rogram-program edukasi di layar kaca kita kalah pamor dengan program hiburan seperti infotainment, variety show, dan sinetron. Hasil riset AGB Nielsen Media Research baru-baru ini sebenarnya tidak mengejutkan. Program edukasi memang jadi anak tiri di hampir semua stasiun televisi. Hampir tak ada stasiun televisi yang mau membuang prime time-nya untuk menayangkan program edukasi. Persaingan program televisi pada jam prime time sangat keras.
Wasit dari persaingan itu adalah rating. Makin tinggi rating, makin tinggi pula iklan yang akan diraup. Rating mengukur banyaknya penonton suatu program acara. Inilah yang menjadi alasan pemasang iklan untuk mengiklankan produknya. Rating itu kuantitatif, mengukur banyaknya penonton. Tidak mengukur kualitas suatu mata acara.
Pernah stasiun televisi kita berlomba-lomba menayangkan sinetron tentang hantu. Hampir semua nama hantu di negeri ini menjadi judul dan tema sinetron. Kenapa begitu? Ratingnya bagus. Kondisi ini banyak memancing protes. Tetapi mana stasiun televisi mau peduli. Selama masih banyak penontonnya kenapa harus distop. Kalau ratingnya bagus, jalan terus.
Rating adalah nasib televisi. Persaingan antartelevisi sangat ketat. Dalam keadaan seperti ini, rating menjadi segala-galanya. Bila ada satu program melejit ratingnya, maka akan muncul latah untuk memproduk acara serupa. Bila satu stasiun sukses menjual hantu, maka stasiun televisi lain ikut-ikutan. Sikap latah macam ini hampir selalu terjadi. Keberhasilan acara Empat Mata dari Tukul telah memberi inspirasi untuk menayangkan acara yang mirip.
Sayang, rating tinggi tidak dapat menjamin suatu tayangan otomatis berkualitas baik pula. Sebaliknya, rating rendah belum tentu menunjukkan kualitas tontonan yang buruk. Rating memang tidak bisa menjawab persoalan kualitas atau tidaknya suatu tayangan. Rating juga tidak dapat menjawab selera masyarakat, apalagi jika dijadikan tolok ukur untuk mengetahui disukai atau tidaknya suatu tayangan. Survei permisa hanya ingin mendapat jawaban apakah suatu tayangan ditonton atau tidak. Jika ya, berapa banyak yang menonton dan bagaimana karakteristik penontonnya.
Jika begitu keadaannya, janganlah kita berharap banyak tayangan yang sifatnya edukatif akan mendapat slot waktu yang lebih banyak. Tentu kita tidak bisa berharap televisi mengambil alih peran lembaga pendidikan.
Memang program edukasi itu tidak perlu berbentuk mengajar seperti yang dilakukan sekolah atau lembaga pendidikan. Ada cukup banyak program televisi yang menampilkan elemen-elemen edukasi. Program berita misalnya. Lewat program berita pemirsa akan mendapat banyak pengetahuan. Sinetron pun bisa mempunyai nilai edukatif pula seperti ajaran perbuatan buruk akan mendapat ganjaran. Sebaliknya perbuatan baik akan mendapatkan pahala.
Porsi tayangan edukasi yang relatif sedikit juga diperburuk minimnya stasiun televisi yang bersedia menyiarkan tontonan yang mendidik. Di samping itu, jam tayang program edukasi juga tergeser oleh program lain yang dianggap lebih menarik seperti sinetron dan acara hiburan atau infotainment.
Namun sebagai media publik, televisi tidak bisa bebas dari kewajiban untuk menyuguhkan tayangan yang memiliki nilai edukatif, walaupun ratingnya kecil. Selain harus terus mengejar keuntungan, stasiun televisi juga mempunyai tanggung jawab sosial untuk ikut mencerdaskan masyarakat. Kita berharap, program edukasi itu yang sudah ada itu tidak terganjal oleh rating. Inilah tanggung jawab sosial televisi.
Sayang, survei kepermisaan televisi di Tanah Air baru dilakukan oleh ABG Nielsen Media Research, sehingga masyarakat tidak memiliki pembanding.