
Judul Buku:Misteri Pusaka-Pusaka Soeharto
Penulis: Ki Juru Bangunjiwo
Penerbit: Galang Press, Yogyakarta
Cetakan: 1, 2007
Tebal Buku: 243 halaman
ehidupan orang-orang besar selalu menarik untuk disimak, apalagi jika beliau adalah seorang kepala negara, baik yang masih menjabat maupun yang sudah lengser keprabon atau turun tahta. Demikian juga halnya dengan mantan Presiden Soeharto yang pernah memimpin Indonesia selama 32 tahun. Tentang kehidupan pribadinya sudah banyak diungkap, bahkan diulas dalam otobigrafinya. Begitu juga dalam pandangan dan aspek yang lain.
Tetapi hingga kini belum ada yang menulis mengenai "pusaka-pusaka" pegangan yang dipunyai Soeharto, baik ketika masih berjuang maupun ketika menjabat sebagai presiden. Memang hal ini tidak banyak diketahui masyarakat umum, lantaran semuanya mengandung misteri. Buku berjudul Misteri Pusaka-Pusaka Soeharto ini akan menguak beragam jenis benda pusaka koleksi Soeharto, simbol-simbol kekuatan, asal-usul dan ritual perawatannya.
Sebagai orang Jawa, Soeharto menempatkan pusaka bukan sekadar benda seni, tetapi juga manifestasi dari eksistensi dirinya dalam meneguhkan kekuasaan yang harus dijaga hingga akhir hayat. Karena itu, bagi Soeharto, kekuasaan bukan hanya soal siasat meraup dukungan politik melalui penundukan, tetapi juga bagaimana membangun karisma dan merawat kekuatan batin melalui benda-benda pusaka yang dimiliki.
Benda-benda pusaka itu dalam tradisi Jawa, salah-satunya diwujudkan dalam bentuk senjata (seperti keris). Senjata ini sebetulnya merupakan manifestasi dari sejarah panjang pengalaman para leluhur Jawa yang mengemuka secara fenomenal dan penuh daya pikat dan sarat lambang yang harus didalami dan dimengerti secara baik, benar dan mendalam.
Keris awalnya adalah senjata untuk mencari buruan berupa binatang atau sejenisnya. Kemudian untuk berperang mempertahankan diri dan, akhirnya digunakan sebagai senjata kehidupan untuk berlatih menjadi manusia beradab dan bermartabat. Hal ini ditunjukkan dengan lambang-lambang yang mengemuka yang ada di keris yang tergambar berupa ricikan atau ciri khusus.
Senjata yang digunakan untuk perang melawan sesamanya, berubah menjadi sebuah tuntutan atau senjata untuk mengasah diri menjadi orang yang lebih beradab dan berperikeberadaban yang sangat tinggi. Sampai ke penyatuan diri kepada sang Penciptanya (hal. 12).
Karena keris merupakan sebuah ilmu lambang, maka memahami ilmu keris secara benar masih menjadi masalah sendiri bagi pencinta keris. Sebab, perkembangan ilmu paduwungan atau perkerisan di negeri ini sudah jauh dari akar budayanya, yakni Jawa. Pemahaman Jawa bukan berarti etnis tertentu, tetapi terlebih sebuah wacana hidup yang arif bijaksana, seperti arti kata awalnya, Javana.
Keris dalam filosofi hidup manusia Jawa memiliki nilai-nilai lihur sebagai mana termaktub dalam Sangkan paraning dumadi-sangkan paraning pambudi-manunggaling kawula Gusti. Namun, keris kebanyakan masih dipahami sebagai sebuah benda yang berkekuatan magis untuk mengangkat harkat manusia. Jarang yang memahami keris itu dipesan dan dijadikan pusaka sebagai sebuah pedoman untuk hidup secara benar dan baik.
Oleh karenanya, salah satu makna pusaka khususnya keris bagi Soeharto dan orang Jawa pada umumnya adalah sebagai piyandel dan sipat kandel, karena mewujudkan harapan, doa, tuntutan dan cita-cita. Namun, doa, harapan dan cita-cita yang dimanifestasikan lewat dapur, ricikan, pamor, besi, baja itu, dan dibuat dalam laku tapa, keprihatinan puasa dan selalu memuji kebesaran Tuhan, tidak bakal terwujud sendirinya kalau tidak dijemput dengan laku yang kurang lebih serupa.
Doa, harapan dan cita-cita itu, oleh Soeharto dijemput dengan berbagai perjuangan hidup. Tidak saja harus meninggalkan keluarga ketika tengah memimpin para gerilyawan di Yogyakarta dan sekitarnya. Keharusan mengutamakan kepentingan orang lain daripada diri sendiri tergurat jelas dalam kehidupan Soeharto yang dilaksanakan dalam upaya menyongsong harapan dan doa yang tersirat di dalam pusaka yang dimiliki.
Namun, menurut Ki Juru Bangunjiwo, sebagai orang Jawa, Soeharto selalu eling dan waspada tidak terjebak dalam sebuah pemahaman yang keliru tentang pusakanya itu. Karena dia selalu ingin menempatkan pusaka-pusakanya secara proprosional. Bunyi peringatan yang selalu disodorkan para leluhur adalah: Jajine dudu jimat kemat, ananging agunging Gusti kang Pinuji. Janji bukan jimat, tetapi keagungan Allah-lah yang mesti diluhurkan (hal. 21).
Selama 32 tahun menjadi presiden di negeri ini, koleksi pusaka Soeharto terbilang sangat banyak.
Buku ini sangat luar bisa, penulis mampu membongkar pusaka-pusaka Soeharto yang selama ini tidak banyak diketahui orang. Di tangan seorang pakar Tosan Aji, Ki Juru Bangunjiwo, pusaka tidak lagi dimaknai sebagai alat atau senjata kekerasan, tetapi sebagai simbol eksistensi kehormatan diri yang harus selalu dijaga dan dirawat. [Amin Wazan, Pustakawan dan Penggiat di Lembaga KUTUB]