SUARA PEMBARUAN DAILY

Warga Banyumas Mulai Mengonsumsi Nasi Oyek

[BANYUMAS] Kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) dan kelangkaan minyak di daerah Banyumas, Jawa Tengah, sangat memukul warga miskin di daerah tersebut. Warga di daerah pegunungan kapur di Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang dan Kecamatan Gumelar, serta daerah minus lain di Wangon dan Rawalo sudah mulai mengonsumsi nasi oyek yang terbuat dari tepung ubi kayu (singkong).

"Sudah sebulan lebih kami mengonsumsi nasi oyek, karena tak mampu lagi beli beras," kata Ngatini (40), seorang ibu dengan tiga anaknya di Desa Darmakradenan, Selasa (29/1) pagi.

Menurut Ngatini, kalau tak ada oyek, keluarganya mengonsumsi pisang rebus yang diurap dengan ampas kelapa. Asal perut terisi dan tidak kelaparan.

Kepala Sub Bagian Kesra Sekretaris Daerah Banyumas, Kristin Lestari tak bisa dikonfirmasi di kantornya. Menurut stafnya, Kristin sedang menjalani perawatan di RSU dr Margono Sukaryo Purwokerto. "Ibu sedang menjalani operasi, dan mulai dirawat di Rumah Sakit tadi malam," kata seorang stafnya.

Beberapa staf yang tak bersedia disebut namanya mengatakan, bantuan pangan untuk warga yang kesulitan sudah tersedia. Bantuan tersebut biasanya dikeluarkan pada saat banjir atau kekeringan atau bencana alam lain.

"Namun, bila benar ada warga yang kekurangan pangan, Ibu biasanya langsung turun ke lapangan memberikan bantuan," ujar staf tadi.

Menurut pengamatan, masalah warga mengganti makanan pokok dari beras ke palawija atau ke oyek atau jenis makanan lainnya, sebenarnya sudah sering terjadi, terutama bila terjadi musim kemarau panjang, dan kekeringan hebat. Warga di daerah pegunungan biasanya kesulitan pangan, dan mengonsumsi palawija sebagai makanan pokoknya, terutama ubi dan singkong.

Kali ini bukan karena kekeringan, tapi karena kenaikan harga kebutuhan pokok yang semakin tak terjangkau masyarakat. Pembagian beras untuk rakyat miskin (raskin) dari Bulog Sub Divre IV Banyumas, rupanya tidak menjangkau daerah tersebut. [WMO/M-11]


Last modified: 29/1/08