SUARA PEMBARUAN DAILY

Pameran Foto Karya si "Anak Hilang"

SP/Berthold Sinaulan

Sejarah fotografi di Indonesia ternyata telah cukup panjang usianya. Pada awal kemerdekaan RI, kita mengenal Alex dan Frans Mendur, dua bersaudara yang banyak mengabadikan peristiwa-peristiwa bersejarah di awal berdirinya Republik Indonesia. Namun sebelum keduanya, telah ada sejumlah fotografer yang juga mengabadikan berbagai hal di Indonesia.

Pada 1913 telah terbit sebuah buku berisi 150 gambar dari Hindia-Belanda (nama Indonesia sebelum merdeka-Red.), yang diterbitkan oleh penerbit Kleynenberg, Harleem, Belanda. Buku itu berisikan berbagai foto dari berbagai daerah di Indonesia, yang ditujukan sebagai bahan informasi untuk para siswa sekolah di Belanda.

Siapa pemotretnya? Dari pencarian data ke sejumlah arsip, diketahui bahwa kemungkinan besar foto-foto itu dihasilkan oleh seorang fotografer yang bernama Jean Demmeni (1866-1939). Nama yang sebenarnya kurang dikenal di "jagat" sejarah fotografi Indonesia, bahkan sempat dianggap sebagai "anak hilang".

Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, kini menyajikan karya si "anak hilang" itu dalam suatu pameran foto bertajuk "Lewat Mata Masa Lalu" di gedung Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta Selatan, selama sebulan penuh sampai 22 Februari mendatang. Pameran yang ditangani oleh kurator Firman Ichsan, seorang fotografer senior di Indonesia, menyajikan beragam foto tentang Indonesia di masa lalu.

Bukan hanya sekadar menyajikan pameran foto, Firman Ichsan juga melacak sejarah dunia fotografi Indonesia sampai jauh ke belakang. Menurutnya, seorang fotografer bernama Adolf Schaver (yang meninggal dunia 1873), telah merekam Candi Borobudur pada 1845. Kemudian Isodore van Kinsbergen (q1821-1905) juga memotret candi terkenal itu antara kurun 1873-1874.

Nama penting dalam sejarah fotografi Indonesia juga diramaikan oleh Christian Benyamin Nieuwenhuis, dan juga sebuah firma fotografi komersial, Woodburry and Page. Karya-karya perusahaan foto komersial itu sampai saat ini masih bisa dilihat di berbagai penerbitan buku yang mereproduksi foto-foto kuno dari Batavia (sekarang bernama Jakarta) antara kurun 1858 sampai 1910. Sungguh menarik melihat kota Jakarta tempo dulu, yang sebagian kecil bangunan pada foto-foto itu masih ada sampai saat ini.

Kalau para fotografer tersebut adalah orang asing, maka Firman Ichsan juga mencatat nama seorang fotografer yang mempunyai darah bumiputera, yaitu seorang Indo, bernama Kasian Cephas (1845-1912). Cephas belakangan tercatat sebagai juru foto resmi Keraton Yogyakarta, dan dari tangannya banyak dihasilkan foto-foto yang merekam berbagai hal di sekitar Keraton Yogyakarta.

Lalu, bagaimana dengan Jean Demmeni yang karyanya kini dipamerkan di Erasmus Huis Jakarta? Menurut Firman Ichsan, walaupun karya foto dari Demmeni sering dicetak di buku-buku, bahkan dijadikan bahan panduan untuk pendidikan siswa sekolah, namanya seolah hilang dari peredaran. Apalagi, foto yang dimuat pada buku-buku yang dicetak pada awal 1910-an itu, memang tidak lazim mencantumkan nama fotografernya.

Muncul Kembali

Nama Jean Demmeni baru muncul kembali, sejak karya dilihat oleh seorang penggemar foto kuno, Leo Haks, di tahun 1984. Leo yang juga pencinta benda seni, secara kebetulan menemukan tumpukan karya-karya offset foto itu di sebuah toko buku yang menjajakan buku-buku kuno di Belanda.

Tertarik oleh karya-karya foto yang indah itu, Leo kemudian mencari tahu siapa pemotretnya. Dia mengunjungi sejumlah museum dan di Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda, dia menemukan bahwa foto-foto itu adalah karya J Demmeni.

J Demmeni atau Jean Demmeni, hasil pelacakan Leo Haks, ternyata juga mempunyai "darah" Indonesia atau paling tidak, bisa disebut mempunyai keterkaitan erat dengan Hindia-Belanda. Fotografer itu dilahirkan di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada akhir 1866. Ayahnya, Henri Demmeni adalah seorang bangsa Prancis yang menjadi tentara di Hindia- Belanda. Bisa dikatakan, Henri adalah bagian dari "legiun asing" yang bekerja untuk Kerajaan Belanda di tanah jajahannya.

Keberhasilan Henri di Perang Aceh, membuat dirinya mendapatkan penghargaan dan pangkatnya terus naik sampai menjadi seorang mayor jenderal. Henri kemudian menikah dengan seorang wanita dari Pulau Madura, kemungkinan seorang Indo kelahiran Madura, yang bernama Christina Ramers.

Dari pasangan Henri dan Christina itulah lahir Jean Demmeni. Jean kemudian bersekolah di Hindia-Belanda sampai lulus sekolah menengah, baru berangkat ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya di bidang teknik. Pada 1887, lulus dari sekolah teknik di Belanda, Jean Demmeni mengikuti jejak ayahnya menjadi tentara. Setahun kemudian, dia kembali ke tanah kelahirannya di Hindia-Belanda.

Dia merupakan seorang tentara yang mempunyai keahlian sebagai penembak jitu. Namun senjatanya itu kemudian ditinggalkan ketika dia diangkat untuk masuk ke bagian topografi militer. Di sini dia mulai mengembangkan keterampilannya dalam bidang fotografi.

Pada 1894, Jean Demmeni menjadi fotografer resmi dalam suatu ekspedisi ke Borneo (sekarang Kalimantan). Karya-karya fotonya menjadi ilustrasi buku Door Centraal Borneo yang terbit pada 1910. Karya-karya foto lainnya juga menghiasi berbagai majalah di Belanda dan di Hindia-Belanda. Bahkan Biro Pariwisata Belanda menggunakan foto-foto Jean Demmeni untuk menerbitkan brosur tentang pariwisata di Hindia-Belanda.

Jean Demmeni yang lahir dan besar di Hindia-Belanda, jelas dapat membuat foto-foto tentang Hindia-Belanda, jauh lebih baik dibandingkan dengan fotografer asing yang hanya datang ke Hindia-Belanda dan memotret di sana-sini. Kini, karya foto si "anak hilang" itu dapat disaksikan lagi untuk umum di Erasmus Huis, Jakarta.

Foto-foto yang menggambarkan pemandangan alam dan kehidupan sehari-hari di Hindia-Belanda saat itu. Mulai dari foto di ruang kelas, di pabrik tembakau, di perkebunan, foto orang berburu gajah, sampai kehidupan sehari-hari di pinggir sungai. Unik dan menarik. [B-8]


Last modified: 1/2/08