
[JAKARTA] Tokoh nasional Jusuf Ronodipuro (88) wafat Minggu (27/1) di Jakarta sekitar pukul 23.30. Kematian sosok sederhana yang di awal kemerdekaan dengan berani mengambil risiko besar membacakan teks Proklamasi melalui siaran radio itu, bisa jadi tidak menjadi perhatian banyak pejabat tinggi negara ini.
Gelombang pemberitaan besar-besaran mengenai meninggalnya mantan Presiden Soeharto, seakan menyedot seluruh energi bangsa ini. Segenap menteri dan pejabat tinggi terlihat mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam upacara pemakaman Soeharto di Astana Giribangun, Karanganyar.
Hanya Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono yang menyediakan waktunya untuk datang ke rumah duka almarhum Senin pagi. "Pak Juwono memang sangat rajin menengok sejak Bapak sakit. Pak Juwono juga yang menyempatkan diri datang ke rumah sebelum Bapak dimakamkan di Kalibata," tutur Dharmawan Ronodipuro, putra almarhum.
Sejak terserang stroke Juni 2007, Jusuf beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Sebelum meninggal, ia dirawat di RS Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Al marhum yang lahir di Salatiga, 30 September 1919 meninggalkan seorang istri, tiga anak dan tujuh cucu.
Menurut Antara, Jusuf merupakan pemekik awal slogan RRI "Sekali di Udara, Tetap di Udara!" yang hingga saat ini masih digunakan oleh semua penyiar RRI . Pria kelahiran tahun 1920 ini mencatat sejarah ketika meminta Presiden Soekarno mendeklarasikan ulang kemerdekaan Indonesia untuk direkam sebagai bukti sejarah.
Jusuf yang merupakan sahabat mantan Presiden RI Soekarno pernah menjadi Sekjen Departemen Penerangan. Departemen Luar Negeri pernah menugaskannya di Inggris dan Markas PBB New York. Pada era pemerintahan Soeharto, Jusuf dipercaya sebagai Duta Besar RI di Buenos Aires.
Almarhum dimakamkan dalam upacara militer yang berlangsung singkat di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pemakaman sosok yang bersahaja ini dihadiri Direktur Radio Republik Indonesia (RRI), Parni Hardi dan sejumlah jurnalis senior, seperti Aristides Katoppo serta sejumlah pegawai RRI. [A-14]