SUARA PEMBARUAN DAILY

Monumen Mandala Jadi Kenangan Soeharto

Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat didirikan di bekas Markas Komando Mandala, Jalan Jendral Sudirman, Makassar, Sulsel. Monumen tersebut berisi kenangan perjuangan mantan Presiden Soeharto ketika diangkat sebagai Komandan Mandala Pembebasan Irian Barat. SP/M Kiblat Said

Peristiwa perebutan dan pembebasan Irian Barat dari cengkeraman Penjajahan Belanda membekaskan kenangan perjuangan mantan Presiden HM Soeharto di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sejarah itu berawal 1 Januari 1962, ketika Soeharto berpangkat mayjen, diangkat sebagai Panglima Komando Antar Daerah Indonesia Timur merangkap Panglima Mandala untuk membebaskan Irian Barat dari intervensi kolonial Belanda. Markas komando tersebut berkedudukan di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.

Peristiwa pembebasan Irian Barat dilakukan setelah pemerintah Indonesia kecewa terhadap penyelesaian status politik Irian Barat melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda. Belanda memainkan peran untuk menjadikan "Bumi Cendrawasih" itu sebagai Negara Papua Barat (West Papua) pada 1 Desember 1961. Meskipun hal itu melanggar semangat dan materi yang dicapai dalam Konferensi Meja Bundar.

Presiden Soekarno akhirnya memutuskan hubungan diplomatik dan memulai kampanye Tiga Komando Rakyat (Trikora) untuk membebaskan Irian Barat dengan jalan kekerasan.

Soeharto ditunjuk sebagai panglima untuk memimpin operasi tersebut dan kendali operasinya berada di Makassar.

Ketika masih berpangkat Letkol, Soeharto juga pernah bertugas di Sulsel pada Januari 1950, sebagai Komandan Brigade Garuda Mataram untuk menumpas pemberontakan Kapten Andi Aziz.

Soeharto menyebut operasi pembebasan Irian Barat 19 Desember 1961 diawali dengan diterjunkan pasukan payung di Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, adalah operasi terbesar pada masa itu karena harus menghadapi musuh dengan kekuatan persenjataan yang lebih lengkap, baik udara maupun laut.

Bagian yang tak terlupakan dari operasi itu adalah gugurnya Komodor Yos Soedarso, Komandan Kapal Meriam Indonesia Macan Tutul yang tenggelam bersama kapalnya setelah tertembak meriam Belanda di Laut Arafura. Berkat operasi tersebut, kendali Irian Barat diambil alih sementara oleh PBB, sebelum akhirnya kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah melalui proses penentuan pendapat rakyat (Pepera) Irian Barat.

Diabadikan

Setelah 46 tahun sejarah pembebasan Irian Barat berlalu, Sang Panglima yang pernah memimpin operasi itu, telah berpulang kekharibaan Illahi, Minggu (27/1), pukul 13.10 WIB. Namun, jejak perjuangannya masih dapat disaksikan di sebuah monumen yang diabadikan dengan nama Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat.

Wali Kota Makassar, Ilham Arief Siradjuddin mengatakan, monumen yang diresmikan Soeharto pada tahun 1995 itu memiliki arti penting bagi rakyat Papua, khususnya warga Kota Makassar. Monumen itu dibangun dengan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sulsel tahun 1994 sebesar Rp 75 miliar. "Monumen ini sebagai rekaman sejarah dan punya arti penting bagi generasi," katanya.

Monumen Mandala dihiasi berbagai relief, berbentuk tugu setinggi 75 meter, dilengkapi ruangan khusus di bagian puncaknya dan dapat memandang kota Makassar dari ketinggian. Ruangan tersebut berdinding kaca, terdapat diorama, dilengkapi patung Soeharto sedang duduk di balik meja kerja mengenakan seragam militer.

Di sekelilingnya terdapat berbagai rekaman peristiwa dalam operasi dan juga nama-nama pasukan yang gugur dalam operasi tersebut. Kawasan monumen dilengkapi taman dan panggung hiburan.

Monumen tersebut menjadi obyek wisata pendidikan yang ramai dikunjungi siswa, begitu pula wisatawan lainnya yang ingin mengetahui peristiwa perebutan Irian Barat yang sekarang telah berganti nama menjadi Papua. [SP/M Kiblat Said]


Last modified: 1/2/08