SUARA PEMBARUAN DAILY

JAKARTA JELANG PAGI

Ojek Dini Hari Menyenangkan

Tidak banyak aktivitas di malam itu. Entah karena hujan lebat yang mengguyur daerah Buaran Raya, Jakarta Timur, beberapa jam yang lalu, atau karena memang semua orang sudah terlelap di peraduannya.

Hanya tampak tiga pria duduk di salah satu pos penjaga kompleks perumahan. Masing-masing membungkus tubuh dengan jaket tebal. Kamis (31/1) dini hari, udara Jakarta memang dingin. Hujan deras disertai petir dan guntur mengguyur sebagian besar wilayah ibukota.

Tiga pria yang oleh warga sekitar akrab di sapa "manusia kalong" adalah seorang penjaga keamanan kompleks Taman Buaran Indah dan dua lainnya adalah tukang ojek yang biasa mangkal di daerah tersebut.

"Biasanya kalau malam begini, pasti ada aja penumpang walaupun sedikit. Tapi dari tadi sejak hujan, penumpangnya sepi. Mungkin mereka lebih memilih naik taksi ya biar enggak kehujanan," kata tukang ojek yang bernama Muhammad Yunus. Pria berumur 35 tahun ini memulai aktivitasnya tiap hari pukul 22.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB.

"Pagi sampai sore hari memang lebih banyak penumpangnya. Tapi saya lebih senang bekerja dari malam sampai dini hari, walaupun penumpangnya sedikit. Kalau sudah malam jalan sudah sepi dan enggak macet, dan penumpang saya kebanyakan bilang mereka tertolong dengan adanya ojek ini," ujar Yunus sambil tersenyum bangga.

Memang tukang ojek bukan tergolong pekerjaan yang hebat. Tapi di saat-saat tertentu, jasa mereka sangat diharapkan. Keberadaan angkutan umum misalnya, hanya ada sampai pukul 22.00 WIB. Dan setelah itu, orang akan mencari alternatif lain untuk pulang ke rumah. Umumnya, ojek menjadi favorit mereka karena biaya yang jauh lebih murah daripada taksi.

"Kebanyakan kalau malam-malam begini, penumpang saya orang-orang kantoran yang pulang lembur. Kalau pagi dan siang, lebih bervariasi," lanjut Yunus sambil menyalakan kembali rokoknya.

Bukan pilihan

Menjadi tukang ojek bukanlah pekerjaan yang Yunus pilih sebagai mata pencarian. Kesempatan untuk bekerja di kota Jakarta adalah sesuatu yang diinginkannya sejak lama. Bertujuan ingin mengadu nasib dan keberuntungan, ia dan keluarganya sengaja meninggalkan kampung halaman dan datang ke Jakarta dengan harapan dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik.

"Saya datang dari Sidoarjo bersama istri dan anak saya, Lestari tahun 1989. Saya cuma sekolah SMA, itu juga enggak lulus. Tidak ada biaya sekolah dari orangtua saya. Terus saya coba-coba jadi kondektur dan sopir angkutan umum di Jakarta," kisah Yunus tentang hidupnya.

Ternyata menjadi kondektur dan sopir angkutan umum tidak mencukupi nafkah untuk anak dan istri. "Apalagi banyak sekali saingannya sekarang. Tidak seperti dulu lagi. Lalu waktu mertua saya di kampung dapat uang ganti rugi tanah, istri saya diberi modal untuk buka warung kecil di rumah dan saya membeli sepeda motor lalu jadi tukang ojek," katanya.

Yunus lalu bercerita tentang suka dukanya menjadi tukang ojek yang sudah ia lakoni sekitar empat tahun silam. Ia mengaku sangat menikmati pekerjaannya. "Ini pekerjaan paling enak, Mbak. Kalau tidak ada penumpang, saya tinggal pulang tidur ke rumah dan berangkat kerja lagi sore atau malamnya. Tidak ada bos yang marah-marah sama saya. Pokoknya kalau mau narik tinggal berangkat saja," kata Yunus santai.

Dari aktivitasnya sebagai tukang ojek, ia bisa membawa pulang antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu tiap hari. Dan sekitar 30 persen di antaranya dipakai untuk membeli bahan bakar, makan dan rokok. Sisanya ia serahkan kepada istrinya. Kebanyakan rute yang ia tempuh adalah sekitar daerah Buaran, Duren Sawit dan Kali Malang dengan tarif bervariasi berkisar antara Rp 5.000 sampai Rp 20.000 untuk satu kali pengantaran, tergantung wilayah tujuan.

Namun, dengan semakin banyaknya taksi yang beroperasi, tak urung mengancam pendapatannya sebagai ojek. Tapi Yunus mengaku pasrah dan siap menghadapi risiko mesti bersaing dengan taksi yang nota bene memberikan fasilitas kenyamanan lebih baik. Yunus pun tak khawatir jika mesti bersaing dengan tukang-tukang ojek lainnya yang juga terus bertambah. "Rejeki itu Allah yang mengatur. Buktinya saya bisa menghidupi istri dan anakku dengan ojek sampai sekarang. Yang penting kan kita sudah berusaha. Pasti masih ada orang-orang yang mau naik ojek walaupun persaingan dengan taksi makin tinggi," kata Yunus pelan sambil mengisap dalam kreteknya. [Merry Sondang]


Last modified: 1/2/08