[JAKARTA] Penurunan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) sebesar 50 basis poin (0,5 persen) memberi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunganya (BI rate) pada Februari 2008.
Meski inflasi Januari 2008 diperkirakan naik hingga menembus angka satu persen, namun turunnya suku bunga The Fed menjadi sentimen positif dari faktor eksternal yang dapat dipertimbangakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI dalam menetapkan kebijakan BI rate pada Februari.
Pengamat perbankan, Ryan Kiryanto mengatakan, suku bunga The Fed yang sejak akhir 2007 sampai sekarang telah turun sebesar 125 basis poin (1,25 persen) dari 4,25 persen menjadi 3 persen, mempengaruhi interest rate differential menjadi 500 basis poin atau 5 persen.
Hal ini, lanjutnya, akan menciptakan arus modal asing (capital inflow) ke pasar modal dan pasar uang, sehingga berpeluang mengangkat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menopang posisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
"Dari pertimbangan faktor eksternal ini, akan ada ruang bagi BI untuk menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin (0,25 persen, red) dari 8 persen menjadi 7,75 persen," kata Ryan, kepada SP, di Jakarta, Kamis (31/1).
Menurut dia, penurunan BI rate ke level 7,75 persen masih baik bagi BI dan pemerintah dalam membuat kebijakan moneter dan fiskal untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal itu, juga memberi ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit, sehingga dapat memicu peningkatan pembiayaan untuk menggerakkan sektor riil.
"Untuk 2008, BI rate diperkirakan bergerak di kisaran 7,50 persen sampai 8 persen dengan catatan inflasi berada di kisaran 5,5 persen sampai 6,5 persen," ujar Ryan.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiadmadja mengatakan, penurunan BI rate menjadi salah satu pertimbangan bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga. Namun untuk menetapkan kebijakan suku bunga, perbankan tetap harus memperhatikan tingkat inflasi dan kondisi likuiditasnya.
"Kalau BI rate berkisar antara 7,5 persen sampai 8 persen di tahun ini, bank bisa menurunkan suku bunga. Tapi mengingat kondisi perekonomian yang belum menentu juga inflasi yang cenderung tinggi, kemungkinan bank masih mempertahankan suku bunga yang berlaku sekarang," kata Jahja yang ditemui disela-sela acara peluncuran buku mantan Deputi Gubernur BI, Aulia Pohan, di Gedung Jakarta Convention Center (JCC), Kamis sore.
Menteri Koordinator Perekonomian, Boediono, meminta agar masyarakat tidak latah dalam menyikapi tingginya perbedaan atau differential spread antara BI Rate dan bunga The Fed. Untuk ikut menurunkan BI Rate, semuanya akan tergantung pada inflasi yang akan diumumkan BPS hari ini. "Kita lihat posisi kita deh. Jangan latah saja," tuturnya.
Penurunan bunga The Fed, menurutnya, disebabkan antara lain oleh krisis kredit sektor perumahan (subprime mortgage) yang berbuntut panjang. Alhasil, likuiditas pun agak ketat. Namun, Boediono menilai, keputusan penurunan bunga tersebut belum tentu berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Untuk dalam negeri, ia melihat, masalah ekspor lah yang paling utama, apakah akan memberi dampak pada ekspor Indonesia atau tidak.
"Kalau kita lihat dari struktur ekspor kita, banyak dari ekspor kita adalah komoditi yang harganya masih bagus. Bisa saja dari resesi atau perlambatan AS itu harga-harga komoditi kita juga turun. Itu harus diantisipasi. Tetapi (ekspor kita) masih bagus, masih sangat tinggi," jelasnya.
Inflasi
Sementara itu, Ryan mengatakan, inflasi Januari 2008 diperkirakan naik, berkisar antara 0,9 persen sampai 1,2 persen. Hal itu, terutama dipengaruhi tingginya harga komoditas bahan makanan dan bencana yang berlangsung di beberapa wilayah Indonesia.
Meski meningkatnya inflasi pada Januari biasanya terjadi secara musiman (seasonal inflation), namun kali ini pemerintah harus memperhatikan berbagai faktor, baik internal dan eksternal yang menekan inflasi.
Tinggginya harga komoditas pangan akibat berkurangnya pasokan dalam negeri akibat berbagai bencana alam dan meningkatnya permintaan akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), membuat Indonesia terancan inflasi yang tinggi.
"Pemerintah harus tetap berupaya menjaga kestabilan harga dan ketersediaan kebutuhan pokok, supaya tekanan terhadap inflasi dari komoditas bahan makanan dapat berkurang," kata Ryan. [J-9/D-10]