SUARA PEMBARUAN DAILY

Sekarang Harga Kebutuhan Pokok Sangat Mahal

Apa kesan-kesan pendengar, terutama kesan dan kenangan yang paling baik, tentang kepemimpinan almarhum mantan Presiden Soeharto, selama memimpin Indonesia selama 32 tahun. Pertanyaan itu disampaikan moderator dialog "Pak RT dan Pak RW di lembaga penyiaran publik Pro 4 RRI Surabaya, di Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Selasa (29/1).

Belasan pendengar yang rata-rata sudah berusia lanjut, menyampaikan keberhasilan almarhum Presiden Soeharto. Banyak program yang berhasil di masa lalu, sekarang ini tidak dilanjutkan lagi.

Kasdi, Kamituo Desa Dongkol, Kabupaten Nganjuk menyebutkan, pada tahun 1982-1983 mendapatkan bantuan Presiden (Banpres) berupa sapi. "Waktu bantuannya dua ekor sapi, sekarang sudah beranak-pinak. Hasilnya bisa untuk membeli cikar, bisa untuk mengembangkan ternak sapi dan ternak kambing," katanya. Bahkan sebuah cikar yang merupakan alat transportasi khas pedesaan ini diberi nama PT Soeharto.

"Nanti pas selamatan 40 harinya almarhum Bapak Soeharto, saya akan selamatan tahlilan dengan menyembelih beberapa ekor kambing yang berasal dari usaha ternak berkat Banpres dua ekor sapi," katanya.

Kasdi yang juga petani di desanya itu mengeluh, sekarang ini berbagai keperluan pertanian sangat mahal, bahkan sering kali menghilang di pasaran ketika dibutuhkan. Misalnya saja, pupuk menghilang saat awal tanam. Kalau ada, harganya mahal.

"Sekarang nggak ada lagi bantuan untuk petani seperti zamannya Pak Harto, dulu kalau mau tanam kita bisa dapat kredit dari bank. Jadi, sangat meringankan kami," katanya.

Pendengar RRI Surabaya asal Jombang, Sukadar yang biasanya sangat kritis dalam penyampaikan pendapat, kali ini cukup santun. "Almarhum Pak Harto, orangnya kaya raya, sangat ganteng. Tetapi tidak poligami. Ini harus menjadi teladan para pemimpin kita sekarang ini," katanya.

Siaran yang bisa diakses oleh pendengar di seluruh Jatim ini memang lebih banyak pendengar yang masuk untuk menyampaikan pendapat dan kesan paling indah.

Jumadi, pendengar asal Surabaya dengan singkat mengatakan, almarhum orang yang kekayaannya tidak akan habis sekalipun untuk tujuh turunan. Artinya sangat kaya, yang tidak akan habis sekalipun dimakan untuk tujuh generasi.

Memuji

Seorang pensiunan pegawai negeri yang tempat tinggalnya di Madiun, Nono Soengkono memuji kebijakan Korpri dan Dharma Wanita pada awal Orde Baru, sebagai alat pemersatu pegawai negeri karena sebelumnya terkotak-kotak dalam berbagai organisasi partai politik. Sayangnya kemudian Korpri sebagai pemersatu pegawai negeri itu, digiring menjadi kekuatan Golkar," katanya.

Keberhasilan di sektor pertanian sehingga Indonesia pernah menjadi negara yang swasembada pangan, juga disampaikan oleh pendengar di luar Surabaya, seperti Abd Moechid asal Mojowarno, Kabupaten Jombang.

Ibu Sudjono dari Kediri menyoroti keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) di masa lalu, sehingga bisa memperlambat laju pertumbuhan penduduk. Sekarang ini kan jumlah penduduk sudah meledak, setelah program KB tidak mendapatkan prioritas lagi," katanya.

Mengenai Pancasila, pendengar asal Nganjuk lain, Sanjoyo menilai bahwa pelajar sekarang kurang memahami Pancasila sebagai way of life. P4 yang pernah dilaksanakan, seharusnya ditampilkan lagi. Cuma metode penyampaiannya yang harus diperbaiki, bagaimana way of life dan dasar negara itu harus dipahami dan dilaksanakan oleh warga negara Indonesia.

Pendengar lainnya asal Nganjuk, Rini Andreas mengaku, sekarang ini harga kebutuhan pokok sangat mahal. "Dulu harga-harga kebutuhan murah dan rakyat nyaman, karena bisa menjangkau kebutuhan pokok. Sekarang ini harga-harga mahal, tapi harga diri negara kita tidak dihargai lagi oleh negara lain, sampai-sampai pulau saja bisa lepas ke negara tetangga. Zaman Pak Harto, mana ada yang berani mengambil pulau milik Indonesia," katanya.

Rini juga memuji almarhum Pak Harto yang murah senyum, terutama ketika tampil di forum Kelompen Capir, yang menunjukkan kepedulian Pak Harto pada sektor pertanian dan kehidupan petani dan peternak.

Mengenai perhatian terhadap petani dan nelayan menurut Dwidjo, pendengar asal Surabaya, ditunjukkan almarhum Pak Harto dengan menyarankan agar nelayan membuat rumpon-rumpon, agar ketika nelayan tidak bisa turun ke laut saat musim barat, nelayan masih bisa mendapatkan ikan di dalam rumpon.

Dwidjo mengingatkan, lazimnya dalam acara pemakaman, keluarga almarhum selain minta maaf atas kesalahan almarhum juga menyampaikan pemberitahuan berkaitan dengan utang- utang almarhum yang bisa ditagih oleh pelayat kepada keluarga almarhum, agar tidak menjadi ganjalan di hari pembalasan.

Belasan pendengar yang menyampaikan kesan-kesan indah selama satu jam ini, belum mampu menampung pendengar lain. Presenter program Pak RT-Pak RW kemudian menawarkan kesempatan untuk bertemu kembali pada acara yang sama Rabu (30/1). [Edi Soetedjo]


Last modified: 1/2/08