SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Hazwan Iskandar Jaya

Menyelamimu Sedalam Apa

Menyelamimu sedalam apa biar kutemukan rumah singgah

Merebahkan segala kedukaan ini

Mengapa tak ada pintu dan jendela yang terbuka

Ketika waktu terus berdentang

Dan kegalauan melarikan diri ke sudut cakrawala

Dalam tidur yang terjajah

Mimpi-mimpi

Kita tertunda beberapa saat. Sebab Kereta tua itu

belum juga lewat

Wajah renta dan nafas yang terengah di beranda

stasiun ketiga

Adalah tempat segala cerita bertandang, kadang

berulang tahun pula di sana

Betapa, aku menyelamimu sedalam apa, ketika

harapan dan kecemasan

Menyatu dalam kisah kasihnya

Meski tak ada yang berubah, hanyalah keinginan yang terus melecut rindu

Melampaui batas-batas agenda. Buku harian yang kian tebal

Menuliskan segala legenda: putri dan pangeran yang bebal

Mendurhakai cinta dan asmara yang terus beranak

pinak di ujung waktu

Aku menyelamimu sedalam apa

Hingga tak ada yang tersisa

Di negeri dongeng penuh balada

Yogyakarta, 2007

*

Risalah Metamorfosa

Matahari. Terbenam.

esok pun kembali

Mungkin perlu kau buka

jendela, dan biarkan pisau cahaya

Menghunjami relung batin itu

Dan kau kan terjaga dari tidur panjangmu

burung yang telah terbang jauh

masih bisa pulang lagi

mungkin ia kan merajut mimpi

sarang yang lama ditinggal pergi

menepati kekudusan janji-janji

walau musim datang dan pergi silih berganti

waktu yang sudah berlalu, mana mungkin pernah bisa kembali

begitulah, daging yang membusuk direnggut usia

kulit-kulit yang mengkerut ditelan waktu

jiwa-jiwa yang lunglai menanti permakluman

merentang kafan dan doa di setiap kuburan

engkau masih saja setia menanti

matahari. pagi

di mana burung-burung terus bernyanyi

Yogyakarta, 2007

Ajarai Aku Muliamu

senja ini ramah menyapa

dari musim ke musim

menandai perubahan

perjalanan

demikian panjang

berkelok dan berliku

dan aku tertegun

: menekuri tubuh

sempurnamu

bersama aroma dupa

kematian yang menawarkan

banyak pilihan

duh, cara mana yang bakal disentakkan

bila setiap nama yang kau sebut

selalu beralih rupa

menjelang perpisahan

selimut cahaya yang kusut masai

meluruh dalam kurun terpindai

siapakah pemilik bayang-bayang itu

tak pernah mau berlalu

dari depan pintu

maka ajari aku muliamu

melepas segala baju nafsu

dan biarkan rasa rindu

menderu, menderu

tanpa perlu menyeru

namamu...

Yogyakarta, 2007

*

Fatamorgana

Menyebut namamu, luka di kalbu

Impianlah yang senantiasa meradang dalam cermin

Bagai Rindu, berabad jarum mecucuki mata kita

Ya, kebutaan ini pun adalah bagian dari kenyataan yang fana

Membawa sebongkah kepedihan, terlunta-lunta di jalan raya

Kemana pula melangkahkan rupa? Kecuali kata-kata

Berserakan di laci meja. Tak ada tanda bahaya

Dari bunyi sirene ambulans, yang membawa segala semua

Ke kuburnya jua

Yogyakarta, April 2002/2007


Last modified: 1/2/08