SUARA PEMBARUAN DAILY

Domina Dharma

Tak Redup di Usia Senja

Abimanyu - Margaretha Dharma Angkauw

Umur boleh terus bertambah, tetapi nada dan gaya bicara Domina Dharma sama sekali tak menunjukkan usianya telah menginjak 82 tahun. Lugas dan te-gas. Menyiratkan vitalitas hidup yang membuat aktivitas dan ide-idenya tak kunjung meredup.

Margaretha Dharma Angkauw, nama lengkapnya. Domina adalah sebutan untuk pendeta perempuan di zaman penjajahan Belanda. Ia lebih akrab dipanggil "domina" oleh sejawatnya kala itu, selepas lulus dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta tahun 1954.

Sebutan domina masih melekat hingga kini. Tak mengherankan, rekan sekerja di Rumah Sakit Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (RS PGI) Cikini juga memanggil dengan sebutan yang sama.

Aktivitasnya memang berfokus pada Komisi Kerohanian RS PGI Cikini. Meski kini tak mengetuai komisi tersebut, ia masih berkantor dari pukul 07.00 hingga 14.00 WIB.

Perempuan asal Bogor itu dikenal sangat disiplin mengenai waktu, seperti penilaian beberapa staf. Latar belakang pendidikan Belanda sejak taman kanak-kanak hingga MULO, sekolah lanjutan pada zaman penjajahan Belanda, rupanya telah membentuk sikap disiplin dalam segala hal.

"Disiplin itu menjadi kunci saya bisa melakukan aneka aktivitas dan mendapat hasil yang maksimal dalam tujuan yang hendak dicapai," tutur Domina Dharma yang pada pagi penggal pertengahan Desember itu, mengenakan baju biru. Bros motif pohon Natal di dadanya tampak serasi dengan baju yang dikenakannya.

Domina Dharma masih aktif dilibatkan dalam rapat-rapat komisi dan didengar pendapatnya sebagai penasihat Yayasan RS PGI Cikini. Saat ditemui di kantornya di tengah kompleks rumah sakit di Jalan Raden Saleh 40 Jakarta Pusat itu, serentetan acara telah menanti sepanjang hari itu.

Karena Dirawat

Dalam percakapan di sela-sela kesibukannya, ia antusias menceritakan awal mula memiliki panggilan menjadi pendeta. Anak sulung dari empat ber-saudara itu mulanya tak berani mencetuskan ide meneruskan ke sekolah teologia kepada siapa pun, kecuali kepada ayahnya.

Siapa sangka ia menjadi pendeta perempuan pertama di Indonesia tahun 1954, lulusan Hogere Theologische School (sekarang STT Jakarta, Red). Usaha Ietje, nama gadisnya, tak semulus jalan tol. Aral melintang justru mewarnai langkahnya untuk mengecap pendidikan teologia.

Minatnya masuk sekolah pendeta terganjal penutupan sekolah itu pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Ietje memasukkan lamaran kembali pada 1946. Rektor STT Jakarta saat itu, Prof Dr AJ Rasker, menolak saat Ietje melamar lagi tahun 1947, tapi ia tak patah semangat. Ia mencoba untuk ketiga kalinya pada 1948, baru kemudian diterima.

Tak beda dengan proses mendaftar, kelulusannya juga tak semulus dugaannya. Ia bahkan gagal di ujian akhir. Perempuan kelahiran 11 Oktober 1925 itu tak patah arang dan mengulang ujian akhir. Akhirnya ia lulus setelah enam tahun menempuh masa studi.

"Perkenalan" Domina Dharma dengan Rumah Sakit Dewan Gereja-gereja di Indonesia (RS DGI Cikini, sebelum menjadi RS PGI Cikini, Red), berawal saat ia dirawat di rumah sakit tersebut selepas memberikan khotbah. Dr Frans Pattiasina, direktur rumah sakit saat itu, langsung memintanya menjadi pendeta penuh waktu.

Meski tak digaji, ia tetap melakukan pelayanan. Apalagi dukungan suami, Mayor John Lie, saat itu, yang justru tak setuju bila ia dibayar untuk pelayanan tersebut. Saat itu, ia masih memegang jabatan di Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). Ia baru bergabung sepenuh waktu pada 1 September 1962.

Sejak bergabung menjadi pendeta di rumah sakit, ia menyumbangkan ide-ide untuk membangun pelayanan kunjungan bagi pasien. Metode yang digagasnya, di antaranya konseling pastoral klinis dan pendekatan holistik pada pasien.

Selain di RS DGI Cikini, Domina saat itu juga menjabat sebagai anggota Badan Pekerja Harian Dewan Gereja-gereja di Indonesia (BPH DGI, Red). Ia turut membidani Asian Church Women's Conference, Maret 1958, bersama lima utusan dari negara-negara di Asia, yakni Filipina, Hong Kong, Thailand, India, dan Pakistan.

Bukan Konseling Biasa

Domina Dharma memang tak memiliki contoh bagaimana menjalankan pelayanan rumah sakit Kristen saat memulai pelayanan. Pendidikan teologi saat itu tak menyiapkan pendeta melayani penuh waktu di rumah sakit, begitu pun di STT Jakarta.

Mengingat kekurangan tersebut, ia menyiasatinya dengan membaca buku-buku dari Eropa dan Amerika Serikat serta belajar dari pengalaman. Benar kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik.

Keterlibatannya dengan BPH DGI dan kesempatan menjadi utusan ke Sidang Raya Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD, Red) di India dan Swedia makin memperkaya jaringan pertemanan di dunia internasional.

Jaringan pertemanan itu dimanfaatkannya untuk saling bertukar pikiran mengenai pelayanan di rumah sakit. Melalui teman-temannya di Asian Church Women's Conference, ia berkunjung ke beberapa negara di Asia Timur. Kunjungan Domina tersebut memfokuskan pada rumah sakit Kristen, pekerjaan perempuan gereja, dan pelayanan sosial gereja di negara-negara tersebut. Ia menerapkan konseling pastoral klinis yang melibatkan pendeta, dokter dan perawat, serta pekerja sosial.

Mengutip artikel Apa Itu Pastoral Konseling karya Dr Yakub B Susabda, pengertian pastoral konseling menyangkut komunikasi yang terjalin antara konselor (pendeta, Red) dan konsele (pasien, Red) untuk mengurai masalah dan mengatasinya. Sedangkan dalam konseling pastoral klinis, Domina Dharma melihat ada kompleksitas masalah yang dihadapi pasien. Kompleksitas masalah itu hanya dapat diurai jika ada kerja sama antara konselor dan paramedis. Tak mengherankan, ia sangat menganjurkan metode pastoral konseling berbasis klinis, artinya pendeta juga harus mempelajari faktor riwayat penyakit dan kondisi fisik pasien.

"Pendeta yang menjadi seorang konselor harus bekerja sama dengan dokter dan perawat untuk mengetahui kondisi dan riwayat penyakit pasien. Kondisi mental dan fisik pasien sangat berpengaruh pada proses kesembuhan," ujarnya.

Mengingat pengalaman dan lamanya Domina Dharma berkecimpung dalam pelayanan pendeta di rumah sakit tersebut, ia juga merasa ikut andil dalam pertumbuhan RS PGI Cikini. Peringatan Natal yang lalu, ia masih ikut andil dalam persiapan acara yang berpuncak pada 24 Desember. Tradisi itu berlangsung sejak zaman Belanda. Staf dan paramedis membawa lilin dan memberikan hadiah kepada pasien.

Domina Dharma mengaku masih memiliki harapan yang belum terwujud. Keprihatinannya pada kaum lansia di lingkungan gereja maupun pada umumnya, kurang menjadi perhatian masyarakat. Padahal, lansia yang masih bisa beraktivitas bila diberi wadah yang positif dapat menyalurkan waktu luangnya dengan kegiatan positif.

Ia sedang membangun wadah itu di GPIB Sumber Kasih di Jakarta Selatan, yang merangkul lansia untuk beraktivitas sesuai dengan latar belakang pengalamannya.

"Misalnya, mantan insinyur bisa membuat taman kecil di gereja, dokter dapat memberi pengobatan gratis kepada jemaat," ia mencontohkan.

Bagi Domina Dharma, usia senja tak menjadi alasan untuk menyurutkan langkah. [Maya Saputri]


Last modified: 28/1/08