SUARA PEMBARUAN DAILY

Konflik Kenya Berkembang Jadi Kekerasan Etnis

[NAIVASHA] Konflik yang membara sejak pemilihan presiden di Kenya, akhir Desember 2007, tak kunjung padam. Pertikaian antara kubu Presiden Mwai Kibaki yang menang pemilu dan oposisi yang dipimpin Raila Odinga malah makin memanas dan merenggut korban.

Kekerasan terus bergulir terutama di sisi barat Provinsi Rift Valley sehingga merusak upaya mediasi yang dipimpin mantan Sekjen PBB Kofi Annan. Jumlah yang mati kian bertambah menjadi 800 orang.

Ribuan pemuda bersenjata tajam menyerang dan membakar bus serta rumah-rumah. Mereka memblokade jalan dengan ban yang dibakar untuk mencari orang-orang dari etnis Kikuyu, yang menjadi pendukung Presiden Mwai Kibaki. Seorang pengemudi bus dari suku Kikuyu dibakar hidup-hidup dalam busnya.

"Jalanan digenangi darah, terjadi kekacauan," tegas Barak Karama, jurnalis dari televisi independen Kenya, di Kisumu, Minggu.

Menurut kepolisian Kenya, sedikitnya 179 orang tewas akibat bentrok antaretnis yang terjadi selama empat hari terakhir. Bahkan diakui hampir 50 orang tewas selama 24 jam terakhir. Sebagian besar tewas ditembak polisi karena berusaha melakukan pembantaian.

Bekerja Sama

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Sean McCormack mengatakan para pemimpin Kenya harus bekerja sama mencapai kesepakatan politik demi mengakhiri kekerasan, sebelum situasi parah.

Dia mengaku telah berbicara dengan Annan, tapi tidak ada rencana memberangkatkan lagi wakil Washington untuk Afrika, Jendayi Frazer, setelah kunjungan yang gagal, pada awal Januari.

Uni Eropa mengancam bakal menghentikan pemberian bantuan dana pada Kenya, sebelum Kibaki dan Odinga menunjukkan keseriusan mereka dalam mencari solusi untuk mengakhiri krisis. [AFP/B-14]


Last modified: 28/1/08