hmad Fauzi (53), salah satu dari tiga petugas yang memandikan jenazah almarhum Soeharto, mengaku beruntung dan bangga. Ia menuturkan, dulu ketika Ibu Tien Soeharto meninggal, kakak ibunya yang memandikan jenazahnya.
Tetapi malam itu, sekitar 10 jam setelah memandikan jenazah Soeharto, ia terlihat jenuh. Ia sendirian menunggu di mobil jenazah, sedangkan dua temannya masih di dalam rumah duka. Telepon selulernya berkali-kali berdering. Dua temannya menginformasikan perkembangan terakhir di dalam rumah duka.
Sesekali ia mengumpat kesal. Tampaknya dia sudah lelah dan jenuh. Sepuluh jam lalu tugas dia dan dua rekannya memandikan jenazah Soeharto sudah selesai. Tapi kok belum bisa pulang juga.
"Selama 15 tahun bekerja memandikan dan mengantar jenazah, inilah kali pertama saya menunggu rekan saya memandikan jenazah paling lama. Hampir 13 jam sudah, dan mungkin masih harus menunggu hingga pukul 00.00 nanti," guman ayah satu anak itu ketika di sapa SP di luar kediaman Soeharto, Minggu (27/1) dini hari.
Fauzi kesal karena harus menunggu kedua temannya yakni Said dan Ibrahim berjam-jam di dalam mobil jenazah milik Yayasan Bunga Kamboja (YBK). Mereka bertiga bekerja di yayasan tersebut sebagai orang yang memandikan dan mengantar jenazah.
Ia menuturkan, 13 jam lalu mereka ditugaskan ke Cendana untuk memandikan Pak Harto. Pekerjaan itu, katanya, bukanlah hal baru. Setiap saat mereka berhadapan dengan mayat. Karena itu pula dia sangat yakin memandikan almar-hum Pak Harto tidak sulit. Tetapi kenyataannya lain.
"Saya baru dari dalam (rumah duka, Red). Temanku bilang mereka masih ditahan dan baru bisa keluar seusai menutup kain kafan almarhum sekitar pukul 00.00 WIB. Alasannya, masih banyak pelayat yang datang,'' katanya mengaku setelah memandikan Soeharto langsung keluar rumah duka dan tidak masuk lagi. Ia kemudian menunggu dua temannya di mobil jenazah.
Pekerjaan menunggu memang melelahkan. Ia pun mengisap batang demi batang kretek kesayangannya. Kopi hitam panas sesekali diteguknya sambil melihat tamu yang masih juga datang. Ahmad Fauzi sudah lelah. Rasa kantuk tak tertahan lagi. Ia pun menyandarkan dirinya di samping mobil jenazah B 7724 BO yang terparkir tak jauh dari rumah duka.
Jam menunjukkan pukul 00.30 WIB. Di tengah keheningan malam, petugas patroli polisi, melalui alat pengeras suara, tiba-tiba meminta warga meninggalkan Jalan Cendana. Pasalnya, lima batalyon dari TNI AD, AL, AU, dan Polisi serta Kopassus akan mengikuti gladi resik upacara pelepasan Pak Harto.
Fauzi terbangun mendengar suara aparat yang meminta warga menjauhi rumah duka. Sekadar menghibur diri sambil menunggu temannya yang belum juga keluar, ia melanjutkan ceritanya terkait tugasnya di YBK. Lima belas tahun bekerja mengantar jenazah, kata Fauzi, banyak hal menarik yang dialaminya. Ada suka dan duka.
Dia menuturkan, YBK sering dipakai mengantarkan jenazah pejabat dan artis. Walau mengaku penghasilan tiap bulannya hanya Rp 1,5 juta, pria yang tinggal di kawasan Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan itu, mengaku kerap mendapat rezeki tambahan berupa tip yang diberikan oleh keluarga yang berduka atas pelayanannya. Besarnya pun bervariasi antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000.
Menjadi tukang mandi dan mengantar jenazah, katanya sudah biasa. Dulu, di awal-awal menjalani profesi tersebut, ia mengaku takut dan panik. Pertama kali ia ditugaskan mengantar jenazah ke Solo, Jawa Tengah. Perasaannya ketika itu tidak karuan. Dan untuk mengatasi rasa takutnya, dia selalu mengikuti mobil di depannya agar jangan sampai kehilangan jejak, terutama di jalan yang sepi.
"Kalau sekarang sudah biasa dan tak takut lagi. Oh ya, dulu pun saat istri Pak Harto, Ibu Tien meninggal, kakaknya ibu saya yang memandikan. Kini saat Pak Harto meninggal saya yang menunggu dan memandikan jenazahnya," paparnya. [Ari Supriyanti Rikin]