SUARA PEMBARUAN DAILY

Menguji Kesucian Cinta Pertama

Film: Love in the Time of Cholera

Sutradara: Mike Newell

Pemain: John Leguizamo, Liev Schreiber, Javier Bardem dan Laura Harring.

Skenario: Gabriel García Márquez & Ronald Harwood

Genre: Drama Roman

Tidak ada manusia di dunia ini yang hidup bahagia tanpa kekuatan cinta, apalagi cinta pertama atau first love. Bahkan, manusia ingin merasakan cinta hingga ajal tiba. Cinta pulalah yang mampu membawa manusia untuk menentukan takdir kehidupan.

Kesan itulah yang tertuang dalam film Love in the Time of Cholera karya novelis kelahiran Aracataca, Kolombia tahun 1928, Gabriel Garcia Marquez.Takdir hidupku adalah mencintai Fermina Daza (diperankan Giovanna Mezzogiorno)," ucap Fiorentino Ariza (Javier Bardem).

Fiorentino baru saja mengajak seorang gadis impiannya untuk menikah. Lamarannya itu dilontarkan seraya melantunkan musik klasik dari gesekan biolanya di halaman belakang rumah seorang saudagar kaya (ayah Fermina Daza), Lorenzo Daza.

Akan tetapi, perjalanan cinta pada pandangan pertama seorang Fiorentino, seorang petugas telegram, tidak mulus. Lorenzo marah besar ketika tahu anaknya terlibat cinta terlarang dari lembaran surat-surat cinta.

Obsesi sang ayah pindah ke Kota Cartagena, Kolombia, atau tiga tahun setelah kematian sang istri, adalah menggelar pesta perkawinan agung. Fermina, anak gadisnya harus menikah dengan pemuda sederajat, bukan petugas telegram seperti Fiorentino.

Segala macam cara pun dilakukan sang ayah untuk memisahkan cinta dua sejoli itu, Lorenzo bahkan sengaja pindah ke sebuah desa yang letaknya melewati hutan dan gunung terjal. Untuk perjalanan ke sana, orang butuh waktu satu minggu dengan menunggang kuda dari Kota Cartagena.

Cinta jarak jauh itu membuat hati Fermina berubah. Cinta dan janjinya terhadap Fiorentino tak lebih dari sekadar khayalan. Adalah seorang dokter jebolan sebuah universitas di Paris, Prancis, Juvenal Urbino (Benjamin Bratt), yang kemudian berhasil mengisi kehampaan cinta Fermina.

Pernikahan Fermina dengan Juvenal tak ayal meluluhlantakkan hati Florentino. Di saat hatinya terguncang, 0ada kata-kata dari mulut Fiorentino yang membuat penonton larut dalam kesedihan yang mendalam. "Saya bagai tersambar kilat cinta dan terbakar habis," jerit Fermina.

Fiorentino pun mencoba melakukan petualangan cinta untuk menemukan tandingan dari sebuah kesucian cinta pertama. Melalui kata-kata cinta yang dibuatnya dengan menjual jasa menulis surat untuk orang-orang yang sedang kasmaran, Fiorentino berhasil memadukan cinta dua insan hingga memiliki seorang anak. Bahkan, sebagai tanda terima kasihnya, kedua orang itu menginginkan Fiorentino sebagai Bapak Baptis dari anaknya.

633 Perempuan

Akan tetapi, bagaimana dengan kehidupan Fiorentino. Dia masih terus mencari tandingan apakah ada cinta yang mampu mengalahkan kekuatan cinta pertamanya terhadap Fermina. Meskipun telah meniduri sebanyak 633 perempuan, ternyata tidak satu pun perempuan yang mampu memberikan cinta suci pada Fiorentino.

Setelah suami Fermina, Juvenal, meninggal dunia pada usia 80 tahun akibat kecelakaan saat hendak mengambil burung betet hijau kesayangannya di pohon mangga di belakang rumahnya, Fiorentina seperti menemukan kembali cinta pertamanya.

"Saya menunggu saat-saat seperti ini selama 51 tahun, 9 bulan, dan 4 hari. Saya masih mencintaimu," demikian kata Fiorentino renta yang sudah berusia 72 tahun.

Semula, Fermina terkejut dengan ucapan Fiorentino. Dia mengira Fiorentino memanfaatkan keadaan. Fermina baru saja ditinggal mati suami. Fiorentino pun diusir. Adegan mulai dari tewasnya Juvenal hingga diusirnya Fiorentino inilah yang menjadi awal dan menjelang akhir film Love in the Time of Cholera yang berdurasi 139 menit ini.

Akan tetapi, lewat surat demi surat dengan bahasa cintanya yang sederhana, Florentino berhasil meluluhkan hati Fermina. Sampai akhirnya, setelah menunggu selama 53 tahun, 7 bulan, cinta mereka pun bersemi kembali di sebuah kapal mewah milik perusahaan Fiorentino, Nueva Fidelidad yang sedang berlayar menyusuri sungai-sungai di Kolombia, meskipun sebelumnya sempat ditentang oleh anak perempuan Fermina, Ofelia.

Jika mengamati film yang disutradarai Mike Newell ini, film yang mengambil kondisi Kolombia di saat peralihan dari abad ke-19 ke abad 20 ini dan sedang didera oleh wabah kolera yang sudah memakan korban jiwa. Bahkan, dalam film tersebut, digambarkan bahwa wabah kolera lebih menakutkan daripada perang. Penyakit kolera menjadi sesuatu yang mencekam dan kemudian hilang.

Akan tetapi, dalam film ini, sang sutradara menjadikan kolera sebagai suatu media kondisi untuk mempertemukan cinta antara Fermina dengan sang dokter Juvelin, yang menjadi inti dari petualangan cinta seorang Fiorentino.

Film Love in the Time of Cholera baru akan diputar serempak di bioskop-bioskop di Jakarta, mulai 13 Februari mendatang. Film ini layak ditonton karena diadaptasi dari novel karya Gabriel Garcia Marquez yang meraih Nobel. Dan juga, film ini diperkuat oleh daya imajinasi yang kuat dari sang sutradara, Mike Newell. Newell pernah menyutradarai film Harry Potter and the Goblet of Fire dan Four Wedding and a Funeral. [SP/Ferry Kodrat]


Last modified: 1/2/08