SUARA PEMBARUAN DAILY

Kesenian Wayang Catur Kurang Dikenal

Tidak banyak yang mengenal kesenian asli tanah Parahyangan, Wayang Catur. Hanya segelintir orang yang peduli melestarikan seni bertutur ini. Salah satunya adalah Samedi. Di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, akhir pekan lalu, dia menggelar pertunjukan Wayang Catur.

Samedi, lelaki asal Bandung ini mengisahkan, Wayang Catur adalah salah satu kesenian dari tanah kelahirannya yang pamornya lambat laun mulai pudar. Kesenian ini hanya mengandalkan kepiawaian dalang membawakan cerita, sekaligus memainkan musik.

"Pertunjukan ini adalah seni bertutur, layaknya seni bertutur dari Aceh atau dari daerah lainnya. Sebenarnya tidak hanya seni bertutur dari Sunda saja yang pudar. Seni bertutur dari daerah lain pun mengalami hal yang sama," ujarnya.

Wayang Catur memiliki sejarah tradisi yang panjang dalam budaya Sunda. Namun, dalam perkembangan kesenian ini memiliki pasang surut, terutama tantangan pada masa pendudukan Jepang.

"Dahulu wayang ini sama seperti Wayang Golek atau wayang lainnya yang memiliki durasi pertunjukan semalam suntuk. Tetapi saat pendudukan Jepang, Wayang Catur sempat dilarang karena dianggap dapat memprovokasi. Para seniman saat itu berupaya agar larangan dicabut, hingga akhirnya pemerintah pendudukan Jepang hanya mengizinkan pertunjukan untuk tiga jam saja," jelasnya.

Wayang Catur adalah seni pertunjukan yang mengandalkan kepiawaian dalang untuk membawakan cerita. Wayang ini tidak menggunakan alat untuk menampilkan karakter-karakter dalam cerita. Dalang hanya menceritakan munculnya karakter, sehingga penonton dapat berimajinasi seperti yang dituturkan dalang. Selain itu, dalang juga harus piawai menampilkan karakter dalam cerita melalui olah suara dan permainan kecapi.

Tantangan

Sebagai seni pertunjukan tradisional, tantangan Wayang Catur tidak kalah berat dengan seni tradisional lain yang tergerus zaman. Dorman Borisman, pemain teater, usai pertunjukan menyebutkan, kekuatan Wayang Catur ada pada kemampuan dalang dalam olah vokal, termasuk memunculkan karakter dalam cerita.

Selain memuji kekuatan dalang dalam Wayang Catur, Dorman mengatakan, seniman Wayang Catur harus bisa mencari bentuk sendiri yang disesuaikan dengan kondisi saat ini.

"Kalau sekedar menjaga tradisi, saya pikir sudah dilakukan dengan baik. Tetapi bagaimana setelah itu. Harus ada yang lebih untuk tradisi ini agar semakin dikenal luas dan semakin banyak yang mencintainya. Mungkin kuncinya adalah entertainment, semua seni pertunjukan umumnya adalah hiburan. Jadi tantangannya adalah bagaimana membuat seni ini benar-benar dapat diterima kondisi sekarang," ujarnya. [K-11]


Last modified: 28/1/08