SUARA PEMBARUAN DAILY

Dokumentasi Foto Mantan Presiden Soeharto

AFP

Sejak mantan presiden RI ke-2, H.M. Soeharto sakit dan berobat di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) Jakarta, berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik banyak mempublikasikan foto-foto penguasa orde baru ini, dalam berbagai momen ketika masih menjabat sebagai presiden.

Begitu beliau wafat pada hari Minggu 27 Januari 2008 lalu, foto-foto yang diterbitkan dan dipublikasikan pun semakin banyak dan beragam. Tidak sedikit media massa yang menurunkan Laporan Khusus, berupa berita dan gambar-gambar Pak Harto ketika masih aktif, dalam berbagai kegiatan.

Gambar-gambar mantan presiden Soeharto yang dipublikasikan memang sangat beragam, antara lain foto bersama keluarga, bersama Panglima Besar Jenderal Sudirman menyaksikan defile menandai dikuasainya kembali kota Yogyakarta, 7 Juli 1949, dilantik sebagai Panglima TNI AD oleh Presiden Soekarno pada 16 Oktober 1966, dilantik menjadi presiden dan diambil sumpah oleh Ketua MPRS Jenderal AH Nasution sebagai penjabat Presiden RI pada 12 Maret 1967, menerima penghargaan FAO atas keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras tahun 1984, mengendarai Motor Gede Harley Davidson bersama BJ Habibie di halaman Istana Negara 1 September 1996, dan sebagainya.

Dipandang dari sudut fotografi, gambar-gambar mantan Presiden Soeharto yang dipublikan media cetak, setidaknya memberi manfaat bagi masyarakat, terutama yang menyadari dan memahami pentingnya sebuah foto.

Pertama, dari foto-foto yang ditampilkan, kita bisa mengetahui sisi lain dari keseharian mantan presiden Soeharto ketika menjabat sebagai presiden. Foto-foto Pak Harto dalam keseharian yang lebih bernuansa human interest tersebut sangat menarik, karena baru sekarang ini dipublikasikan dan bisa dilihat masyarakat.

Kedua, foto-foto mantan presiden Soeharto masih terawat dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari masih jelas dan beningnya gambar yang diterbitkan, padahal usia foto tersebut sudah ada yang mencapai lebih dari setengah abad. Untuk ini patut diacungi jempol kepada orang-orang yang dengan ketekunan dan kesabaran, mampu merawat foto tersebut dengan baik.

Hal ini tentu menjadi bahan pembelajaran bagi para peminat fotografi, yakni selain bisa memotret dan menghasilkan karya foto yang baik, seyogyanya juga mampu merawat dan mengamankan foto sebagai dokumentasi penting dengan baik, sehingga bisa awet dan tahan lama. Tidak bisa dibayangkan, betapa ruginya jika foto-foto bernilai dokumentasi yang menggambarkan sejarah perjalanan bangsa ini hilang atau rusak begitu saja, akibat keteledoran dalam penyimpanan dan perawatannya.

Hal ini sangat penting, karena sebuah foto pada dasarnya bisa dikatakan suatu informasi yang berisi data dan fakta. Jika foto tersebut hilang, padahal isinya syarat dengan nilai sejarah, dikhawatirkan bisa berimplikasi negatif terhadap sejarah itu sendiri. Misalnya, ada yang merekayasa sejarah untuk kepentingan tertentu, tidak adanya referensi akurat sebagai bahan penelitian sejarah dan sebagainya.

Ketiga, dokumentasi mantan presiden Soeharto yang dipublikasikan bisa memberi inspirasi dan pembelajaran, tentang pentingnya mendokumentasikan hal-hal penting bagi setiap orang, dan menyimpannya dengan baik.

Proses Pendokumentasian

Dokumentasi foto perlu dibuat setiap orang, karena bukan menjadi monopoli dan kepentingan orang terkenal saja, seperti pejabat, para selebritis, tokoh masyarakat dan sebagainya. Hal ini penting dipahami, karena tidak ada yang mengetahui perjalanan hidup seseorang, apakah kelak ia akan menjadi masyarakat biasa atau orang terkenal. Yang jelas dokumentasi foto tersebut sangat penting dan berguna, minimal bagi diri pribadi dan keluarga.

Dalam proses pembuatan dokumentasi, setidaknya ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Pertama, pemotretan. Karena isi dokumentasi foto adalah gambar, maka melakukan pemotretan yang baik pada kegiatan yang dianggap penting, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, masyarakat dan lainnya.

Untuk itu, usahakan jangan lewatkan tanpa ada dokumentasi foto, jika Anda atau keluarga melakukan kegiatan penting yang kelak akan menjadi sejarah tersendiri bagi orang-orang yang ada di dalam gambar. Misalnya prosesi pernikahan, ulang tahun, kelulusan/wisuda, saat berkumpul bersama keluarga, mendapat penghargaan, dan sebagainya.

Foto-foto demikian selain sangat penting sebagai referensi untuk melakukan kilas balik perjalanan hidup seseorang, juga sangat bermanfaat, ketika diperlukan untuk pembuatan buku profil dan lainnya. Bayangkan saja, apa jadinya jika seseorang yang tadinya menjadi masyarakat biasa, tiba-tiba menjadi tokoh terkenal dan profilnya ingin dibukukan, tetapi tidak ada satu pun dokumentasi foto masa lalu yang bisa ditampilkan di dalam buku tersebut.

Kedua, perawatan. Salah satu kelemahan masyarakat kita adalah dalam hal perawatan dokumentasi, baik tulis maupun foto. Sudah menjadi kebiasaan, ketika foto baru dicetak ramai-ramai melihat dan memelototi pose dirinya yang ada di dalam foto. Tetapi, setelah itu, foto diletakkan dan dibiarkan sal-asalan, dan ketika diperlukan kesulitan mencari kembali, entah itu karena lupa, hilang atau ada yang rusak.

Menyadari pentingnya isi dan kegunaan dokumentasi foto, sudah saatnya kebiasaan mengabaikan sebuah karya foto dengan tidak menyimpan dan merawatnya dengan baik diakhiri. Sebaliknya, lakukanlah penyimpanan dan perawatan dokumentasi foto dengan baik.

Proses perawatan dokumentasi foto bisa dilakukan sendiri dengan cara yang mudah dan sederhana, serta tidak memerlukan tenaga dan biaya yang banyak. Yang perlu dilakukan adalah, beli album foto yang baik dan cukup kuat, sehingga bisa awet dan tahan lama.

Sampul depan album foto sebaiknya diberi judul, sehingga memudahkan untuk mencari dan mengetahui isi foto di dalam album misalnya, acara perayaan menyambut Tahun Baru 2008 di Bandung. Walaupun setiap gambar yang ada di dalam foto sudah bisa bercerita tentang siapa sedang melakukan apa, tetapi informasi tersebut belum cukup lengkap. Agar dokumentasi foto bisa memberikan data-data dan informasi yang akurat, sebaiknya setiap foto ada identitasnya. Misalnya apa yang dilakukan seseorang di dalam gambar, di mana peristiwanya terjadi, siapa saja yang ada di dalam foto, dan kapan pemotretan dilakukan.

Identitas foto tersebut perlu dibuat, agar ketika foto tersebut sudah berusia puluhan tahun, tetap masih bisa diketahui peristiwa apa yang terjadi di dalam foto tersebut. Seandainya foto tidak ada identitasnya, tentu sangat sulit mengidentifikasi ulang. Kalau ini terjadi, dokumentasi foto itupun akan kehilangan nilainya.

Karena itu, semua foto-foto mantan Presiden Soeharto yang dipublikasikan di media massa mempunyai identitas dan keterangan yang jelas, sehingga sangat informatif dan mudah dipahami masyarakat pembacanya.

Foto-foto yang sudah diberi identitas, harus segera dimasukkan ke dalam album foto. Pengisian foto ke dalam album foto bisa dilakukan sesuai tema di dalam foto, atau disusun secara kronologis, sehingga bisa bercerita dan mempunyai kesatuan yang utuh.

Ketiga, simpan di tempat khusus. Agar album foto bisa awet dan tahah lama, sebaiknya disimpan di tempat khusus misalnya, di almari atau rak khusus. Cara ini tidak saja akan memudahkan dalam menemukan kembali album foto yang dicari, tetapi juga akan memudahkan dalam perawatannya.

Bayangkan saja, seandainya di dalam sebuah keluarga memiliki album foto sampai puluhan buah, tetapi tidak disimpan ditempat khusus, tetapi berserakan terpisah-pisah diberbagai tempat, tentu sangat riskan dan berisiko, karena foto-foto di dalamnya akan tidak terkontrol keberadaannya, baik itu karena rusak atau diambil untuk koleksi pribadi..

Jika sudah demikian, maka ketika ada foto-foto yang diperlukan, ternyata tidak ketemu, maka yang ada tinggal penyesalan, karena data, informasi dan sejarah di dalam foto dengan sendirinya akan hilang, dan ini tidak bisa diulang kembali.

Secara periodik, misalnya satu sampai dua bulan sekali, album foto perlu dikontrol, dibuka dan diangin-anginkan, sehingga jika ada bagian yang kotor atau rusak dapat segera dibersihkan dan diperbaiki.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, dokumentasi foto sangat penting dibuat dan dipelihara dengan baik oleh setiap orang, karena setiap momen yang didokumentasikan pada dasarnya ada informasi, data dan fakta, serta sejarah di dalamnya.

Untuk itu, idealnya setiap orang atau keluarga dapat membuat dan memiliki dokumentasi foto, karena proses pembuatan dokumentasi tersebut bisa dilakukan siapa saja, tidak terlalu sulit dan relatif murah. Masalahnya tinggal kemauan setiap orang, mau atau tidak untuk membuatnya? [Eddy Suntoro]


Last modified: 1/2/08