan banyak pemain yang tidak mempersiapkan diri dengan baik setelah libur panjang akhir tahun. Dalam kancah pertenisan dunia, kesinambungan mengikuti turnamen berpengaruh besar pada penampilan para pemain. Absen pada satu atau dua turnamen saja, seorang pemain bisa kehilangan touch atau sentuhan terhadap bola.
Karena itulah petenis sekaliber Federer pun dapat tergelincir. Masih segar di benak kita pertandingan final tunggal putri Australia Terbuka 2007 ketika Maria Sharapova (Rusia) yang difavoritkan juara akhirnya ditaklukkan Serena Williams (AS) yang bukan unggulan dan berperingkat 81 dunia.
Williams pun kali ini menjadi korban karena ketidaksiapannya. Setelah menjuarai Australia Terbuka bulan Januari 2007, dia didera cedera di pertengahan tahun. Di antaranya cedera lutut dan selangkangan kanan yang memaksanya mundur dari sejumlah turnamen di Zurich, Charleston, Moskwa, Banglore, Cincinati, Stanford, San Diego, Los Angeles, dan New Haven.
Perjuangan Williams di Australia Terbuka kali ini terhenti di babak perempat final. Dia ditaklukkan Jelena Jankovic (Serbia). Jankovic kemudian dikalahkan Maria Sharapova (Rusia/unggulan kelima) di semifinal sebelum akhirnya Sharapova menjadi juara dengan mengalahkan Ana Ivanovic (Serbia). [SP/Agus Baharudin]