
eski diperkirakan sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 1800-an, tetapi masyarakat keturunan Tiongkok di sini masih merayakan Tahun Baru Imlek. Aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Tiongkok. Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan.
Di Tiongkok, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti kemakmuran, panjang umur, keselamatan atau kebahagiaan. Selain itu hidangan, terutama kue-kue biasanya lebih manis daripada biasanya. makanan yang tidak boleh dilupakan adalah lapis legit, nastar, semprit, mawar serta manisan kolang-kaling. Agar pikiran menjadi jernih, disediakan agar-agar yang dicetak seperti bintang sebagai simbol kehidupan yang terang. Selain itu, kue mangkok, dan kue keranjang merupakan makanan yang wajib dihidangkan untuk menyambut tahun baru Imlek.
Sesungguhnya kue keranjang terbilang hidangan yang hadir setiap saat, tak harus di saat imlek. Kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula ini diproduksi banyak tempat mulai dari Bogor, Yogyakarta, Semarang, hingga Pontianak. Kue yang terbuat dari beras ketan dan gula ini dapat disimpan lama, bahkan dengan dijemur dapat menjadi keras seperti batu dan awet. Sebelum menjadi keras kue tersebut dapat disajikan langsung, akan tetapi setelah keras dapat diolah terlebih dahulu dengan digoreng menggunakan tepung dan telur ayam dan disajikan hangat-hangat. Dapat pula dijadikan bubur dengan dikukus (di-tjwee) kemudian ditambahkan bumbu-bumbu kesukaan.
Umumnya kue keranjang berbentuk bulat dan tebal. Namun ada juga yang menyajikannya dalam beragam bentuk. Seperti yang dilakukan Lew Soon Ming, Chef Dimsum Hotel JW Marriot yang mencoba mengkreasikan kue keranjang dalam bentuk ikan Koi. Ikan koi dalam bahasa Mandarin disebut yee yang artinya berlimpah ruah. Sesuai dengan harapan masa depan akan lebih baik dari sekarang.
Pembuatan kue keranjan berbentuk ikan koi ini ternyata tidak begitu sulit. Sang koki bahkan mau berbagi resepnya. Bahan yang disediakan adalah tepung ketan (600 gram), gula pasir (700 gram), tepung tangmien (80 gram), air panas (375 cc), santan (300 ml), dan minyak goreng (120 ml). Bahan tepung ketan, tepung tangmien, santan diaduk menjadi adonan. Sesudah menyatu adonan tersebut ditambahkan dengan gula pasir dan air panas. Adonan itu kemudian diberikan minyak dan diaduk sebentar. Kemudian adonan dimasukkan ke dalam cetakan bermotif ikan dan diberi warna merah, lalu dikukus. Adonan dapat ditambah dengan perasa pandan atau gula jawa untuk mendapat cita rasa yang berbeda.
Setelah satu jam kue keranjang atau Nien Go ini bisa dinikmati dengan digoreng dengan telur atau dikukus dengan taburan kelapa untuk mengimbangi rasanya yang manis. Caranya potong-potong kue keranjang tersebut berbentuk kotak dengan ketebalan satu centimenter. Lumuri telur lalu goreng hingga kecokelatan. Bisa juga dengan dilumuri tepung tempura dan digoreng. Semua tergantung selera Anda. Jadi tidak harus menunggu perayaan Imlek untuk dapat menikmati kue keranjang yang nikmat seperti ini. [W-10]