SUARA PEMBARUAN DAILY

Memanfaatkan Wafatnya Soeharto

Astana Giribangun, di Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, lumayan panas, Senin (28/1) pagi hingg siang. Udara pengap dan lembap membuat orang segera kepanasan dan berkeringat. Kawasan yang dikenal sebagai kompleks pemakaman Ibu Tien Soeharto itu berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Udara yang mestinya sejuk terkalahkan oleh teriknya matahari yang bersinar cerah sejak pagi.

Hari makin siang ketika ratusan dan bahkan ribuan orang berdatangan ke kawasan itu. Mereka tahu, mantan Presiden Soeharto meninggal dunia pada Minggu, (27/1) di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Maka sejak Senin pagi, meski telah diimbau jauh-jauh hari untuk tidak datang, tetap saja orang berdatangan ke Astana Giribangun.

Bukan hanya tidak peduli dengan teriknya matahari, orang dari berbagai kota itu tidak peduli dengan ditutupnya jalan di kilometer tiga sebelum kawasan Astana Giribangun. Memang, ketika belum banyak orang yang datang, mobil pengimbal (shuttle car) dari Lapangan Desa Karangbangun tersedia dan secara periodik membawa pelayat, wartawan, dan masyarakat serta pejabat menuju Astana Giribangun.

Namun, ketika makin banyak pejabat yang diizinkan bermobil sampai Astana Giribangun, tak ayal jalan macet. Apalagi jalan sekitar 200 meter menjelang Astana Giribangun longsor di sisi kiri sehingga makin menyempit. Alhasil mereka yang datang belakangan -termasuk pejabat hingga setingkat menteri dan duta besar- tidak hanya harus turun di Lapangan Karangbangun, tetapi juga berjalan kaki menuju Astana Giribangun.

Masih beruntung kalau ada sepeda motor yang disediakan panitia atau ojek dadakan yang bermunculan sejak pagi. Kalau tidak, karena lalu lintas nyaris stagnan, mereka harus rela berjalan kaki sejauh tiga kilometer dan sebagian besar menanjak.

Bahkan mobil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun hanya bisa bergerak sedikit demi sedikit untuk sampai Astana Giribangun.

Begitu juga mobil jenazah Pak Harto -begitu mantan presiden itu biasa disapa- perlu waktu lebih lama daripada yang dijadwalkan. Maka Pak Harto pun dimakamkan melebihi waktu yang diinginkannya, yakni sebelum azan zuhur. Ribuan pelayat yang adalah rakyat biasa memang tidak diperkenankan memasuki kawasan Astana Giribangun. Mereka akhirnya mencegat di sepanjang jalan dan memenuhi jalan yang hanya selebar kurang dari 10 meter itu.

Berita bahwa masyarakat menyebabkan perjalanan dari Bandara Adisumarmo, di Solo, menuju Astana Giribangun melambat, memang dapat didengar dari stasiun radio yang menyiarkan langsung peristiwa itu. Ditambah lagi laporan MC upacara pemakaman secara berkala kepada para pelayat di Astana Giribangun.

"Rombongan jenazah saat ini sudah sampai di terminal Solo," katanya suatu ketika, membuat pelayat harus menahan tawa. Lucu karena laporannya itu membuat seolah-olah rombongan yang membawa jenazah Pak Harto mampir di Terminal Tirtonadi, Solo.

Rezeki

Pelayat dan masyarakat sekitar memang cukup sabar menunggu momen yang dipastikan hanya berlangsung satu kali untuk setiap orang seperti ini. "Rumiyin naliko Ibu Tien, inggih sami, Mas, malah langkung kathah tiyangipun," kata Win, penjual makanan kecil di Lapangan Karangbangun.

Maksudnya, dulu ketika Ibu Tien Soeharto meninggal, suasananya juga sama, bahkan lebih banyak orang yang datang. Win yang sehari-harinya berjualan di salah satu pasar di Karanganyar itu pun mengaku memperoleh rezeki dari meninggalnya Pak Harto.

"Nggih rejekine tiyang seda, Mas," katanya didampingi suaminya, yang kebagian tugas membawa barang dari rumah ke lokasi penjualan. Maksud dia, rezekinya hari ini adalah rezeki dari orang yang meninggal dunia.

Tidak beda dengan Bagong (begitu pengakuannya ketika ditanya namanya), tukang ojek dadakan yang juga mengaku terus terang "memanfaatkan" momentum yang tidak pernah terulang itu. Bagong yang sehari-harinya adalah sopir bus umum jurusan Matesih-Solo kebetulan libur, Senin kemarin. "Ya daripada diam di rumah, kan mendingan ngojek begini, dapat duit," katanya.

Pada hari pemakaman almarhum mantan Presiden Soeharto, kemarin, memang muncul "trayek" baru di Matesih untuk ojek, yakni Lapangan Karangbangun-Astana Giribangun atau sebaliknya. Bukan hanya trayek baru, juga banyak tukang ojek baru bermunculan. "Ya rasanya memang semua orang sini (Karangbangun dan sekitarnya, Red) jadi tukang ojek, lha setiap rumah ada sepeda motor kok," katanya.

Bagong, berbeda dengan Win, menyebut upacara pemakaman almarhum Pak Harto lebih ramai dan lebih banyak didatangi orang dibanding pemakaman almarhum Ibu Tien Soeharto, 29 April 1996, hampir 12 tahun silam. "Rumiyin niku rak rodo-rodo dirahasiake to, Mas," katanya. Artinya, ketika itu pemakaman seperti agak dirahasiakan, katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut pernyataannya.

Kemarin, Bagong dan Mbak Win adalah dua contoh dari ratusan warga sekitar yang "memanfaatkan" pemakaman almarhum Pak Harto. Di jalan masuk menuju Astana Giribangun seusai upacara pemakaman misalnya, puluhan orang berjualan aneka makanan dan minuman. Belum lagi ratusan orang yang mengendarai sepeda motor sambil tak henti menawarkan, "ojek pak, ojek mas, ojek bu, sampai lapangan." Ke mana pun muka berpaling, tawaran itu terlontar dan lumayan membuat risi.

Begitu pun, mereka tidak memaksa. Hanya menawarkannya lumayan agresif. Termasuk para penjual makanan dan minuman. Aktif dan bahkan proaktif. Satu hal yang boleh dicatat adalah, semuanya tidak aji mumpung. Air minum mineral 600 ml yang di Jakarta seharga Rp 2.000, dijual dengan harga sama di situ. Begitu juga teh botol, teh dalam gelas plastik, dijual dengan harga sama persis di banyak tempat. Tak beda dengan tarif ojek, jarak tempuh naik turun sejauh tiga kilometer adalah wajar, bertarif Rp 5.000.

Sama sekali tidak ada kesan dan apalagi niat aji mumpung, padahal kesempatan itu ada dan cukup besar. Biasanya di Astana Giribangun banyak terdapat penjual makanan dan minuman. Namun kemarin, mereka harus menggosongkan tempatnya karena memang tidak diizinkan berjualan.

"Disterilkan"

Astana Giribangun memang sudah "disterilkan" sejak sehari sebelumnya untuk pemakaman yang dipimpin Presiden Yudho-yono dan dihadiri banyak pejabat negara itu. Di hari-hari Pak Harto dirawat di RSPP pun, sejak 4 Januari 2008, yang membuat Astana Giribangun dikunjungi banyak peziarah, pedagang juga tidak menjadi aji mumpung. Semua harga makanan dan minuman "normal-normal" saja, bahkan ketika harga bahan kebutuhan pokok meningkat.

Yang boleh dibilang aji mumpung, kemarin adalah para tukang copet. Tidak sedikit pelayat yang kehilangan dompet dan telepon genggam.

Rombongan satu keluarga besar berjumlah delapan orang dari Jombang, Jawa Timur, siang kemarin harus rela makan nasi bungkus seharga Rp 3.000 per bungkus. Si bapak ketika ditanya berasal dari mana, malah "curhat", "Kulo mantun kecopetan, arto sekawan atus seket kalih henpun (handphone) ical (Saya baru saja kecopetan, uang empat ratus lima puluh ribu rupiah dan handphone hilang)," katanya sambil menunjukkan tasnya yang sobek akibat irisan silet.

Polisi bukannya tinggal diam, dan memang ada beberapa copet yang tertangkap tangan, dan kemudian diamankan polisi, bahkan dihajar massa. Namun, uang Pak Sukirlan asal Jombang itu tak kembali. Ia harus rela makan seadanya, karena masih harus membeli bensin dan membayar ongkos sewa mobil. [SP/YW Nugroho]


Last modified: 29/1/08