![]()
SP/Ignatius Liliek
Pianis Martin Cousin bersama dengan Iuventus String Quartet tampil pada program pertunjukan musik klasik di Goethe Haus, Jakarta, Senin (28/1). Pada pertunjukan ini Martin dan Iuventus String Quartet memainkan sejumlah komposisi karya komposer dunia seperti Haydn, Beethoven, dan Dvorak.
idak heran penampilan kuartet violis asal Inggris, Ruth Rogers, Victoria Sayles, Rose Radgrave, dan Katherine Jenkinson mendapat sambutan hangat penonton di Goethe Haus, Jakarta, Senin (28/1) malam. Mereka mampu menyuguhkan dengan apik komposisi ornamental Beethoven yang khusus dibuat untuk aksi kuartet.
Komposisi Quartet in F major Op 18 No 1 termasuk karya awal Beethoven yang terpengaruh gaya Mozart dan Hadyn. Komposisi ini adalah karya kedua yang ditulis Beethoven untuk penampilan kuartet pada tahun 1799. Beethoven membuat komposisi ini untuk Pangeran Lobkowitz, namun tahun 1801 dia merevisinya.
Seperti permainan Iuventus String Quartet, komposisi Quartet in F major Op 18 No 1 adalah karya yang penuh ornamental. Pada bagian awalnya memang terdengar ringan, namun permainan string seolah saling bersahut-sahutan. Pada bagian lain, violin pertama terdengar dalam melodi liris. Permainan ini ditingkahi dengan tiga violis lain yang bermain dalam suara yang lebih lembut.
Hal itu tidak lepas dari kekompakan Iuventus String Quartet yang tampil juga bersama pianis asal Skotlandia, Martin Cousin. Keempat violis yang bergabung dalam Iuventus String Quartet tersebut, malam itu begitu anggun. Mengenakan gaun panjang hitam polos, penampilan mereka benar-benar memesona. Setiap ayunan gesekan biola memberikan kesegaran sekaligus ketentraman bagi sekitar 50 penonton.
Diawali dengan menyajikan empat musik klasik ciptaan "Bapak Simfoni" atau asal Austria, Franz Joseph Haydn dalam C Mayor Opus 74, yakni Allegro, Andantino Grazioso, Allegro (menuet), dan Vivace (final), Ruth Rogers dan kawan-kawan membawa penonton memasuki dimensi alam yang tenang dan damai.
Harus diakui, kekuatan berkomunikasi di antara keempat violis tersebut begitu sempurna, sehingga setiap gesekan biola mulai dari irama lembut hingga cepat seperti dalam kuartet musik karya Haydn yang disebut sebagai "Apponyi" (nama seorang bangsawan Anton Georg Apponyi) dan ditulis tahun 1793, mereka berhasil menyatukan sebuah tekanan ketentraman, gaya sensitif, kata-kata yang elegan, serta intonasi yang sempurna.
Ruth Rogers misalnya. Pemenang Manoug Perikian Award ini sering menarik napas dalam-dalam sebelum memulai gesekan biolanya. Bukan itu saja, di saat musik sedang dimainkan, di antara keempat violis tersebut sering saling pandang dan tersenyum. Ini sebagai pertanda adanya keselarasan dari hati mereka dalam memainkan nada-nada yang indah dan penuh emosional dari biola yang digesek Ruth Redgrave, dan Sayles, serta selo yang dimainkan Jenkinson.
"Gesekan biola saya selalu menjadi awal dari kehidupan dalam memainkan musik klasik. Saya harus merasakan bahwa musik itu harus masuk ke seluruh organ tubuh saya, sehingga saya bisa merasakan keindahannya. Dari musik inilah saya dapat mengenal suasana hati sang penciptanya, dan saya berusaha untuk merasakannya," kata Ruth yang pernah mentas di Yogyakarta,pada tahun 2006.
Setelah membawa penonton duduk dalam ketentraman hati, keempat violis ini gantian memainkan kuartet musik karya komponis musik klasik kelahiran Bonn, Jerman, Ludwig van Beethoven dalam F Mayor Opus 18, yaitu Allegro Con Brio, Adagio Affettuso Ed Appassionato, Scherzxo & Tiro, dan Allegro.
Setelah kuartet musik yang dibuat Beethoven awal tahun 1979 ini usai dimainkan, keempat violis ini pun beristirahat selama 15 menit. Setelah itu, para penonton kembali ke tempat duduknya. Mereka seperti tidak sabar ingin menyaksikan biola kuartet violis tersebut berkolaborasi dengan pianis yang telah memenangkan Ettore Pozzoli International Piano Competition 2-5 dan peraih Gold Medal pada Royal Overseas League Music Competition, Martin Cousin.
Bersama, Cousin yang menjadi penerus dari musisi-musisi kelas dunia pendahulunya seperti Maurizio Pollini dan Jaqueline DuPre, kuartet violis tersebut memainkan salah satu musik karya mini dari seorang komposer kelas dunia, Antonin Dvorak, yaitu Kuintet Piano dalam Opus 81.
Melalui sentuhan jemari Cousin di atas tuts piano dan dipadu oleh gesekan biola serta selo keempat dewi dari Inggris tersebut, musik ciptaan Dvorak tahun 1887 atau ketika sang komposer sedang berada di puncak kematangan artistiknya ini, benar-benar menjadi puncak dari konser ini.
Sambutan penonton juga paling hangat setelah komposisi Dvorak. Itu sebabnya ketika kelima musikus tersebut menyampaikan salam perpisahan dan meninggalkan panggung, para penonton pun seolah tidak mau beranjak dari kursinya.
Penonton terus memberikan tepuk tangan, tanpa henti, hingga Iuventus Quartet sampai tiga kali harus keluar masuk panggung. Tepukan penonton itu sepertinya menjadi tanda bahwa mereka belum puas dengan sajian tadi, sehingga Iuventus Quartet diminta untuk memainkannya lagi. Namun, keterbatasan waktu dan menghargai jadwal, para musikus pun enggan untuk tampil lagi.
Setelah memberikan ketentraman di Goethe Haus Jakarta, Iuventus Quartet akan sekali lagi manggung di ibu kota yaitu di British School Jakarta. Dan, pada hari Rabu (30/1), mereka akan bertolak ke Bangkok, Thailand, untuk mentas di daerah perbatasan. [F-4]