SUARA PEMBARUAN DAILY

Tiongkok Didera Badai Salju

AFP

Ribuan penumpang kereta api menunggu di atas salju di Hefei, Provinsi Anhui, di timur Tiongkok, Minggu (27/1). Hujan salju yang terburuk selama 50 tahun terakhir mengganggu jaringan lalu lintas

[BEIJING] Hujan salju hebat yang melanda beberapa provinsi di Tiongkok membuat ribuan orang tak dapat beraktivitas. Jaringan kereta api tidak berfungsi normal sehingga ribuan penumpang yang hendak pulang kampung menjelang Tahun Baru Imlek tertahan di terminal, stasiun maupun bandara.

Ini merupakan musim salju terberat dalam setengah abad terakhir, yang bisa mengakibatkan kekurangan energi dan bencana transportasi. Badan Meteorologi Tiongkok, Selasa (29/1), memperingatkan badai salju yang hebat akan turun pada beberapa hari mendatang.

Di Guangzhou, sekitar 500.000 orang terjebak tak dapat melanjutkan perjalanan menuju Beijing. Ratusan ribu pelancong di kota-kota lain dilaporkan masih tertahan di bandara, stasiun kereta, dan jalan raya, di tengah perjalanan mereka menemui keluarganya untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Belasan bandara di seluruh Tiongkok sendiri, dilaporkan ditutup karena landasan pacu dipenuhi salju membeku.

Pejabat resmi bandara Hongqiao di Shanghai, mengatakan sebagian besar penerbangan dibatalkan pada malam hari. Sementara juru bicara bandara Hong Kong mengatakan lebih dari 40 penerbangan antara Hong Kong dan Tiongkok juga dibatalkan, atau ditunda selama dua hari terakhir.

Pada akhir pekan lalu setidaknya belasan orang meninggal, dan ribuan lainnya terluka dalam kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan cuaca buruk. Sementara Menteri Penerangan menyebut 24 orang tewas sejak 10 Januari. Kantor berita Xinhua melaporkan, paling tidak terjadi kerugian sebesar 22 triliun yuan, atau US$ 3 juta.

Perdana Menteri Wen Jiabao memerintahkan para pejabat untuk melakukan langkah antisipasi. Wen meminta mereka memobilisasi semua sumber daya dan memberikan perhatian khusus guna menjamin distribusi energi.

"Upaya menjamin suplai batu bara, listrik, minyak, serta transportasi yang memadai, menjadi keharusan," ujarnya, dalam rapat kabinet.

Menurut keterangan pemerintah Tiongkok, persediaan batu bara untuk pembangkit listrik tinggal 21 juta ton, kurang dari setengah pada kondisi normal. Di 17 provinsi, telah dilakukan penyesuaian kebutuhan energi, di antaranya dengan menerapkan pemadaman di sejumlah kawasan. Menteri Perkeretaapian mengumumkan, sistem kereta api rel akan diprioritaskan untuk mengangkut batu bara sebagai kebutuhan utama energi Tiongkok.

Lebih dari 150.000 orang, Minggu, dilaporkan tertahan di stasiun kereta Guangzhou, dengan padamnya listrik yang mengakibatkan paling sedikit 136 kereta listrik dari Provinsi Hunan, tidak bisa tiba di Guangzhou. Sementara stasiun kereta api menghentikan penjualan tiket hingga 6 Februari. [AFP/B-14]


Last modified: 28/1/08