
Puncak acara Seren Taun ditandai dengan penyimpanan bibit padi di "Leuit Ratna Inten" di Sindangbarang, Kabupaten Bogor. Leuit adalah bangunan menyerupai rumah yang di masa lampau menjadi tempat penyimpanan padi.
inggu (27/1) sekitar pukul 15.00, di Kampung Sindangbarang, Desa Pasir Eurih, Kabupaten Bogor, tampak meriah. Tepatnya, di Kampung Budaya Sindangbarang. Semua orang di kampung itu ceria. Aneka buah-buahan yang sebelumnya dibawa ke tengah lapangan, sudah menghilang. Nyaris tinggal bekas-bekasnya. Buah-buahan itu diperebutkan dalam suasana penuh keceriaan.
Di beberapa sudut lapangan, tampak anak-anak sedang makan buah-buahan. Di pojok lainnya, terlihat orang tengah menyantap nasi tumpeng. Sebagian lainnya tampak sumringah membawa pisang, tomat, nenas, dan buah-buahan lainnya. Mereka lebih senang membawa hasil bumi itu ke rumah masing-masing.
Sekali lagi tidak ada tanpa-tanda kesedihan di tempat itu, tempat yang menjadi ajang upacara Seren Taun Guru Bumi. Upacara itu adalah upacara syukur masyarakat agraris atas hasil panenannya.
Acara Seren Taun yang untuk ketiga kalinya diselenggarakan di kampung itu, pada Minggu itu memasuki hari terakhir. Kegiatan puncak Seren Taun usai sudah. Pupuhu Adat, atau tokoh adat setempat, Maki Sumawijaya sudah melaksanakan kewajibannya. Ia naik ke tangga bambu sambil membawa padi. Padi untuk benih musim panen berikutnya, lalu disimpan di sebuah leuit. Leuit adalah sebutan di masyarakat Sunda untuk menyebutkan tempat yang menyerupai rumah untuk menyimpan padi.
Saat itu tidak ada tanda-tanda yang menyiratkan makna bahwa mantan presiden Indonesia, Soeharto, meninggal. Tidak ada seorang pun yang membicarakannya. Televisi memang tidak terlihat di rumah-rumah terbuat dari bilik di di kampung itu.
Telepon genggam memang terlihat ditenteng beberapa tamu undangan, tapi tak ada yang terlihat bersedih saat menggunakan teleponnya. Tidak terlihat ada yang tengah menulis pesan singkat dengan nada serius apalagi sendu. Setidaknya itu yang terlihat hingga sekitar pukul 15.00.
Begitulah, di tengah gelombang informasi, terutama melalui televisi yang mewartakan kematian Soeharto terus-menerus, masyarakat Sindangbarang dan mereka yang sengaja ikut prosesi Seren Taun, seolah terputus dari dunia luar.
Syukur
Sejak Rabu (23/1) hingga Minggu itu masyarakat Sindangbarang dengan gembira melaksanakan upacara Seren Taun. Tamu undangan datang dari berbagai daerah di Jawa Barat dan daerah lainnya.
Dari rentang waktu pelaksanaan upacara saja terlihat betapa seriusnya mereka mengikuti acara tersebut. "Seren Taun itu bentuk kebudayaan atau tradisi masyarakat Sunda di masa lalu. Inti kegiatan ialah mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi. Seren Taun juga sekaligus bermakna sebagai harapan agar hasil panen berikutnya juga baik," ujar Maki.
Beragam kegiatan dilaksanakan dalam upacara tahun ini. Pentas seni, itu sudah pasti. Dari mulai Jaipongan hingga pertunjukan Tarawangsa yang sengaja didatangkan dari Kampung Cikalong, Sumedang. Sabtu malam lalu. Beberapa dosen dan mahasiswa Universitas Indonesia yang ikut membantu pelaksanaan Seren Taun larut dalam rasa nikmat luar biasa saat menari dengan iringan musik Tarawangsa.
Panitia kegiatan sengaja mengajak orang luar yang datang ke acara itu untuk berziarah ke tempat makam tokoh masyarakat setempat. Beberapa di antara makam yang dikunjungi ialah makam Mama H Ali, Embah Jampang, dan Abang Entong.
Ada juga acara mengarak dan menyembelih kerbau. Acara paling meriah mungkin adalah acara hari Minggu, yang menampilkan masyarakat yang membawa hasil bumi ke tengah lapangan. Masyarakat yang membawa padi, buah-buahan dan nasi tumpeng itu, berjalan menyusuri jalan kecil, melalui sawah sebelum memasuki lapangan tempat acara dilaksanakan.
Dari kejauhan aneka warna pakaian masyarakat dan buah-buahan sudah menimbulkan sensasi tersendiri. Dan puncak kegiatan, setidaknya itu bagi masyarakat dan tamu undangan, ya, rebutan hasil bumi itu.
![]()
Foto-foto:SP/Aa Sudirman
Anak dan remaja Sindangbarang dengan ceria tampak tengah menari dalam acara Seren Taun di kampungnya, Minggu (27/1).
Kota
Seren Taun di Sindangbarang memang sama dengan acara yang sering digelar di berbagai tempat di Jawa Barat. Seren Taun di komunitas Kasepuhan Ciptagelar di Cisolok, Sukabumi, dan di Cigugur, Kuningan, adalah kegiatan yang sudah terkenal. Semuanya merupakan manifestasi keluhuran tradisi luhur leluhur masyarakat Sunda. Hingga kini belum ada penelitian resmi mengenai sejak kapan tradisi Seren Taun di masyarakat Sunda dilaksanakan.
Mengutip keterangan budayawan Sunda, Anis Djatisunda, dalam berbagai kesempatan, tradisi Seren Taun sudah dilaksanakan sejak era Kerajaan Padjajaran. Tidak mengherankan jika banyak komunitas masyarakat terutama di pelosok kampung yang masih menyelenggarakan tradisi itu.
Tapi upacara Seren Taun di Sindangbarang jelas punya keunikan tersendiri. Lokasi Sindangbarang adalah salah satu alasannya. Kampung Sindangbarang sangat mudah dijangkau. Dari tengah Kota Bogor hanya butuh dana Rp 2.000 untuk mencapainya. Tempat itu dijangkau dengan naik angkot No 03 jurusan Ciapus. Cukup minta tolong sopir untuk berhenti di Kampung Budaya Sindangbarang, urusan sudah nyaris selesai. Bagi yang tidak membawa kendaraan bisa berjalan sekitar 15 menit untuk mencapai kampung itu.
Bagi yang tidak membawa kendaraan dan merasa lelah berjalan, ojek tersedia. Cukup bayar Rp 3 ribu di siang hari dan Rp 5 ribu di malam hari, kampung yang unik itu pun sudah bisa dijangkau. Bandingkan dengan lokasi pelaksanaan Seren Taun di Ciptagelar yang jelas menuntut stamina prima bagi siapa pun yang ingin mengikutinya.
"Naik ke sebelah kiri, itu kampungnya," kata Daya, tukang ojek yang mengantar SP ke Kampung Sindangbarang.
Dan, hilang sudah rasa kesal karena kemacetan di sepanjang jalan di Kota Bogor saat memasuki area kampung itu. Dari jauh sudah terlihat Imah Gede, atau rumah induk di kampung itu. Di sebelah kiri terlihat jejeran leuit yang mengingatkan kita pada bangunan serupa di komunitas Kanekes di bawah Gunung Kendeng, Banten.
Masuk ke tengah lapangan, akan terlihat deretan rumah yang terletak di bagian bawah lokasi kampung itu. Di kiri dan kanan kampung, ya, apalagi, jika bukan area persawahan.
Di malam hari, di tengah dinginnya angin, suara kecapi suling membuat suasana terasa nyaman. Tidak mengherankan jika dari tahun ke tahun semakin banyak orang yang ingin datang untuk ikut dalam acara Seren Taun itu.
Menurut keterangan beberapa penduduk di kampung itu, upacara Seren Taun nyaris tidak dikenal masyarakat terutama generasi muda. Munculnya upacara Seren Taun di Sindangbarang tidak lepas dari keinginan Maki Sumawijaya untuk menggali lagi tradisi lama masyarakat Pasundan. Ingatannya saat kecil ikut upacara Seren Taun bersama keluarga membawanya berkeliling menemui banyak orang tua di kampung itu. Ternyata masih banyak orangtua yang punya kisah lengkap tentang pelaksanaan upacara itu puluhan tahun lalu.
Di tengah kerinduannya untuk menggali lagi tradisi lama, muncul banyak laporan penduduk tentang penemuan mengenai berbagai situs kuno di kampung itu. Agus Arismunandar, dosen arkeologi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang melakukan kajian di wilayah itu dengan tegas mengatakan, "Sindangbarang penuh dengan peninggalan sejarah Sunda. Di tempat itu kami menemukan situs dari abad ke-13 hingga ke-15 Masehi. Beberapa situs yang telah ditemukan ialah Punden Berundak Rucita, Punden Berundak Pasir Eurih, Batu Patilasan Eyang Surya Kancana, Punden Berundak Batu Kerut. Kami masih yakin banyak situs lainnya di kampung ini," kata Agus.
Beranjak dari kenyataan itulah Maki dan beberapa tokoh masyarakat menyelenggarakan acara Seren Taun. "Seren Taun ini tradisi leluhur yang luar biasa. Ini bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan. Masa tradisi seperti ini mau kita tinggalkan dan punah begitu saja?" katanya. [SP/Aa Sudirman]