[PURWOKERTO] Rawan pangan mulai melanda beberapa daerah di Jawa Tengah (Jateng), khususnya Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara. Kedua daerah ini memiliki beberapa wilayah yang setiap musim kemarau selalu terjadi kasus rawan pangan atau kurang gizi. Istilah yang paling sering digunakan pemerintah kabupaten (pemkab) setempat adalah kemungkinan kekurangan makan (KKM).
Beberapa Desa di Banyumas yang terletak di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Gunung Tugel, Desa Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan dan Desa Pagolongan dan Kedungrandu, Kecamatan Patikraja dalam dua minggu terakhir ini dilaporkan banyak warga yang mulai kesulitan makan.
Mereka yang tinggal di rumah-rumah sangat sederhana berukuran 4 X 4 meter, dan warga di sekitarnya mendesak kepada kepala kelurahan masing-masing agar diberi bantuan pangan.
Kepala Kelurahan Karangklesem, Harsono (40) sudah melaporkan ke petugas bagian kesejahteraan rakyat (kesra) di Pemkab Banyumas, tentang banyaknya warga sekitar TPA Gunung Tugel, baik yang masuk wilayah Kelurahan Karangklesem maupun yang masuk Desa Pegalongan yang minta bantuan pangan.
"Kami baru melapor kepada petugas kesra lewat telepon, karena sampai hari ini kami masih mendata jumlah warga yang kekurangan pangan. Yang jelas, jumlahnya di atas 100 keluarga," kata Harsono, di Banyumas, Kamis (31/1) siang.
Menurut pengamatan, Banyumas memiliki beberapa wilayah yang sering disebut kantong kemiskinan, antara lain di Desa Cikakak, Kecamatan Ajibarang dan Desa Kelapa Gading, Kecamatan Wangon.
Beberapa waktu lalu, SP sempat menyerahkan bantuan beberapa ton beras dari para pembaca SP kepada warga di Cikakak dan Kelapa Gading. Bantuan serupa juga diserahkan kepada warga yang kesulitan pangan di Banjarnegara antara lain di Kecamatan Bawang dan Kota. Bantuan lain berupa pangan dan perahu fiberglass juga diserahkan untuk para korban banjir di Cilacap, serta daerah banjir di Banyumas.
Saat ini di Banjarnegara, sudah banyak warga yang kelaparan. Untuk menyambung hidup, mereka hanya bisa makan makanan yang terbuat dari gaplek atau ubi yang dikeringkan kemudian dibuat tepung dan dikukus. Makanan itu disebut "leye".
Bupati Banjarnegara M Djasri membenarkan sebagian warganya yang tinggal di pegunungan banyak yang makan "leye". Mereka adalah warga miskin yang tinggal di daerah pegunungan yang gersang dan tidak mempunyai penghasilan tetap.
Dalam beberapa kali kesempatan setiap berkunjung ke daerah-daerah, Djasri selalu mengingatkan para kepala desa dan camat, bila terjadi hal-hal yang menyulitkan warganya, termasuk kekurang pangan agar segera melapor kepada dirinya melalui bagian kesra.
Stok Beras
Sementara itu, Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional (Divre) Banyumas, Imam Syafei mengatakan, stok beras yang tersimpan di beberapa gudang Bulog Sub Divre IV Banyumas, Jateng sampai Jumat (1/2) masih ada 25.000 ton lebih.
"Jumlah ini masih cukup untuk alokasi beras warga miskin (raskin) di kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap. Jadi tidak mungkin terjadi rawan pangan," ujarnya, Jumat pagi di Banyumas.
Menurut Syafei, pihaknya akan menyalurkan 5.626 ton untuk empat kabupaten dalam wilayah eks Karesidenan Banyumas. Meskipun stok beras banyak berkurang, penyaluran beras untuk warga miskin sampai Mei tak perlu dikhawatirkan. Apalagi, awal Maret nanti sudah mulai panen, dan bulan April sudah mulai pengadaan. Jadi sebelum stok habis, sudah ada beras yang masuk gudang lagi.
Menjawab pertanyaan, Syafei mengatakan pengadaan pangan untuk tahun 2008 ditetapkan 70.000 ton beras. Angka itu sedikit lebih tinggi dibanding tahun 2007 sebesar 67.000 ton. [WMO/M-11]