Menyelamimu sedalam apa biar kutemukan rumah singgah
Merebahkan segala kedukaan ini
Mengapa tak ada pintu dan jendela yang terbuka
Ketika waktu terus berdentang
Dan kegalauan melarikan diri ke sudut cakrawala
Dalam tidur yang terjajah
Mimpi-mimpi
Kita tertunda beberapa saat. Sebab Kereta tua itu
belum juga lewat
Wajah renta dan nafas yang terengah di beranda
stasiun ketiga
Adalah tempat segala cerita bertandang, kadang
berulang tahun pula di sana
Betapa, aku menyelamimu sedalam apa, ketika
harapan dan kecemasan
Menyatu dalam kisah kasihnya
Meski tak ada yang berubah, hanyalah keinginan yang terus melecut rindu
Melampaui batas-batas agenda. Buku harian yang kian tebal
Menuliskan segala legenda: putri dan pangeran yang bebal
Mendurhakai cinta dan asmara yang terus beranak
pinak di ujung waktu
Aku menyelamimu sedalam apa
Hingga tak ada yang tersisa
Di negeri dongeng penuh balada
Yogyakarta, 2007
*
Matahari. Terbenam.
esok pun kembali
Mungkin perlu kau buka
jendela, dan biarkan pisau cahaya
Menghunjami relung batin itu
Dan kau kan terjaga dari tidur panjangmu
burung yang telah terbang jauh
masih bisa pulang lagi
mungkin ia kan merajut mimpi
sarang yang lama ditinggal pergi
menepati kekudusan janji-janji
walau musim datang dan pergi silih berganti
waktu yang sudah berlalu, mana mungkin pernah bisa kembali
begitulah, daging yang membusuk direnggut usia
kulit-kulit yang mengkerut ditelan waktu
jiwa-jiwa yang lunglai menanti permakluman
merentang kafan dan doa di setiap kuburan
engkau masih saja setia menanti
matahari. pagi
di mana burung-burung terus bernyanyi
Yogyakarta, 2007
senja ini ramah menyapa
dari musim ke musim
menandai perubahan
perjalanan
demikian panjang
berkelok dan berliku
dan aku tertegun
: menekuri tubuh
sempurnamu
bersama aroma dupa
kematian yang menawarkan
banyak pilihan
duh, cara mana yang bakal disentakkan
bila setiap nama yang kau sebut
selalu beralih rupa
menjelang perpisahan
selimut cahaya yang kusut masai
meluruh dalam kurun terpindai
siapakah pemilik bayang-bayang itu
tak pernah mau berlalu
dari depan pintu
maka ajari aku muliamu
melepas segala baju nafsu
dan biarkan rasa rindu
menderu, menderu
tanpa perlu menyeru
namamu...
Yogyakarta, 2007
*
Menyebut namamu, luka di kalbu
Impianlah yang senantiasa meradang dalam cermin
Bagai Rindu, berabad jarum mecucuki mata kita
Ya, kebutaan ini pun adalah bagian dari kenyataan yang fana
Membawa sebongkah kepedihan, terlunta-lunta di jalan raya
Kemana pula melangkahkan rupa? Kecuali kata-kata
Berserakan di laci meja. Tak ada tanda bahaya
Dari bunyi sirene ambulans, yang membawa segala semua
Ke kuburnya jua
Yogyakarta, April 2002/2007