SUARA PEMBARUAN DAILY

"Howl Under the Moon"

Kim Manri Tampil Solo

SP/Unggul Wirawan - Kim Manri

[JAKARTA] Cacat fisik bukanlah menjadi halangan untuk berkarya di bidang teater. Justru keterbatasan fisik membuat penulis skenario dan pimpinan teater Taihen Troupe dari Kobe Jepang, Kim Manri mampu mengolah keterbatasan itu menjadi suatu ekspresi tubuh di atas panggung teater yang sudah ditampilkan di berbagai negara.

Kini, Manri yang keturunan Korea ini berkesempatan menampilkan karyanya berjudul Howl under the moon selama dua hari, 30-31 Januari di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Dia akan tampil secara solo, dan tanpa narasi membawakan pertunjukan yang diinspirasi cerita klasik Jawa Panji Semirang. Hanya musik klasik dan gamelan Bali yang akan mengiringi pementasannya.

Teater yang dibentuk 25 tahun lalu ini, memang berbeda dengan kelompok teater lain. Pasalnya, seluruh pemain yang berjumlah delapan orang adalah penyandang cacat. Manri sendiri tidak bisa berjalan karena penyakit polio yang pernah dideritanya.

Dalam kunjungan kantor SP, Senin (28/1) dia harus dibantu asistennya. Meski demikian, menurut perempuan yang sudah menghasilkan 54 karya teater ini, fisik yang tidak sempurna tidak membuat dia dan rekan-rekannya berhenti berkarya. Padahal, sekalipun cacat, mereka tidak menggunakan alat bantu setiap kali pentas. Hanya baju pentas yang menempel di tubuh mereka.

Berdasarkan pengalaman Manri tampil di berbagai negara, pertunjukan teater yang menonjolkan ekspresi tubuh bisa diterima penonton, walaupun proses untuk sampai ke sana berat dan lama. Taihen Troupe telah tampil di Kenya, Inggris, Swiss, Singapura, Jerman.

"Pertunjukan saya tanpa monolog, tetapi mengandalkan ekspresi tubuh. Pertunjukan semacam ini diterima di berbagai negara," ujarnya.

Mengubah Citra

Pementasan di TIM merupakan yang pertama baginya di Indonesia. Dia ingin memperkenalkan pertunjukan teater yang diawaki penyandang cacat. Menurut Manri, Taihen Troupe adalah kelompok teater seniman difabel profesional pertama di dunia. Dalam pertunjukan teater itu, dia juga berperan sebagai sutradara dan pemain. Untuk, penampilan solo di Teater Kecil, TIM, dia ingin mendapat respons atas karyanya yang Howl under the moon yang terinspirasi Hikayat Panji Semirang.

Manri yang juga banyak terinspirasi seniman Butoh, Yoshito Ohno dalam pementasannya, tertarik dengan kisah Panji Semirang yang dibacanya dalam bahasa Jepang. Dia tertarik dengan sosok perempuan dalam kisah itu dan ingin mengubah citra perempuan lewat karya tari Howl under the moon (lolongan di bawah purnama).

Howl under the moon terdiri atas lima adegan, yaitu Wolf, Moon, A witch masquerading as a man, Heart, Panji Semiran's love. Dalam menciptakan karya itu, menurutnya, dia tidak melakukan observasi ke Indonesia.

Manri yang sudah 24 tahun berkecimpung di bidang seni olah tubuh, ingin menciptakan karya dari sudut pandang yang unik sebagai penyandang cacat.

Ini pula yang membuat dia ingin mengubah pandangan orang terhadap penyandang cacat. Pasalnya, sebagian orang menganggap penyandang cacat kurang mampu berkarya, khususnya karena ada ketergantungan pada alat-alat bantu.

"Selama ini citra penyandang cacat adalah orang yang membawa tongkat, dan peralatan lain. Tetapi pada pertunjukan Taihen Troupe, semua itu tidak ada," tambah Manri yang pernah tinggal selama tiga tahun di Malaysia. [N-4]


Last modified: 28/1/08