![]()
Didit Majalolo
Kerabat mantan Presiden Soeharto merapikan barang-barang dari ruangan lantai 5 tempat Soeharto dirawat di RSPP, Jakarta, Minggu (27/1).
orong menuju President Suite 536 Lantai 5 Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta kembali sepi. Tak ada lagi partisi kayu cokelat yang membelah lorong. Beberapa pria berbaju batik yang biasanya mengamankan lorong pun tidak terlihat.
Keadaan kamar 536 tempat Soeharto sempat dirawat sebelum meninggal dunia masih tampak berantakan, Minggu (27/1) dini hari. Beberapa barang, seperti pakaian, sandal, dan peralatan makan terletak tak beraturan. Hanya seprai yang membungkus tempat tidur tampak rapi di depan beberapa kursi tamu dan sofa yang terletak berhadapan.
Lampu kamar masih dinyalakan, tetapi tirai jendela berwarna hijau ditutup sehingga menimbulkan cahaya berpendar kehijauan jika dilihat dari luar kamar. Jika ingin melihat keadaan dalam kamar hanya melalui kaca kecil berbentuk kotak di pintu masuk kamar tersebut.
Kamar tempat mantan presiden kedua RI dirawat sudah dikunci setelah pembantu keluarga Cendana, Turmidjan, membersihkannya sebagian. Sedangkan kamar di sampingnya, tempat yang biasa digunakan anak-anak dan kerabat untuk istirahat, memang sengaja dimatikan lampunya.
Menurut salah seorang perawat jaga yang enggan disebut namanya, beberapa barang tersebut memang belum sempat dibawa oleh pembantu keluarga Cendana. "Kami sengaja mengunci kamar tersebut karena masih ada beberapa barang yang tertinggal," tutur perawat itu.
Ruang jaga dokter dan perawat di lantai 5 pun tampak lengang. Hanya satu atau dua orang tampak berjaga sambil menahan kantuk. Situasi di tempat itu berbeda dengan keadaan saat mantan presiden tersebut dirawat.
Saat Soeharto dirawat, suasana dini hari di RSPP seperti pasar malam. Apalagi jika berita konferensi pers mengatakan kondisi Soeharto memburuk. Beberapa media massa, terutama media elektronik, mengirim lebih dari satu kru peliputan untuk berjaga di setiap pintu keluar.
Beberapa hari sebelumnya, di pojok sebelah kanan pintu lobi utama, wartawan terlihat menggerombol saling bercengkrama meski waktu telah menunjuk pukul 03.00 WIB. Suasana seperti itu tak lagi terlihat setelah jenazah Soeharto disemayamkan di rumahnya di Jalan Cendana, Jakarta.
Seorang petugas parkir, Azis, mengatakan tempat parkir motor maupun mobil di RSPP sempat membludak saat Soeharto masih dirawat. Pria yang tinggal di Ulu Jami, Ciledug tersebut mengaku pemasukan untuk parkir meningkat sekitar Rp 400.000 per hari.
"Paling ramai parkir mobil saat shift kedua, antara pukul 13.30-19.30 WIB, apalagi banyak wartawan yang ke RSPP," tutur Azis yang biasanya berjaga dari pukul 19.30-07.30 WIB.
Pedagang Gigit Jari
"Kehadiran" Soeharto di RSPP ternyata juga mendatangkan rezeki bagi pedagang di sekitar rumah sakit itu. Sebut saja, pedagang warung kopi dan mi instant, Maman (40 tahun). Dia menengguk pendapatan tujuh kali lipat dari pemasukan hari biasa. Biasanya, pria asal Kuningan, Cirebon, itu mengantongi sekitar Rp 100.000 per hari. Namun, sejak Soeharto dirawat pendapatannya naik menjadi Rp 700.000.
Kopi panas yang mengepul dari warung Maman menjadi daya tarik wartawan yang begadang di RSPP. Menjelang senja hingga subuh tiba, pria jangkung tersebut masih melayani pembeli. "Saya sampai nggak kuat melayani. Saya terpaksa mendatangkan saudara dari kampung untuk membantu," ujar pria yang berjualan di depan RSPP sejak 1983 tersebut.
Setali tiga uang dengan Maman, Udin yang membuka kios dari pagi hingga malam juga merasakan pendapatannya bertambah sejak Soeharto dirawat di RSPP. Kakak ipar Maman yang berjualan rokok dan minuman ringan tersebut biasanya sehari mendapat sekitar Rp 50.000, naik menjadi sekitar Rp 200.000 per hari.
"Biasanya kami berjualan di dekat gerbang masuk RSPP, tapi karena jalanan di sekitar tempat itu mulai macet karena banyak kendaraan masuk, kami dipindahkan di seberang jalan," ujar Mang Adut, adik Maman yang juga berjualan rokok di samping warung kopinya.
Maman mengakui setiap Soeharto dirawat di RSPP, banyak pedagang yang berjualan di depan gerbang masuk rumah sakit tersebut. Ada penjual nasi goreng, sate ayam, dan soto ayam. "Padahal, kalau hari biasa hanya saya dan saudara-saudara saja yang berjualan. Pedagang lain paling cuma lewat sebentar saja," ujar Maman.
Soeharto memang telah berpulang. Kamar 536 telah lengang. Dan, berkibarlah bendera setengah tiang tanda berkabung. Selamat jalan, Jenderal... [Maya Saputri]