
Berbagai jenis tanaman gurun (sansiviera) hanya menggunakan media tanam berupa pasir dan merang.
foto-foto:sp/sumedi TP
Tanaman yang bisa dibentuk seperti bonsai dan berbunga warna warni (adenium) sangat diminati masyarakat.
asyarakat kota tampaknya semakin keranjingan menghiasi rumah mereka dengan bermacam jenis tanaman. Anthurium yang harganya nyaris tak masuk akal untuk kategori harga tanaman, ternyata masih tetap diburu. Tanaman unik yang dibonsai dan berbunga cerah (adenium) serta pohon yang biasa tumbuh di padang pasir atau gurun tandus (sansiviera) juga dikoleksi untuk menghiasi halaman dan di dalam rumah.
Itu terlihat pada Flora & Fauna Nasional yang digelar di Botani Square, di Bogor, 11 Januari sampai 10 Februari 2008, ribuan pencinta tanaman tak bosan-bosan berkeliling menikmati berbagai jenis tanaman di 131 stand yang berjejer rapi di halaman parkir yang luas. Pengunjung bisa menyaksikan kontes anthurium dan aglaonema, demo ikebana, bermacam lomba, serta berkonsultasi dengan pakar tanaman.
Pohon-pohon yang dibonsai sudah biasa, namun bonsai yang ditumbuhi daun dan bunga segar berwarna warni membuat kaum perempuan geregetan. Pohon-pohon yang dijual dengan harga Rp 100.000 sampai Rp 2 juta itu, pada akhir pekan dan hari libur menjadi incaran pencinta tanaman. Tanaman gurun yang harganya puluhan ribu sampai jutaan rupiah pun laris manis.
"Omzet kami bisa mencapai Rp 10 juta per hari. Kami harus mendatangkan lagi dari kebun di Cimacan, Cianjur. Memeliharanya tidak sulit, hanya cukup pakai pasir dan merang, kemudian disemprot sedikit air. Pohon ini bisa menyerap polusi asap rokok, banyak yang meletakkan di ruang tamu," ujar Iman asal Cianjur, Jawa Barat, penjual sansiviera.
Hal itu memang tak berlebihan. Sebagai contoh Salwa, pencinta tanaman dari Jakarta, rela mengeluarkan uang sampai puluhan juta rupiah untuk mengoleksi bermacam tanaman unik. Bersama suami dan anak-anaknya, dia khusus datang ke berbagai pameran tanaman untuk melihat-lihat dan membeli tanaman yang cocok serta memberi rasa nyaman.
"Memelihara tanaman kan bagus untuk lingkungan dan kesehatan. Kita jadi banyak kegiatan. Dari pagi sampai sore bisa sibuk sendiri dengan tanaman. Kalau duduk-duduk di teras rumah rasanya senang melihat tanaman yang unik, indah, harum dan segar," ujar ibu dua anak itu.
Pengunjung lainnya mengakui, tanaman bisa menghilangkan stres. Mereka umumnya bukan sok gengsi dengan memelihara tanaman tapi untuk menyalurkan hobi atau kegemaran yang menyehatkan. Sebab jika stres dan kemudian sakit, biayanya tentu akan jauh lebih mahal. Namun, memilih dan membeli tanaman haruslah jeli, jangan sampai berakhir dengan kekecewaan dan kekesalan. Ini bikin stres juga.
Sejumlah pengunjung tampak memborong tanaman, ada pula yang membeli bibit, pupuk, dan berbagai macam pot. Anggrek pun kembali disukai dan pembelinya meningkat. Tanaman-tanaman aneh seperti bulu monyet juga mulai populer. Anthurium masih diminati, dari bibitnya yang berharga Rp 15.000 sampai yang tumbuh besar seharga Rp 250 juta.
Berbagai Kota
Penggagas dan ketua penyelenggara Flora & Fauna Nasional di Botani Square, Hidayat, mengemukakan, pihaknya berupaya mengumpulkan para pengusaha tanaman yang ada di berbagai kota antara lain dari Cianjur, Bandung, Yogyakarta, Solo dan Semarang, untuk berpartisipasi dalam pameran itu. Sejumlah pedagang pupuk, pot dan perlengkapan berkebun pun ikut serta.
Dia mengakui, di kota-kota sudah banyak kios yang menjual aneka tanaman, namun pada pameran dan penjualan yang lengkap tetap menyedot banyak pengunjung. Semua pihak diharapkan terus mendukung kegiatan seperti ini, seperti yang ditunjukkan Institut Pertanian Bogor (IPB), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Negara Lingkungan Hidup, perhimpunan florikultura, WWF, media massa dan pengusaha.
Hidayat mengatakan, peserta dan pengunjung ternyata sama-sama antusias, bahkan mereka meminta pameran ini diperpanjang dan dipersering. Setelah berbelanja, pengunjung mal memang tak menyia-nyiakan kesempatan melihat pameran dan membeli tanaman. Mereka juga aktif mengikuti talk show dan konsultasi yang berkaitan dengan tanaman. Anak-anak bisa mengikuti lomba melukis tong sampah dan majalah dinding daur ulang.
Pameran flora dan fauna, menurut Hidayat, ikut menyebarluaskan kecintaan terhadap alam dan budaya menanam pohon. Anak-anak perlu diajarkan mencintai lingkungan hidup, mengetahui adanya perubahan iklim dan pemanasan global, serta menghargai ciptaan Tuhan. [SP/Sumedi TP]